Tudingan Konspiratif dan Penolakan Vaksinasi

Tudingan Konspiratif dan Penolakan Vaksinasi
Ilustrasi

Oleh: Imas Senopati

ANEH SAJA kalau masih ada yang menganggap Covid-19 itu konspirasi antara pemerintah dengan industri obat, para dokter, dan pemerintah. Dampak dari merebaknya virus asal Wuhan itu membuat produsen obat-obatan dan alat kesehatan untung besar memang iya. Tapi itu kan logis saja, sesuai hukum ekonomi, antara supply dan demand. Terus di mana konspirasinya dengan para dokter? Di Indonesia ratusan dokter meninggal akibat Covid-19, ribuan tenaga medis lainnya juga lewat. Apalagi dalam skala global, mungkin korban dokter dan nakes meninggal sudah ratusan ribu bahkan jutaan orang.

Pemerintah berkonspirasi? Dana ratusan triliun rupiah dialokasikan pemerintah RI untuk menanggulangi Covid-19. Badan Pemerika Keuangan (BPK) mencatat total anggaran penanganan Covid-19 mencapai Rp 1.035,2 triliun. Anggaran penanganan Covid-19 itu berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebesar Rp 937,42 triliun, kemudian dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sebesar  Rp 86,36 triliun dan dari sektor moneter sebesar Rp 6,50 triliun. Akibat pandemi Covid-19 pertumbuhan ekonomi ngos-ngosan, jumlah penganggur terus membengkak, Banyak dana yang tadinya dianggarkan untuk pembangunan infrastruktur dialihkan untuk menolong masyarakat yang hidupnya megap-megap karena Covid. Pejabat negara dari Presiden, sampai Camat dan Lurah, semua bekerja tak kenal lelah sejak Maret 2020 hingga saat ini demi menghentikan laju pandemi Covid, aparat sipil dan militer dikerahkan. Banyak di antaranya yang kemudian meninggal, setidaknya terpapar virus yang mematikan itu. Dunia pendidikan amburadul. Para pejabat, tenaga pendidik, dan para orang tua pontang-panting melayani model sekolah dan kuliah yang terpaksa berubah. Kualitas pendidikan pun terdampak. Tenaga kerja di hampir semua sektor mengalamai penderitaan tak terperi, terkena PHK, dirumahkan, pengurangan gaji, dan sebagainya.

Pemerintah mana pula yang tega melihat puluhan ribu rakyatnya meregang nyawa dihantam Covid? Sejumlah fakta ini cukup untuk menjawab tudingan bahwa covid-19 ini produk konspiratif. Jika hanya menuding dalam hati sebenarnya tidak terlalu mengganggu. Repotnya di tengah masyarakat yang dicekam kecemasan ada pihak-pihak yang sengaja memancing di air keruh. Tidak hanya menyudutkan pemerintah, menyebut para dokter mengkomersilkan Covid, juga menyebut otoritas kesehatan menjadi antek WHO dan sebagainya. Mereka tidak melihat semua negara di dunia dilanda pandemi yang sama. Ada yang keberatan masjid di zona merah tidak difungsikan, pemberangkatan jamaah haji ditiadakan. Lalu ada yang memprovokasi untuk melawan pemerintah yang zalim, melengserkan Presidennya dan seterusnya. 

Ketika penanganan Covid berjalan, gerakan vaksinasi dilakukan masif, muncul pula aksi penolakan. Ada yang datang dari gedung parlemen, para pendakwah, dan para avonturir lewat media sosial maupun tempat-tempat ibadah. Vaksin bisa menyebabkan kematian, penggumpalan darah, menggunakan unsur haram dan sebagainya. Mereka tidak melihat manfaat vaksin secara  komprehensif. Mereka juga tidak melihat gerakan vaksinasi di banyak negara yang berhasil menurunkan secara drastis jumlah orang yang terpapar covid. Kita tidak menutup mata memang ada kasus kegagalan vaksin, tapi persentasenya sangat kecil dibanding efikasinya. Kegagalan satu dua kasus mereka generalisasi dan politisasi sebagai kegagalan menyeluruh. Celakanya kegagalan satu-dua vaksinasi disimpulkan sebagai kegagalan pemerintah melindungi rakyatnya. 

Terhadap yang takut divaksin kita bisa memaklumi. Kegagalan beberapa kasus vaksinasi juga sudah diperkirakan. Kita punya pengalaman dalam masa balita dulu berbagai jenis vaksinasi kita terima, ada yang kemudian tak terbentuk kekebalan. Tapi sekali lagi, persentasenya kecil. Yang kita sesalkan adalah adanya pihak yang nyinyir dengan sengaja menolak vaksin untuk mendiskreditkan pemerintah. Membesar-besarkan hal kecil yang berdampak pada kecemasan sebagian masyarakat. Bahwa vaksin masih dianggap sebagai bagian dari “komersialisasi” covid, bagian dari konspirasi pemerintah, para dokter, dan kalangan industri obat. 

Sebaiknya kita tak perlu terlalu mempedulikan gangguan dari kaum penyinyir. Ibarat anjing menggonggong biarlah kafilah tetap berlalu. Program vaksinasi harus tetap berjalan. Kita mesti tetap fokus pada tujuan vaksinasi adalah upaya negara dalam melindungi masyarakatnya dari ancaman pandemi Covid-19 dan demi tercapainya kekebalan komunitas atau herd immunity. Untuk menciptakan herd immunity, jumlah masyarakat yang telah divaksinasi harus mencapai 70 persen dari total jumlah penduduk atau sekitar 189 juta orang. Kita dukung target satu juta orang dalam sehari yang dicanangkan Presiden Jokowi. Bahkan target itu akan ditingkatkan 3 juta orang dalam sehari. Nah, bagian mana lagi yang dianggap konspiratif? 

Penanganan Covid-19 dan vaksinasi adalah misi mulia untuk bangsa.