Tentara, Makar dan Spanduk

Tentara, Makar dan Spanduk

Oleh Joko Sriyono

"MOSOK sih tentara ngurusi spanduk?" tanya Gendut kepada Laki-laki Kerempeng, setengah tidak yakin dengan apa yang dilihat dan ditontonnya di televisi akhir-akhir ini.

Laki-laki Kerempeng hanya diam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Gendut soal pencopotan spanduk Rizieq Shihab di Jakarta. Ia mengakui, apa yang dilakukan tentara sebagai terapi kejut terhadap kelompok-kelompok yang dinilai membangkang dan mengancam kedaulatan bangsa, memang tidak salah. 

Tapi ia juga tidak menampik, bahwa apa yang dilakukan tentara dengan turun langsung mencopoti spanduk dengan alasan spanduk harus berizin dan membayar pajak, menyalahi peraturan perundangan. 

Jika tindakan tentara yang masuk ke ranah politik praktis ini dibiarkan dan tidak dievaluasi, maka akan menarik kembali tentara ke ranah politik. Mundur lagi dong...

"Setahu gue," lanjut Gendut. "Spanduk yang ngurusi Satpop PP, kan izin mau masang spanduk di kantor walikota, bukan di kantor Koramil. Tapi ini yang nyopotin tentara, gue jadi bingung," kata Gendut lagi.

Laki-laki Kerempeng semakin tidak bisa bicara. Kopi yang dari tadi menemani mereka ngobrol terasa semakin pahit saja.

"Peng, apa iya sih Rizieq itu makar? Apa iya sih Rizieq itu mengancam kedaulatan bangsa? Apa iya Rizieq itu mau melakukan kudeta, sampai-sampai tentara turun tangan gitu?" tanya Gendut lagi.

Katanya, lanjut Gendut, yang nentuin makar atau tidak itu pengadilan. Bukan dugaan-dugaan dan langsung diambil tindakan. Tapi ini kayaknya beda, kenapa ya tentara tiba-tiba keluar barak pakai senjata lengkap dan alat-alat perang. Gue jadi ngeri.

"Emang tentara gak ada kerjaan ya? Kan masih bayak tuh pelaku penembakan dan pembunuhan di Poso dan Papua yang belum ketangkep. Lu kagak percaya, hampir tiap minggu ada yang mati ditembak kelompok bersenjata. Nah, mereka yang main tembak di Papua itu makar apa kagak? Mengancam kedaulatan bangsa apa kagak," desak Gendut.

Laki-laki Kerempeng mulai gatal kupingnya mendengar ocehan Gendut yang semakin menyudutkan tentara. Gendut sudah keblablasan. Gendut sudah salah dalam menilai langkah tentara. Gendut harus dihentikan sebelum membuat suasana semakin kacau dan bisa menggalang kekuatan yang mengganggu keamanan bangsa.

"Eh, sori nih Peng. Apa tentata takut sama yang biasa main tembak-tembakan di Papua dan beraninya sama ustad yang gak punya senjata? Kalau berani, kirim aja pasukan ke Papua sono, perang-perang dah di sono," kata Gendut semakin panas.

"Stop, Ndut!! Lu udah keterlaluan. Lu gak suka sama tentara ya?" bentak Laki-laki kerempeng, sambil membanting puntung rokok yang dari tadi dipegangnya.

Tentara itu, lanjut Laki-laki Kerempeng dengan nada tinggi sambil menahan emosi, adalah alat negara. Mereka bergerak sesuai aturan perundangan. Mulut lu jangan asal ngejeplak kayak gitu.

Kalau tidak ada tentara, tambah Laki-laki Kerempeng, negara bisa hancur. Tentara adalah pilar terdepan bangsa dan negara ini. Jangan kau remehkan tentara.

Sekarang gantian Gendut yang bingung. Dia awalnya mau bertanya dan minta pencerahan kepada Laki-laki Kerempeng yang dikenal pintar dan banyak makan sekolahan, tapi dia malah dimarahi habis-habisan.

"Lah, lu gimana sih, Peng. Gue kan kagak ngarti masalah politik kayak gini, makanya gue nanya ke lu yang pinter. Eh, lu malah marah-marah ke gue. Nuduh gue gak suka sama tentara lagi. Puyeng gue, Peng," katanya pasrah.

Keduanya terdiam sesaat. Gendut menyeruput kopi dan kemudian menyulut sebatang rokok. 

"Gue..." kata Gendut. "Sebenarnya sangat mencintai tentara, polisi dan juga Satpol PP," lanjut Gendut.

Makanya, lanjut Gendut, dirinya tidak ingin tentara keluar jauh dari aturan perundangan yang berlaku dan mengambil alih tugas serta kewenangan pihak lain. Masalah dugaan makar, biarkan pengadilan yang  memutuskan dan bagaimana nanti tindak selanjutnya.

Soal pencopotan spanduk, serahkan kembali kepada Satpol PP. Kalau Satpol PP perlu bantuan keamanan, biarkan polisi yang mengawal saat pencopotan spanduk.

Kalau memang Rizieq dianggap melanggar hukum, serahkan kepada polisi untuk proses hukumnya. 

"Apakah yang dilakukan tentara dengan mencopot spanduk itu sudah sesuai  Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI? Apakah ini termasuk operasi militer selain perang yang harus menerjunkan pasukan elite? Kalau emang yang dilakuin tentara itu secara perundangan sudah benar, silakan dilanjut. Tapi kalau kagak bener, ya hentikan. Gue kagak mau nantinya negara asing menilai negatif tentara kita. Lu mesti ngerti, gue sebagai warga negara, gue adalah pemilik tentara dan polisi. Gue malu kalau mereka bertindak salah. Ini yang gue kagak mau, Peng," kata Gendut berapi-api.

Gantian dah, sekarang Laki-laki Kerempeng yang puyeng. (*)

Penulis adalah wartawan Senayanpost.com