Tiba di Tanah Air, Anggun Anggap Karantina Liburan Kecil

Tiba di Tanah Air, Anggun Anggap Karantina Liburan Kecil

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Anggun C Sasmi menggugah aktivitasnya saat menjalani karantina di Jakarta usai tiba dari luar negeri. 

Anggun diketahui baru pertama kali menjalani karantina dan menilainya sebagai "liburan kecil" bersama suaminya.

Dalam unggahan di media sosialnya, Rabu (26/10), Anggun menyebut telah menghabiskan tiga dari lima hari karantina bersama sang suami, Christian Kretschmar. Ia menyebut memanfaatkan karantina untuk menghilangkan jet lag.

"Baru merasakan dikarantina begitu masuk Indonesia, sekarang hanya lima hari. Penting sekali untuk mematuhi peraturan demi keselamatan semua," kata Anggun dikutip CNN Indonesia.

"Jika diharuskan melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan, seperti karantina ini, penting sekali untuk melihatnya dari sisi positif," lanjutnya.

"Jadi bagi saya dan suami, kami menganggap ini sebagai "liburan kecil" untuk menghilangkan jet lag, jadi dinikmati sajaaa," katanya.

Pemerintah sebelumnya menetapkan kepada seluruh pelaku perjalanan internasional yang tiba di Indonesia diwajibkan menjalankan karantina selama 5x24 jam atau lima hari.

Aturan tersebut dimuat dalam Surat Edaran (SE) Nomor 20 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dan berlaku mulai 14 Oktober 2021 hingga waktu yang ditetapkan kemudian.

Selain karantina selama lima hari dan melaksanakan prokes, pelaku perjalanan internasional juga wajib melakukan tes PCR dan divaksinasi dosis lengkap.

Saat ini, Indonesia masih berisiko menghadapi kenaikan kasus pada akhir tahun, terkait peningkatan mobilitas masyarakat.

Untuk meminimalisasi risiko itu, pemberlakuan screening ketat dengan tes PCR dan karantina harus terus ditingkatkan dan diimplementasikan dengan baik.

Sementara, warga yang menjadi pelaku perjalanan pun diharapkan dapat mematuhi peraturan yang ditetapkan, termasuk menjalani tes Covid-19.

Epidemiolog Kamaluddin Latief juga menilai bahwa kebijakan tersebut harus berlaku pada semua jenis moda transportasi, baik udara, laut dan darat.

Selain itu, dia juga mendorong pemerintah agar bisa menekan harga PCR serendah mungkin. Jika memungkinkan, hingga mendekati batas atas harga tes antigen.

"Subsidi adalah opsi lain yang juga bisa ditawarkan pemerintah. Mekanisme di wilayah yang sulit melakukan PCR harus diatur lebih lanjut dengan membuat beberapa perkecualian atau prasyarat lain. Ini harus dipikirkan caranya," kata Kamal. (MU)