Tukang Obat Nasibmu Kini

Tukang Obat Nasibmu Kini
Anwar Rachman

Oleh: Anwar Rachman

PENANGKAPAN Sugik Nur oleh Bareskrim Mabes Polri akibat “kepinteren ngomong” karena konon katanya Sugik Nur dulu itu profesinya memang tukang obat di pinggir jalan atau orang Jatim bilang “bakul jamu” kemarin, mengingatkan saya pada tahun 1978-1980 an di masa masa saya masih didesa.  Waktu itu listrik belum ada, pesawat TV pake aki, jangankan HP telepon rumah pun belum masuk desa. 

Setelah maghrib, sering ada penjual obat dengan memakai lampu petromak sedang dikerumuni warga dan saya ikut bergabung dengan warga lain menonton kelihaian penjual obat dalam menjelaskan manfaat obat kepada penonton. Saya senang menonton penjualan obat, bukan karena saya sakit atau sedang mencari obat. Tapi bagi saya, waktu itu penjual obat itu adalah guru untuk belajar ilmu berbicara atau public speaking.

Bakul Jamu bukan lulusan fakultas Kedokteran atau Fakultas  Farmasi atau lulusan ilmu komunikasi atau sarjana agama, namun dalam menjelaskan manfaat obat, sangat meyakinkan bagi orang awam. Keahliannya dalam mempromosikan obat kita angkat jempol. Kemampuan dalam berbicara juga menjadi syarat utama untuk profesi ini. Mereka mampu menarik orang untuk datang, menonton, membangkitkan minat membeli obat, berbicara tanpa konsep selama berjam-jam lamanya. Ilmu itu semua ada pada bakul jamu.

Ada dalil yang dipakai oleh hampir semua bakul jamu: kullu daa’in dawaaun. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Begitu yang pake atraksi sulap, debus, sihir : Tunggal guru  tunggal ilmu ojo ganggu, ini bukan pamer ilmu, bukan pamer kekuatan, saya datang sekedar ingin menunjukkan sebuah keajaiban, golek seduluran duaar! 

Itulah kutipan kalimat dalam menawarkan berbagai macam obat, mulai dari obat kuat, penambah stamina, ramuan kekebalan tubuh, pesugihan sampai ramuan untuk memikat lawan jenis. 

Penonton berjubel dan antusias mendengarkan “ceramah” bakul jamu tersebut dan nampaknya memang bakul jamu harus berpengalaman dan ahli menyihir penonton, sehingga berkali-kali penonton bertepuk tangan menyaksikan atraksi yang disuguhkannya, padahal mereka juga tdk pernah belajar ilmu retorika.

Sesekali tangan kanannya seperti menggenggam udara sekitar yang diembuskan dan dihirup lagi berulang-ulang, sementara tangan kanannya memegang mikrofon. Selain menguasai medan, dia juga tahu betul mendayagunakan mikrofon dan speaker corong. Suara badai, ombak, dan halilintar dia keluarkan dari mulutnya pada saat yang tepat, termasuk menjelang dan setelah melafalkan mantera. 

Seiring dengan perkembangan zaman serta kemajuan ilmu dan teknologi, profesi “bakul jamu” tersebut telah sirna tergerus oleh peradaban moderen. 

Saat ini di seluruh pelosok desa, telah teraliri listrik, semua rumah punya TV, HP, ada Bidan Desa, Puskesmas, dokter, apotek dan lainnya. Selain itu, dahulu masyarakat di desa  rata-rata berpendidikan SD bahkan drop out SD sehingga mudah dibohongi dengan uraian yang kelihatan agak sedikit ilmiah dan dibumbui dengan dalil-dalil agama.

*Dr.  Anwar Rachman SH, MH, mantan anggota DPR/RI 2014-2019.