Serial Kriminal (3)

The Intruder: Darah, Senjata dan Pengkhianatan di Papua

The Intruder: Darah, Senjata dan Pengkhianatan di Papua

Oleh: Joko Sriyono

SINOPSIS: Presiden Prio Sejati mengendus  'permainan busuk' para pejabat tinggi negara, anggota parlemen,  pensiunan militer dan polisi dalam  aksi penyerangan bersenjata di Papua.

Diam-diam presiden membentuk tim khusus yang dikomandani Joe, mantan anggota intelijen dan pasukan khusus, untuk melakukan penyelidikan hingga bisa diketahui siapa saja yang selama ini 'bermain api" di Papua.

Beberapa pensiunan jenderal sebagai penasihat presiden segera melakukan 'pembersihan' dengan melakukan penangkapan besar-besaran. 

Tapi mengapa Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terus bisa melakukan penyerangan dan siapa pensuplai senjata kepada mereka? Apakah benar orang Papua ingin merdeka?

Ikuti Serial Kriminal ini secara berurutan. Selamat menikmati.


JAKARTA. Cafe di Cilandak, jam 14.45. Joe mendengarkan alunan lagu slow rock lama dari Ahmad Albar. Pertama lagu Arti Kejujuran, Kepada Perang, Semut Hitam, Bara Timur dan juga Cinta Yang Hilang, sambil menikmati kue kering dan kopi alpukat kesukaannya di cafe itu. Ia juga membawa komik Donal Bebek untuk menemani mengisi waktu luangnya.

Joe kemudian mengambil salah satu handphone di dalam tas ransel kecilnya dan menghubungi sebuah nomor  milik salah seorang anggota DPRD, namanya Berman.   Sebelumnya Berman megirimkan pesan kepadanya meminta pengiriman 50 pucuk pistol dan 50 pucuk senjata serbu ringan dan beberapa ratus peluru tajam.

"Bung Berman, proposal kemarin saya setujui. Pengiriman senjata sesuai permintaan. Tapi klien minta harus ada aksi di lapangan yang besar dalam waktu dua minggu ini. Harus ada bentrok dengan aparat," kata Joe.

Ia kemudian mendengarkan jawaban dari seseorang yang ia panggil dengan sebutan Berman itu sesaat. Kepada Joe, Berman mengaku kesulitan membuat aksi, apalagi belum lama ini terjadi serangan teroris di beberapa kota di Indonesia. Ia khawatir polisi akan lebih protektif dan intelijen akan semakin bergerilya di lapangan.

"Itu bukan urusanku. Aku hanya akan menerima laporan bahwa aksi bisa berjalan atau tidak. Soal lain-lain itu tugas Bung Berman," kata Joe dengan nada setengah menekan.

Berman akhirnya menyetujui permintaan Joe untuk menggelar aksi berdarah di daerahnya. Tapi ia meminta uang operasional tambahan untuk menggelar aksi itu, karena dirinya harus memberi ongkos untuk  eksekutor di lapangan. Tapi Joe dengan tegas menolaknya.

"Tidak. Kami tidak menyiapkan amunisi lokal. Bung Berman bisa minta kepada bupati atau anggota DPRD yang pro gerakan kita atau bupati yang takut sama kita. Itu urusan Anda di lapangan," kata Joe. 

Ia menegaskan, senjata-senjata pesanan KKB itu akan  dikirim dua hari setelah aksi lapangan, dengan catatan   lokasi pengiriman senjata harus sudah steril sehari sebelumnya. Pembayaran akan dilakukan secara tunai atau  barter dengan emas  bersamaan dengan penyerahan senjata.

"Ingat, Bung Berman. Kalau tidak ada aksi, jangan bermimpi dapat senjata. Atau begini saja, tolong kirimkan nama dan nomor telepon bupati dan anggota DPRD yang mendukung gerakan kita atau yang takut sama kita. Biar aku yang ngurus," kata Joe.

Berman menyetujui usulan Joe, ia memberikan dua nomor telepon dan dua nama bupati yang selama ini mendukung gerakan KKB di wilayahnya.

"Oke, nanti aku yang urus. Bung Berman siapkan anak-anak di lapangan. Kalau semua sudah siap, kabari aku," kata Joe sambil menutup handphone dan meletakkannya di meja.

Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.  Ia menyeruput minumannya.

Kemudian Joe menghubungi satu nomor lain. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya ada nada sambung. 

"Siap Bang Joe, perintah?" tanya Pudyo, dari balik sambungan telepon. "Saya lagi di Ambon, Bang. Besok pagi saya terbang ke Jayapura. Tiga atau empat hari lagi baru balik ke Jakarta," katanya menambahkan.

Kemudian Joe memberikan perintah kepada Pudyo untuk menemui beberapa nama di Papua.

"Mas Pudyo andalan saya dalam missi ini. Aku yakin mas bisa menjalankan tugas dengan baik," kata Joe. Kemudian ia mematikan teleponnya. 


****

JAYAPURA. Salah satu coffee shop hotel di Jalan Raya Abepura, pukul 20.30 WIT. Nampak dua orang pria, Pudyo dan Kace, tengah menikmati hidangan malam dan kopi. Pudyo berhasil menemui Kace melalui informannya. 

Pudyo sebenarnya adalah seorang bandar narkoba kelas kakap antar pulau yang selama ini dicari polisi. Namun polisi tidak mudah menangkap Pudyo, karena Pudyo tidak pernah memegang barang  bukti narkoba sama sekali. Bukan cuma itu, Pudyo juga tidak pernah sekalipun memakai narkoba.

Bagi dirinya, memakai narkoba adalah haram tapi halal menjualnya. Karena itulah urine dan darahnya selalu bersih setiap dia menjalani tes kadar narkoba. Pudyo juga sulit ditangkap karena ia memiliki kedekatan dengan tentara dan pejabat pemda. 

Pudyo mengenal Joe saat ia akan ditangkap polisi di Jakarta. Saat itu Pudyo sudah tersudut dalam sebuah penggerebekan narkoba di kawasan Jakarta Barat. 

Saat dalam kepungan polisi itulah, Joe sempat menarik Pudyo masuk ke dalam sebuah gang sempit yang tersembunyi. Gang itu hanya diketahui beberapa orang, termasuk Joe.

Pudyo yang saat itu membawa beberapa paket kokain, akhirnya lolos dalam penggerebekan. Sedangkan dua temannya tewas ditembak polisi. Sejak itulah Pudyo merasa berutang budi kepada Joe.

Sedangkan Kace, yang ditemui Pudyo kali ini, adalah kaki tangan KKB. Ia bisa menembus kubu KKB manapun dan juga menjadi perantara ke para bupati atau pejabat daerah yang mendukung KKB atau takut pada mereka. Salah satu tugasnya adalah menagih uang keamanan bagi kelompok mereka.

Jika ada bupati yang menolak memberikan upeti, bisa dipastikan di daerah itu akan terjadi penembakan, penganiayaan atau demo. Karena itu beberapa bupati lebih memilih aman dengan cara memberikan upeti.

"Ini ada tiga bupati yang menyetorkan uang keamanan. Mereka minta wilayahnya tidak diganggu," kata Kace.

Tapi, tambah Kace, nilai uang itu akan sangat kecil kalau harus dipakai semua untuk membeli senjata. Apalagi saat ini  kelompoknya sedang membutuhkan biaya operasional yang besar. 

Kace meminta agar Pudyo bisa mencarikan solusi untuk mendapatkan dana lebih besar lagi. Ia juga menjanjikan akan membeli senjata dari Pudyo.

"Kami tidak butuh banyak, hanya 50 pucuk pistol dan 50 senjata serbu. Uang kita sedikit. Kalau Mas Pudyo setuju, kami akan bayar setengahnya pakai emas," katanya.

Pudyo mengangguk-angguk tanda menyetujui transaksi itu. 

"Oke, itu bisa diatur. Oya, Bung Kace kenal Berman?" tanya Pudyo.

"Iya, saya kenal. Ada apa dengan Berman?" Kace balik bertanya.

"Ceritakan apa yang Bung Kace tahu tentang dia. Saya tertarik dengan dia," katanya.

Menurut Kace, Berman adalah anggota DPRD yang selama ini mendukung aksi perlawanan KKB terhadap pemerintah yang sah. Ia mengumpulkan uang dari anggota DPRD lain untuk membeli senjata. Tapi wilayahnya tidak seluas yang dikuasai dirinya. 

"Berman membiayai preman-preman agar melakukan aksi di tengah masyarakat. Saat terjadi kekacauan, ia akan muncul sebagai pahlawan dan menyelamatkan masyarakat serta pura-pura mengusir kelompok preman ini. Tujuannya hanya satu, agar masyarakat mempercayai dirinya dan posisinya di dewan tetap aman. Kabar terakhir, dia akan mencalonkan diri jadi bupati atau gubernur," kata Kace.

Pudyo manggut-manggut mendengar penjelasan Kace soal Berman. Kemudian ia bertanya lagi. "Bung, sebenarnya tujuan kalian ini untuk merdeka atau tidak?"

Mendengar pertanyaan ini, Kace yang tengah meminum kopi dan cangkirnya langsung terdiam. Ia letakkan cangkir itu dan tertawa keras. Setelah tertawa keras beberapa saat. Ia terdiam dan kemudian menyulut rokoknya.

"Kakak Pudyo, kakak harus percaya sama saya. Tidak ada keinginan kami untuk merdeka. Kita tidak butuh kemerdekaan, kita hanya butuh hidup mapan seperti orang-orang di Jawa," kata Kace.

Ia menambahkan, saat ini mereka menyadari belum memiliki sumber daya manusia yang baik. Memang ada sumber daya alam yang melimpah, tapi mereka juga tidak akan bisa mengelola perusahaan besar. 

"Benar kakak, kita punya emas, batubara, nikel dan banyak lagi. Semuanya banyak, sangat-sangat banyak. Itu semua jadi rebutan banyak negara. Kalau kita merdeka, kita justru akan hancur. Karena kita akan jadi rebutan Australia, Amerika dan negara-negara lain. Suku-suku kita justru akan diadu satu dengan yang lainnya. Kita akan saling bunuh. Kalau kita sudah mati semua, negara-negara  besar itu yang akan menguasai Papua. Kita tidak mau itu terjadi, kakak," katanya.

Ia menambahkan, warga Papua tidak mau memiliki nasib seperti orang Timor Timur. Setelah merdeka dari Indonesia justru miskin.

"Terus kenapa kalian selalu berontak dan buat kekacauan?" tanya Pudyo.

"Kami tidak pernah memberontak kakak. Semua ini hanya permainan. Ini semua proyek. Kami butuh makan, kami butuh baju, kami butuh motor dan mobil bagus, kami butuh kekayaan. Kami juga butuh duit untuk membayar wanita-wanita cantik yang bisa menemani kita sambil mabuk-mabukan. Itu saja," kata Kace.

Pudyo masih penasaran. "Kan sudah ada dana otonomi khusus, apa itu tidak bisa membuat warga Papua makmur?" 

Mendengar pertanyaan itu, Kace kembali tertawa. "Kakak, uang otonomi khusus itu tidak ada yang sampai ke tangan rakyat. Kalau ada pembangunan, juga tidak bisa dirasakan rakyat. Yang menikmati itu pejabat-pejabat semua. Berapa besarnya otonomi khusus dikucurkan, itu tidak akan membuat rakyat makmur selama tidak diawasi secara ketat. Semua akan percuma, buang-buang uang saja," katanya.

Pudyo terus mengejar dengan pertanyaan lain. "Ada penyerangan bersenjata, pembunuhan, pembakaran rumah-rumah dan pos polisi di mana-mana. Itu bagaimana?" tambahnya.

"Ah, itu jangan dianggap serius, kakak. Itu semua kerjaan anak-anak jalanan yang butuh uang jajan. Jumlah mereka juga tidak banyak. Kalau tentara dan polisi mau serius, gampang kasih abis mereka. Tapi ini kan semuanya ada yang memelihara, sengaja tidak dihabisi, ada kepentingan-kepentingan lain," kata Kace, sambil menuangkan minuman lagi.

Kebetulan, tambah Kace, ada pihak yang butuh tenaga kami, tenaga anak-anak muda yang pingin pegang duit gede, ya udah, jadi. Mereka mau saja disuruh bikin rusuh.  Kita siap saja selama ada kecocokan harga. Karena kita tahu, mereka dapat untung besar. Bagi kita itu tidak masalah, yang penting kita juga bisa punya duit banyak.

Ia menambahkan, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau PNPB yang biasa disebut sayap militer dari Organisasi Papua Merdeka, itu hanya kumpulan preman jalanan. Kebetulan mereka punya senjata dan bisa menakut-nakuti warga. Itu saja.

"Siapa yang membutuhkan jasa kalian?" tanya Pudyo lagi.

"Banyak kakak, ada tentara, polisi, pejabat pemda dan juga kepala suku. Semua punya kepentingan di sini," jelasnya lagi.

"Oke, kalau begitu saya bisa minta tolong ke Bung Kace? Kalau Bung Kace bisa menjalankan tugas ini, harga senjata yang Bung Kace pesan, saya kasih diskon harga 50 persen. Bagaimana?" tanya Pudyo. 

Mata Kace langsung membelalak dan tidak percaya. "Diskon 50 persen? Senjata bayar setengah? Mantap. Saya mau, kakak. Ini baru namanya saudara. Apa yang harus kami lakukan, kakak?" tanya Kace bersemangat.

Pudyo kemudian membisikkan beberapa rencana yang harus dilakukan Kace dan KKB lainnya. Ia meminta agar aksi dilakukan dalam skala besar dengan sasaran aparat keamanan dan kawasan pertambangan. Pudyo mengingatkan agar tidak sampai melukai warga masyarakat.

"Saya minta dalam minggu ini ada satu aksi dan minggu depan ada satu aksi susulan. Dua jam sebelum beraksi, kabari saya dulu. Jelaskan dimana aksi akan digelar. Mengerti?" tanya Pudyo.

"Siap, kakak. Mengerti," jawab Kace penuh semangat.

Kace kembali menyalakan rokoknya. Kemudian ia mengambil handpone dan menelepon seseorang. Tak lama kemudian komunikasi tersambung.

"Pace, minggu ini kita bikin pesta besar di kamp. Tolong siapkan anak-anak semua. Informasi lebih lanjut nanti saya kabari lagi," perintah Kace.

Ia kemudian mematikan sambunga telepon pertama dan kemudian ia menghubungi nomor lain. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tersambung juga.

"Pace, ini Kace. Kita dapat order untuk bikin pesta besar di kaki gunung dua minggu lagi. Informasi lebih lanjut nanti saya kabari lagi," kata Kace sambil mematikan sambungan telepon. (bersambung)