Serial Kriminal (4)

The Intruder: Darah, Senjata dan Pengkhianatan di Papua

The Intruder: Darah, Senjata dan Pengkhianatan di Papua

Oleh: Joko Sriyono

SINOPSIS: Presiden Prio Sejati mengendus  'permainan busuk' para pejabat tinggi negara, anggota parlemen,  pensiunan militer dan polisi dalam  aksi penyerangan bersenjata di Papua.

Diam-diam presiden membentuk tim khusus yang dikomandani Joe, mantan anggota intelijen dan pasukan khusus, untuk melakukan penyelidikan hingga bisa diketahui siapa saja yang selama ini 'bermain api" di Papua.

Beberapa pensiunan jenderal sebagai penasihat presiden segera melakukan 'pembersihan' dengan melakukan penangkapan besar-besaran. 

Tapi mengapa Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terus bisa melakukan penyerangan dan siapa pensuplai senjata kepada mereka? Apakah benar orang Papua ingin merdeka?

Ikuti Serial Kriminal ini secara berurutan. Selamat menikmati.


SINGAPURA. Salah satu Cafe di sekitar kawasan Port of Singapore, pukul 15.00. Cafe ini mirip dengan model beberapa cafe dan bangunan di luar area resmi pelabuhan. 

Tidak banyak yang tahu jika cafe ini memiliki jalur khusus bawah tanah yang mengarah ke salah satu dermaga. Ada juga beberapa ruang basement yang bisa dimodifikasi menjadi ruangan khusus, sesuai permintaan pemesan ruangan.

Joe tengah menikmati kopi ekspresso dengan makanan ringan. Ia menunggu kedatangan empat orang yang sudah berjanji akan menemuinya di cafe ini. Joe sengaja datang lebih awal untuk memastikan semuanya bisa berjalan lancar. Apalagi anak buahnya sudah memesan VIP room di cafe ini untuk empat jam.

Sambil menikmati kopi dan vapenya, Joe mengambil handphone di tempat khusus di pinggang kanannya. Ia menghubungi satu nomor. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya komunikasi tersambung.

"Mohon izin, Jenderal. Joe melaporkan," kata Joe, membuka komunikasi.

Joe melaporkan bahwa dirinya akan bertemu dengan empat orang pentolan KKB Papua. Mereka akan membahas masalah transaksi senjata api dan juga rencana penyerangan bersenjata di beberapa titik di Papua.

"Lanjutkan pertemuan, cari informasi lebih dalam dari mereka. Ini semua tugasmu," kata suara dari seberang handphone.

Suara itu menambahkan, tim khusus sudah berada di sekitar lokasi pertemuan dan akan menjaga agar semuanya berjalan lancar. Selain itu, tim juga akan mengikuti setiap pergerakan empat orang dari kelompok kriminal bersenjata itu setelah pertemuan.

"Jalankan missi dengan baik. Ingat, tugas adalah kehormatan," kata suara itu.

"Siap, Jenderal. Laksanakan," kata Joe singkat, sambil mematikan handphone.

Sekitar setengah jam kemudian, datanglah Max dengan didampingi satu rekannya. Max adalah tokoh KKB kawasan Kabupaten Puncak. Kawasan ini sangat sulit dijangkau karena medannya pegununungan dan jurang-jurang.

Tak lama kemudian datang juga Alex yang didampingi satu pria dan satu wanita. Alex merupakan pentolan KKB Manokwari. Kemudian datang Daniel dengan satu orang pendamping. Daniel merupakan pentolan KKB yang membawahi wilayah pegunungan Jayawijaya. Dan terakhir Mario. Ia didampingi dua pria. Mario dikenal sebagai ketua geng bersenjata yang menguasai wilayah Jayapura.

Setelah berbasa-basi dan menikmati beberapa minuman beralkohol, Joe akhirnya mulai bicara.

"Rekan-rekan seperjuangan. Saatnya kita bergeser ke tempat lain. Ada yang ingin saya tunjukkan kepada Anda semua. Saya yakin Anda akan senang," kata Joe, sambil mengajak semua yang hadir mengikuti langkahnya.

Joe kemudian melangkah ke salah satu pintu di ruangan itu. Anak buahnya segera membuka pintu besi yang dari tadi tertutup. Nampak lorong terang berukuran lebar sekitar dua meter. Lorong itu menurun sekitar tiga meter. Kemudian mereka harus melewati lorong memanjang sekitar seratus meter hingga mencapai ruangan utama. 

Ruangan ini seperti aula besar. Ada beberapa pintu yang menghubungkan ke ruangan-ruangan lain. Joe mengajak tamunya masuk ke salah satu ruangan yang sudah didesain seperti lapangan menembak dalam ruangan. Ruangan ini cukup terang, karena di sisi kanannya menghadap laut.

Semua yang baru pertama kali masuk ke ruangan itu pasti terkagum-kagum. Apalagi di ruangan itu sudah tersedia beberapa peti berisi berbagai jenis senjata api.

Joe mengambil minuman kaleng yang ada di salah satu meja dan membawanya ke dekat tempat menembak. Ia membuka dan meneguknya.

"Bung Max, Bung Alex, Bung Daniel dan Bung. Mario. Di kotak-kotak ini ada beberapa jenis senjata api. Anda akan dipandu tim kami untuk mencobanya," kata Joe sambil memberi kode kepada anak buahnya.

Kemudian masuk empat orang cowok dan cewek ke ruangan itu. Mereka mengambil posisi masing-masing satu cowok dan satu cewek di posisi menembak. Mereka mengeluarkan beberapa unit pistol dan senjata serbu serta meletakkannya di meja yang sudah tersedia. Mereka juga menyiapkan peluru, magazen dan juga penutup telinga.

Joe mencoba salah satu pistol dan menembakkannya dua kali ke shooting target. Setelah itu ia mengambil senapan serbu dan menimang-nimangnya.

"Senjata serbu tidak bisa dicoba di dalam ruangan. Nanti hancur semuanya. Silakan yang mau coba pistolnya," kata Joe sambil memanggil pentolan kriminal bersenjata itu.

Max mengambil posisi di salah satu meja. Ia memilah-milah beberapa jenis pistol di dalam kotak, sebelum akhirnya memutuskan mengambil satu dan diserahkan kepada petugas yang akan mengisi magazin. 

Setelah memakai penutup telinga, Max menembakkan pistolnya tiga kali berurutan ke shooting target. 

Akhirnya Alex, Daniel dan Mario ikut juga mencoba pistol-pistol itu. Setelah puas, akhirnya mereka duduk mengelilingi meja besar yang di tengah-tengahnya terdapat beberapa jenis pistol dan senjata serbu. 

"Bagaimana rekan-rekan semua. Sudah puas?" tanya Joe.

Mereka mengaku puas dengan kesempatan uji coba senjata pistol itu. Dan mereka menyatakan tertarik untuk membelinya. Pada kesempatan itu Joe berhasil menjual 400 pucuk pistol dan 450 pucuk senjata serbu. Sebuah penjualan yang sangat tinggi.

"Oke, kita kembali ke lantai atas dan di sana akan kita tanda tangani kontrak penjualannya. Sesuai kesepakatan awal, setengah dari nilai total harus kita terima hari ini," kata Joe. Ia mengajak semua tamunya kembali ke lantai atas.

*****

BRISBANE. Salah satu kamar apartemen di tengah kota Brisbane, Australia. Pukul 07.00. Joe baru saja membuka laptopnya untuk mengecek data-datanya terkait pertemuan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang pagi ini bakal menggelar pertemuan. 

Joe bisa hadir dalam pertemuan ini sebagai wartawan setelah mendapatkan Id card dari salah satu media besar di Jakarta. 

Tiba-tiba handphonenya bergetar. Joe melirik ke arah layar handphonenya, terlihat nama Pudyo di layar. Ia segera mengangkat handphone. 

"Iya, Mas Pudyo. Ada kabar apa?" tanya Joe.

Pudyo yang berada di seberang sambungan telepon menyampaikan bahwa pagi ini akan ada aksi penyerangan bersenjata di Papua. "Sesuai perintah Bang Joe, saya harus melaporkan tiga jam sebelum aksi," kata Pudyo.

"Oke Mas, terima kasih infonya. Saya pantau di CNN," kata Joe sambil mematikan sambungan telepon. 

Joe kemudian menghubungi sebuah nomor telepon. Setelah tersambung, terdengar suara wanita dari seberang sambungan telepon. 

"Yes, mister Joe. Ada laporan apa," tanyanya dalam bahasa Inggris.

Joe menjelaskan, dalam beberapa jam ke depan akan ada aksi di Papua. "Oke, kita tunggu berita di CNN. Sepuluh menit setelah berita kami dengar, uang akan masuk ke rekening mister Joe," kata suara wanita itu, sambil mematikan telepon.

Joe kemudian menelepon wartawan CNN biro Jakarta. Ia mengabarkan bahwa dirinya ada di Australia dan mengikuti pertemuan tingkat tinggi OPM.

"Saya khawatir, KKB akan melakukan aksi bersamaan dengan kegiatan internasional mereka di Australia pagi ini. Karena ini bisa jadi alat untuk menunjukkan eksistensi mereka. Kalau ada info di Papua, tolong kabari aku ya," kata Joe.

Ia menelepon ini hanyalah kamuflase agar wartawan CNN tetap memantau keadaan di Papua. Selain itu agar Joe bisa mendapatkan informasi pertama jika aksi itu benar-benar terjadi.

Jika aksi ini benar-benar terjadi, pikir Joe, ini akan menarik. Karena dunia internasional akan melihat aksi kekerasan KKB bersamaan dengan aksi OPM itu di dunia internasional. Apakah ini akan menimbulkan simpati atau sebaliknya, belum ada kalkulasi yang tepat.

Tapi yang jelas, dalam beberapa jam ke depan, isi rekening bank Swiss milik Joe akan bertambah besar. Jumlah itu akan lebih besar lagi jika ada aparat keamanan yang jadi korban.

Sekitar pukul 10.00 waktu Brisbane, sesaat setelah pembukaan acara pertemuan tingkat tinggi OPM, televisi CNN internasional menyiarkan berita bahwa telah terjadi aksi penembakan dari KKB terhadap aparat keamanan di Kabupaten Intan Jaya, Papua. Penyerangan ini menewaskan dua anggota tentara dan satu orang warg sipil. Warga sipil ditembak karena dianggap mata-mata aparat tentara dan polisi.

Bukan hanya itu, kelompok kriminal ini juga menyebarkan selebaran berisi tantangan perang secara terbuka kepada tentara dan polisi.

Kabar ini langsung membuat pertemuan OPM itu menjadi tegang. Karena terjadi dualisme klaim. Satu kelompok peserta pertemuan ini mengklaim aksi bersenjata tersebut dilakukan melompok KKB OPM. Namun peserta lain menjelaskan itu bukan tindakan mereka. 

Di saat dua kubu masih saling mempertahankan pendapatnya. Joe melihat notifikasi di handphone miliknya yang menyebutkan ada dana 3 miliar lebih masuk ke rekening bank Swiss miliknya. Joe tersenyum dengan penuh kemenangan.

Joe kemudian menghubungi nomor telepon milik Pudyo. Setelah menunggu beberapa saat, komunikasi tersambung. "Mas Pudyo, tolong senjata yang sudah kita siapkan di pelabuhan dikirim hari ini juga. Nanti akan ada tim penjemput sesuai titik pertemuan yang sudah kita sepakati. Pastikan barang aman sampai ke tangan mereka," kata Joe.

"Siap, Bang Joe. Saya laksanakan tugas dengan baik. Setelah semua sesuai missi, akan saya laporkan ke abang lagi," kata Pudyo dari suara telepon.

Joe kemudian mematikan handphone miliknya. Ia masih memantau situasi pertemuan tingkat tinggi OPM yang diskors beberapa jam akibat aksi penyerangan bersenjata itu. Joe memilih menunggu di cafe yang berada di dalam gedung pertemuan itu. 

Sambil menikmati kopi capucino dan makanan ringan yang dipesannya, Joe membaca ulasan soal aksi penyerangan bersenjata itu. Ia juga membaca analisa dari beberapa tokoh intelijen internasional, bahwa penyerangan bersenjata di saat OPM menggelar aksi berskala internasional, secara politis menguntungan OPM dan melemahkan pemerintah Indonesia. 

Tokoh intelijen itu menilai, aksi penyerangan yang terjadi menunjukkan bahwa militer dan kepolisian tidak sanggup menghadapi KKB yang diyakini jumlahnya tidak sampai ratusan orang.

Sementara itu, salah satu tokoh parlemen Australia yang sangat mendukung aksi OPM, mengatakan bahwa aksi ini adalah langkah maju menuju masa depan Papua baru dengan pemerintahan baru yang lebih baik.

Saat Joe masih serius membaca analisa politik dan situasi terkini di Papua itu, tiba-tiba seorang wanita berdiri di depan mejanya. "Selamat siang, saya boleh duduk di kursi ini?" tanya wanita itu, sambil tersenyum dan menunjuk satu kursi kosong di depan Joe.

Joe nampak kaget karena ia disapa dalam Bahasa Indonesia yang begitu lancar dan ia sepertinya pernah mendengar suara itu. Joe menengadahkan wajahnya ke arah wanita yang ada di depannya. Setelah bertatapan sejenak, keduanya tersenyum. Keduanya bersalaman hangat. 

"Hai, ayo duduk. Bagaimana kabarnya, Lidya?" tanya Joe. Ia terheran-heran melihat penampilan Lidya hari ini. Ia tampil dengan pakaian resmi seperti peserta konferensi. Ia juga lebih ramah dan tidak kaku seperti saat mereka bertemu di Belanda.

Lidya duduk di kursi yang berhadapan dengan Joe. Setelah memesan makanan ringan dan minuman, ia mengamati wajah Joe.

"Oh iya, thank berat atas bantuan Lidya kemarin. Kalau gak ada Lidya, aku mungkin masih di tangan polisi Belanda," kata Joe.

"Forget it, Joe. Oh iya, ada yang menarik di sini?" tanyanya. "Aku mengikuti pergerakanmu  dalam tiga hari ini. Masih ada yang mau Joe temui lagi?" tanyanya, sambil menikmati minumannya.

Mereka berdiskusi beberapa hal, namun belum tuntas pembicaraan mereka, handphone milik Lidya berdering. Lidya mengangkat handphone dan mengaktifkannya. Setelah mendengarkan suara dari balik handphone itu beberapa saat, Lidya menjawab pendek. "Ik zal er snel zijn," katanya dalam Bahasa Belanda, sambil mematikan telepon.

Lidya mengambil potongan kertas kecil dari balik tabletnya. Ia tulis beberapa kalimat dan angka. Kemudian catatan itu ia serahkan ke Joe. "Lidya tunggu di alamat ini jam sembilan malam nanti," katanya kepada Joe. Kemudian ia melangkah tanpa pamitan meninggalkan Joe begitu saja.

Joe masih terheran-heran dengan gaya Lidya. "Dasar didikan kumpeni. Pergi ngeloyor aja tanpa pamit. Untung lu cantik, kalau cowok,  pasti dah gue lempar pakai asbak," katanya dalam hati. Kemudian ia membaca catatan dalam kertas kecil itu. Sepertinya alamat yang ditulis Lidya tak jauh dari hotel tempatnya menginap. (bersambung)