Teh Botol dan Teh Puan

Teh Botol dan Teh Puan
Puan Maharani. (foto-gatra)

Oleh: Imas Senopati

Bambang Wuryantoro alias Bambang Pacul dalam beberapa pekan terakhir membuat pernyataan menarik. Pertama intinya meminta Ganjar Pranowo jangan banyak bermanuver menghadapi sukses 2024. Ada sosok PDIP lain yang digadang-gadang untuk manu di Pilpres 2024. 

Pernyataan Bambang Pacul tentu menyita perhatian publik karena posisinya sebagai Ketua DPP PDIP dan Ketua Pemenangan Pemilu 2024 partai kepala banteng moncong putih itu.  

Apalagi sehari sebelum pernyataan itu, Ganjar Pranowo sebagai kader PDIP dan Gubernur Jawa Tengah tidak diundang dalam acara temu kader PDIP Jateng yang dihadiri Puan Maharani, Ketua DPP PDIP, Ketua DPR-RI, dan juga putri Megawati Soekarno Putri.

Pernyataan Bambang Pacul (BP) berikutnya, Puan Maharani ibarat teh botol Sosro. Siapa pun kelak Presidennnya Wakil Presidennya ya Puan Maharani. Terlepas apakah omongan Bambang Pacul itu suara resmi PDIP atau bukan, tapi sejauh ini dari PDIP tidak ada yang menyanggah. Bahkan nyanyian BP itu  terkesan direstui elite PDIP, termasuk oleh Sekjen PDIP Hasto Kristianto.

Hasil sejumlah lembaga survei menunjukkan elektabilitas Ganjar Pranowo selalu bertengger di tiga besar. Sementara posisi Puan Maharani jauh tertinggal di deretan bawah. 

Hal itu barangkali yang membuat BP mesti teriak, sebagai semi deklarasai setidaknya untuk diketahui oleh para kader PDIP yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Sementara Puan Maharani sendiri masih malu-malu untuk menyatakan kesiapannya maju di Pilpres 2024, entah sebagai calon Presiden atau Wakil Presiden.

Teriakan BP tidak berhenti hanya di situ. Gaungnya adalah tindakan konkret Puan Maharani melalui kader-kader banteng. Tidak lama kemudian Puan bertandang ke sejumlah daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa. 

Berikutnya marak baliho Puan besar-besar terpampang di pinggir jalan-jalan strategis di Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya. 

Klop sudah deklarasi BP, pernyataan Teh Botol Sosro, sampai gerakan Puan ke daerah diikuti tebarann baliho-baliho besar. 

Di Senayan sang putri pun lebih rajin mengumbar berbagai pernyataan yang menyangkut isu penting untuk meneguhkan eksistensi diri, agar rakyat semakin mengenal dirinya, agar elektabilitasnya semakin terkerek.

Partai-partai lain pun menangkap sinyal “Teh Botol Sosro itu.” Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), misalnya, langsung menyebut pasangan ideal di Pilpres 2024 adalan Abdul Muhaimin Iskandar (AMI) dan Puan Maharani, sebut saja Teteh atau Teh Puan sebagai wakilnya. 

Lalu ada yang menggandeng-gandengkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Puan Maharani pasangan yang lebih realistis, mengingat elektabilitas Prabowo saat ini berada di puncak, PDIP dan Gerindra juga menempati dua besar dari hasil semua survei di bulan Mei-Juni ini.

Pemasangan Puan sebagai calon Wapres dan  disimbolkan dengan Teh Botol  oleh BP dan elite PDIP kemungkinan melihat realitas, bahwa untuk menjadi nomor satu, cucu Bung Karno ini belum ngangkat. 

Orang luar menganggap Puan menduduki posisi sebagai Ketua DPR itu kan bukan karena prestasi yang dibangunnya sendiri, tapi karena terkerek sang ibunda. Sehingga pemasangan sebagai calon Wapres itu sudah sangat maksimal.

Tahun 2024 masih lama. Tapi dimensi politik, 3 tahun dari sakarang itu bukanlah waktu yang lama. Untuk Pemilu dan Pilpres tiga tahun susah ada proyeksi yang jelas. Partai yang mempunyai jago untuk Presiden dan Wapres harus sudah ancang-ancang mulai sekarang. 

Mau mengajukan siapa? Berkoalisi dengan partai mana? Juga berbagai kemungkinan yang bekal terjadi dengan dinamika politik di dalam masyarakat. 

Tentu menentukan calon tidak boleh gambling dan menggunakan hitungan matematis. Jika dua partai-partai gede mengawinkan calonnya untuk maju bareng mesti jagonya bakal gol. Bergandeng dengan Puan bisa menghasilkan cuan, tapi bisa juga hasilnya jeblok. 

Matematika politik itu banyak keunikannya. Banyak faktor yang menyertai. Sering kali unpresdictable.... Dan kadang, kata orang pesantren, “min haitsu laa yahtasib”, bahwa rizki itu pada umumnya datang melalui jalan yang tidak disangka-sangka. (*)