Catatan dari Senayan

Tertolak Ajakan Merusak Negeri Sendiri

Tertolak Ajakan Merusak Negeri Sendiri

HARI "H" unjuk rasa "End Game Jokowi' mestinya Sabtu, 24 Juli yang lalu. Tapi unras itu gagal terselenggara. Ribuan aparat keamanan sudah siaga untuk merespon. Ada sejumlah (dalam hitungan jari) peserta unras. Mereka termakan seruan yang beseliweran di medsos tadi. Di daerah, seperti di Maluku ada penerus provokasi yang ditangkap. 

Yang tersisa sekarang tuding menuding tak berujung siapa dalang di belakangnya. Juga ada yang menduga seruan unras itu sekadar "cek ombak" untuk melihat respon masyarakat dan otoritas keamanan. Nyatanya rayuan medsos tak membuahkan hasil. Jakarta tenang-tenang saja, meski sebelumnya terbersit ada sedikit kecemasan. 

Momentum yang diambil sebenarnya ada. Ketika pemerintah kewalahan dan terlihat  panik menghadapi merebaknya pandemi Covid-19. Presiden Jokowi sendiri yang memang sudah kurus semakin kurus. Itu mungkin dilihat sebagai celah untuk mengganggu stabilitas politik dan keamanan. Siapa tahu kalau seruan manjur, sebagian rakyat yang resah diimpit susahnya hidup akibat pandemi tergerak:  Rame-rame turun ke jalan dan manjur diprovokasi untuk menjarah dan membakar. Yang dijadikan sumbu tetap saja sentimen membenci ras China. Endingnya terjadi chaos di Ibukota Negara dan Jokowi lengser.

Siapa dalangnya? Ya, mereka-mereka yang sudah kebelet berkuasa, tak sabar menunggu 2024. Pemilu dan pilpres mereka lihat masih sebagai pekerjaan berat untuk bisa mengubah peta kekuasaan. Partai-partai politik yang tergabung dalam koalisi pendukung kekuasaan masih  enggan (atau takut) keluar dari zona nyaman. TNI sesuai Sapta Marga tetap setia mengawal pemerintahan yang sah. 

Tapi itu hanya dugaan skenario. Tentu perkiraan adanya skenario di atas bisa dianggap berlebihan. Terlalu simpel untuk dipatahkan. Karena kita tidak melihat prakondisi yang menguatkan dugaan itu. Tokoh-tokoh oposan tak terlihat beringas seperti di akhir 2020 sampai awal 2021. KAMI yang dulu menghimpun sejumlah tokoh yang getol mengkritisi pemerintah--entah kenapa--mati suri. Dukungan rakyat terhadap kesungguhan dan ketulusan Jokowi tetap kuat. Kalaupun ada kritik, sifatnya parsial, bukan cerminan ketidakpuasan masif. 

Skenario yang lebih masuk akal ya sekadar "cek ombak" atau malah adanya keisengan kelompok tertentu untuk mencoba mengganggu stabilitas politik dan ekonomi. Hasilnya nol. Nyaris tak ada yag tergerak. Ada  hikmah tersembunyi dari "rencana" End Game Jokowi itu. Rakyat masih berpikir waras.  Kita anggap ulah orang iseng itu sebagai vaksin pembentuk imunitas. Imun terhadap isu dan berbagai ajakan merusak negeri sendiri. 

Salam waras.