Serial Kriminal (2)

The Intruder: Darah, Senjata dan Pengkhianatan di Papua

The Intruder: Darah, Senjata dan Pengkhianatan di Papua

Oleh: Joko Sriyono

SINOPSIS: Presiden Prio Sejati mengendus  'permainan busuk' para pejabat tinggi negara, anggota parlemen,  pensiunan militer dan polisi dalam  aksi penyerangan bersenjata di Papua.

Diam-diam presiden membentuk tim khusus yang dikomandani Joe, mantan anggota intelijen dan pasukan khusus, untuk melakukan penyelidikan hingga bisa diketahui siapa saja yang selama ini 'bermain api" di Papua.

Beberapa pensiunan jenderal sebagai penasihan presiden segera melakukan 'pembersihan' dengan melakukan penangkapan besar-besaran. 

Tapi mengapa Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terus bisa melakukan penyerangan dan siapa pensuplai senjata kepada mereka? Apakah benar orang Papua ingin merdeka?

Ikuti Serial Detektif ini secara berurutan. Selamat menikmati.


JAKARTA. Kawasan Blok M. Jam tangan Joe menunjukkan pukul 22.15 malam saat ia memarkirkan mobilnya di area parkir salah satu cafe. 

Joe tahu, di dalam cafe itu sudah menunggu Vero dan Atma. Vero adalah pegiat kemerdekaan Papua, sedangkan Atma adalah salah satu ketua badan eksekutif mahasiswa di Jakarta.

Saat ia akan mematikan mesin mobilnya, tiba-tiba handphonenya bergetar. Joe tidak pernah mengaktifkan nada dering, tapi pada vibrate mode. Ia mengambil handphone dari kantong khusus yang ada di pinggang kanannya. Ia melihat layarnya sekilas, tak ada nama yang memanggil. Hanya nomor yang tak ia kenal. Lalu Joe mengaktifkannya.

"Yes..." kata Joe singkat.

Terdengar suara cewek dalam bahasa Inggris. Cewek itu memperkenalkan dirinya sebagai petinggi di salah satu non goverment organization (NGO) yang berbasis di Amerika Serikat (AS) tapi tidak berafiliasi dengan Pemerintah AS. 

Menurut cewek di handphone itu, mereka hanya berkepentingan dengan harga saham PT Freeport di Wall Street dan di pasar bursa internasional lainnya agar tetap tinggi. 

Agar saham tetap tinggi, salah satunya dengan menciptakan kegaduhan yang dilakukan KKB  di area tambang Freeport dan di wilayah Papua. 

Karena itu, dirinya meminta Joe dan kelompoknya untuk membuat aksi di wilayah pertambangan Freeport dan sekitarnya di Papua.

"Saya tegaskan, kami bukan Freeport dan bukan pemerintah AS. Kami hanya berkepentingan dengan harga saham," kata suara cewek itu.

Ia menambahkan, setiap aksi berdarah di area tambang atau penyerangan terhadap aparat keamanan, Joe akan mendapatkan satu poin tambahan.

Setelah suara di seberang handphone terdiam, Joe ganti bertanya. "Saya butuh nilai nominal untuk aksi saya dan poin tambahannya," kata Joe.

Kemudian cewek itu menyebutkan nilai uang dalam bentuk dolar AS yang bakal diterima Joe jika dia bisa menjalankan missi yang ditugaskan. Uang itu akan langsung ditransfer ke rekeningnya di Bank Swiss. "Anda akan mendapatkan nilai uang itu paling lama sepuluh menit setelah aksi terpublikasi di media internasional. Kami minta dalam bulan ini ada dua atau tiga aksi. Apa Anda sanggup?" tanya cewek itu.

"I never fail on mission," kata Joe pendek.

Sebelum mengkahiri pembicaraan, Joe menyanggupi permintaan cewek itu dan menyatakan akan menjalankan aksi dalam bulan ini.

Joe mematikan handohone dan menarik nafas panjang. Kemudian ia mematikan mesin dan keluar dari mobilnya menuju meja yang sudah dipersiapkan Vero dan Atma untuknya.

Vero dan Atma sebenarnya sudah lama memintanya untuk menemui mereka. Katanya ada info menarik yang akan mereka lakukan. Tetapi Joe sengaja mengulur waktu, karena ia menilai waktunya kurang tepat untuk bertemu. 

"Hallo Bang Joe. Gimana kabarnya?" tanya Vero dan Atma, saat Joe mendekati meja yang sudah mereka pesan.

"Ya seperti yang kalian lihat," jawab Joe, sambil tersenyum kecil.

Setelah berbasa-basi dan memesan makanan, serta menikmatinya, Joe menanyakan maksud mereka.

"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Joe.

Atma mengambil kesempatan bicara lebih awal. "Begini Bang, teman-teman di Papua butuh dukungan. Mereka sudah siapkan berbagai kegiatan di lapangan. Tinggal menunggu arahan dan amunisi," kata Atma.

Atma menambahkan, saat ini mahasiswa di beberapa kota di Papua siap melancarkan aksi. Termasuk di kota-kota di Jawa. Dukungan sudah ada dari beberapa pengusaha dan pejabat pemda, tapi kecil. Karena mereka khawatir, dukungan kepada mahasiswa  akan  tercium aparat keamanan.

Ketiganya terdiam sesaat. Hanya terdengar musik bossas yang diputar cafe secara perlahan, agar pengunjung  tetap bisa berbincang-bincang atau berdiskusi.

"Saya boleh tambahkan, Bang," kata Vero.

Joe mengangguk, sambil melirik ke arah Vero. Ia isap vape miliknya dan menghembuskan asap yang beraroma kopi.

"Tim kita di Australia juga sedang menunggu perintah. Mereka sudah menggelar diskusi tertutup secara rutin di beberapa kampus. Banyak mahasiswa yang tertarik, isu genosida dan pelanggaran hak asasi manusia di Papua sangat laku dijual," kata Vero.

Bahkan, lanjut Vero, media Australia dan media internasional yang berbasis di Australia juga memiliki keingintahuan yang dalam soal Papua. Beberapa wartawan asing bahkan sudah ada yang masuk ke pedalaman Papua dengan menyamar sebagai turis. 

"Wartawan yang tertarik dan ingin masuk ke Papua, sudah kita bekali informasi penting yang bisa mereka dalami di lapangan," kata Vero.

Joe mengangguk-angguk. "Bagaimana dengan Freeport?" tanyanya.

Vero mengungkapkan, pihaknya tidak menyinggung sama sekali soal Freeport, karena takut akan melenceng dan justru merugikan Freeport dan Pemerintah AS, karena sebagian dana kampanye kemerdekaan Papua yang mereka peroleh juga disupport dari Freeport dan Pemerintah AS.

"Kita tidak ingin Pemerintah AS atau Freeport meninggalkan kita. Kita bermain di jalur aman. Karena biaya kampanye kemerdekaan Papua ini di luar negeri cukup besar. Bantuan mereka kita gunakan untuk kampanye di luar negeri. Sedang kampanye di dalam negeri dan aksi-aksi lainnya, kita cari dari donatur. Termasuk dari Bang Joe," kata Vero.

Joe mendengarkan penjelasan Vero sambil menikmati makanan ringannya. Sesekali ia meminum capucino coffee yang dipesannya.

"Oke, apa yang kalian butuhkan?" tanya Joe pendek.

Vero dan Atma saling berpandangan. "Kami butuh amunisi untuk mendukung pergerakan teman-teman," kata Atma.

"Berapa?" tanya Joe singkat.

Vero mengambil tiga lembar kertas dari dalam jaketnya dan menyodorkan kertas bertuliskan tangan itu kepada Joe. Sepertinya mereka sudah menyiapkannya sejak awal. 

Joe membaca tulisan tangan itu, ada perincian dana untuk beberapa kegiatan di dalam dan di luar negeri yang akan digelar. Catatan itu ringkas, simple, tapi lengkap.

Joe mengangguk-angguk. Kemudian ia menyeruput capucino di gelasnya lagi.  "Kapan pesta dimulai?" tanya Joe.

"Kapan pun Abang minta, kita siap bergerak," kata Atma dan Vero.

"Oke. Pada prinsipnya aku setuju. Akan ada revisi jumlah pendanaan, tapi tak banyak. O iya, aku pingin ketemu bupati yang mendukung kita, bisa aku minta nomor kontak dan namanya. Biar nanti aku yang hubungi sendiri," kata Joe.

"Boleh bang. Nanti saya WA nama dan nomornya ke Abang," kata Vero, bersemangat.

"Kalau begitu, tunggu kabar dari aku  maksimal 3 kali 24 jam," kata Joe lagi.

Ketiganya tersenyum. Ada kelegaan di wajah Vero dan Atma. 

"Oya Vero, paspormu sudah mau habis masa berlakunya. Segera perpanjang. Aku ingin semua siap saat dibutuhkan. Jangan sampai hal-hal kecil jadi penghalang kegiatan kita," kata Joe lagi.

Vero mengangguk kecil. Ia heran, Joe tahu masa berlaku paspornya, padahal dia sendiri sebagai pemilik paspor sudah lupa dan tidak pernah memperhatikan hal itu.

Joe mengingatkan Vero dan Atma, agar mereka memanfaatkan medsos untuk komunikasi. "Ingat, semua perintah ada di akun lebay itu. Cukup dibaca dan dijalankan. Jangan pernah memberikan komentar apa pun. Ingat, patroli cyber lagi gencar," kata Joe mewanti-wanti. (bersambung)