Ternyata, Ini Penyebab Pertumbuhan Ekonomi RI Minus 2,07 Persen Tahun 2020

Ternyata, Ini Penyebab Pertumbuhan Ekonomi RI Minus 2,07 Persen Tahun 2020
Ilustrasi | CNNIndonesia

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi RI 2020 minus 2,07 persen. Realisasi Produk Domestik Bruto (PDB) ini anjlok dibandingkan 2019 lalu yang tumbuh 5,02 persen, sekaligus merupakan yang terburuk sejak krisis 1998 yang tumbuh minus 13,16 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kontraksi ekonomi Indonesia sejalan dengan pertumbuhan ekonomi sejumlah negara mitra dagang yang juga tercatat minus pada kuartal IV 2020.

Rinciannya, Amerika Serikat (AS) minus 2,5 persen, Singapura minus 3,8 persen, Korea Selatan minus 1,4 persen, Hong Kong minus 3 persen, dan Uni Eropa minus 4,8 persen.

"Dampak negatif covid-19 memang terasa di seluruh perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Indonesia tidak sendiri, pandemi ini betul-betul membawa kontraksi yang sangat buruk," ucapnya dalam konferensi pers, Jumat (5/2/2021).

Suhariyanto menjelaskan, dari sisi pengeluaran, hampir seluruh komponen mencatatkan minus sepanjang 2020. Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 57,66 persen terhadap PDB terkontraksi hingga 2,63 persen.

Kemudian konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) terkontraksi 4,29 persen, investasi terkontraksi 4,95 persen, ekspor terkontraksi 7,7 persen, dan impor terkontraksi 14,71 persen. "Seluruh komponen tumbuh negatif kecuali konsumsi pemerintah," kata Suhariyanto.

Pada tahun lalu, konsumsi pemerintah naik 1,94 persen. Meski begitu, angkanya tetap saja melambat dari 2019 yang tumbuh 3,26 persen.

"Perlambatan pertumbuhan konsumsi pemerintah disebabkan perlambatan pertumbuhan belanja pegawai pada 2020. Belanja pegawai tumbuh 1,18 persen, pada 2019 tumbuh 8,49 persen," jelas Suhariyanto.

Secara keseluruhan, investasi menjadi sumber kontraksi ekonomi terdalam, yakni minus 1,63 persen. Lalu, konsumsi rumah tangga yang menyumbang kontraksi sebesar minus 1,43 persen.

Selanjutnya dari sisi lapangan usaha, 10 dari 17 sektor ekonomi menyumbang kontribusi negatif. Paling parah ialah sektor transportasi dan pergudangan yang tercatat minus 15,04 persen.

Diikuti, sektor akomodasi dan makan yang mencapai minus 10,22 persen pada 2020. Padahal, pada 2019 lalu, sektor ini masih tumbuh 5,79 persen.

"Akomodasi dan makan minum turun karena tingkat penghunian kamar hotel minus 39,75 persen, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara minus 75,03 persen, dan tutupnya sejumlah hotel dan restoran selama pandemi covid-19," tutur Suhariyanto.

Setelahnya, ada industri pengolahan yang tercatat minus 2,93 persen, perdagangan minus 3,72 persen, konstruksi minus 3,26 persen, pertambangan dan penggalian minus 1,95 persen.

Lalu, sektor jasa lainnya minus 4,1 persen, jasa perusahaan minus 5,44 persen, serta pengadaan listrik dan gas minus 2,34 persen. "Hanya ada tujuh sektor yang masih tumbuh positif," imbuh Suhariyanto.

Beberapa sektor yang positif tersebut, antara lain pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 1,75 persen, jasa keuangan dan asuransi naik 3,25 persen, informasi dan komunikasi naik 10,58 persen, termasuk jasa pendidikan naik 2,63 persen.

Kemudian, sektor real estate naik 2,32 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial naik 11,6 persen, serta pengadaan air naik 4,94 persen.

"Jasa Kesehatan dan kegiatan sosial naik tinggi 11,6 persen karena pencairan pembayaran insentif covid-19 untuk tenaga kesehatan, peningkatan pendapatan rumah sakit untuk pelayanan covid-19," jelas Suhariyanto.

Dari sisi kontribusinya, ia menambahkan sektor transportasi dan pergudangan menjadi sumber kontraksi ekonomi terdalam, yakni minus 0,64 persen.

Sedangkan sumber kontraksi lainnya berasal dari industri pengolahan sebesar minus 0,61 persen, perdagangan minus 0,49 persen, dan konstruksi minus 0,33 persen.