Tragedi Penembakan Masjid Selandia Baru Akan Difilmkan, Muslim Protes Keras

Tragedi Penembakan Masjid Selandia Baru Akan Difilmkan, Muslim Protes Keras
Petugas kesehatan membawa seorang korban penembakan di sebuah masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat, 15 Maret 2019. (AFP)

WELLINGTON, SENAYANPOST.com - Muslim di Selandia Baru dengan tegas menolak pembuatan film mengenai tragedi penembakan jemaah Sholat Jumat di dua masjid Christchurch pada 2019. 

Alasannya serangan oleh pria Australia Brenton Tarrant yang menewaskan 51 orang itu masih sangat berbekas oleh keluarga para korban. 

"Masih banyak kepekaan seputar peristiwa tragis ini. Meskipun pernyataan perdana menteri kami terhadap serangan memang pantas, kami mempertanyakan waktu dan apakah film ini tepat saat ini? Serangan teroris masih berbekas pada masyarakat kami," kata Juru Bicara Asosiasi Muslim Canterbury, Abdigani Ali, dikutip iNews dari Reuters, Jumat (11/6/2021). 

Dia menyadari kisah penembakan itu memang perlu diceritakan kembali, namun harus dilakukan dengan cara yang tepat, otentik, dan memperhatikan kesensitifan.

Dilaporkan Hollywood Reporter, film berjudul 'They Are Us' itu akan fokus menggambarkan respons Perdana Menteri Jacinda Ardern terkait serangan pada 15 Maret 2019 tersebut. 

Judul yang digunakan pun diambil dari pernyataan Ardern saat memberikan komentar pada hari kejadian.

Ardern langsung bertindak, memberikan respons penuh kepada keluarga korban serta menyatukan sikap negaranya, yang menuai pujian internasional. 

Sementara itu Ardern menegaskan bahwa pemerintah tidak terlibat dalam pembuatan film bahkan cenderung menjaga jarak. 

Aktris Australia Rose Byrne akan memerankan Ardern dalam film yang digarap sutradara Selandia Baru Andrew Niccol itu, yang sekaligus menjadi penulis. 

Niccol mengatakan, 'They Are Us' tidak banyak menggambarkan serangan tapi sekadar respons yang ditunjukkan Ardern. 

"(Film ini) Kisah yang menginspirasi tentang respons seorang pemimpin muda terhadap peristiwa tragis," ujarnya. 

Seniman muslim Mohamed Hassan mempertanyakan bahwa film ini akan fokus pada respons pemerintah. 

"Ini bukan kisah yang menginspirasi. Ini adalah tragedi yang harus selalu berpusat di sekitar para muslim yang menjadi korban serta keluarga mereka, bukan orang lain," kata pria yang juga jurnalis di Auckland itu. 

Penolakan film 'They Are Us' ramai di media sosial sehingga menjadikan tanda pagar #TheyAreUsShutDown trending di Twitter Selandia Baru.