Surat untuk Pak Jokowi...

Surat untuk Pak Jokowi...

Oleh: Denny Siregar

MALAM ini saya tak bisa tidur..

Baru saja saya membaca ada rencana pemerintah ingin memperpanjang masa PPKM darurat menjadi 6 minggu lagi. Dan rencana itu sedang digodok, kemungkinan akan diluncurkan dalam waktu dekat.

Saya setiap hari aktif di medsos. Dan di sana, selain berita kematian, saya juga sering membaca teriakan-teriakan kawan yang sudah tercekik lehernya karena ekonomi mereka sudah hancur parah. Beras habis, listrik tak mampu bayar, tidak ada kerjaan, tak bisa jualan, ngaspal tak ada penumpang dan banyak lagi yang sulit saya ceritakan.

Belum lagi kalau saya baca DM saya. Banyak banget yang minta bantuan bahkan untuk makan. terenyuh rasanya hati ini. Tapi harus bagaimana, saya bukan Superman. 

Dan saya khawatir malam ini, betul-betul khawatir. Kalau PPKM darurat dilaksanakan 6 minggu lagi, rakyat kecil bisa tak tahan. Rakyat kecil lho ya, bukan rakyat kelas menengah apalagi kaya yang tiap bulan masih gajian. Rakyat kecil ini bekerja di sektor informal yang pendapatannya harian. Tiap hari pendapatan mereka berkurang. Dan adanya PPKM yang mirip lockdown ini, benar-benar menghajar mereka sampai pingsan..

Baca Juga

Pak Jokowi, malam ini saya meminta jika bapak bisa membaca tulisan ini, tolong PPKM darurat tidak diperpanjang. Kasihan orang-orang kecil, pak. Mereka harus makan. Anak-anaknya kelaparan. Sudah berbulan-bulan mereka sabar dan nerima, jangan ditambah lagi penderitaan mereka. Memperpanjang PPKM darurat sama saja dengan membunuh mereka pelan-pelan.

Jangan terlalu didengarkan kelas menengah dan kaya yang sibuk teriak tentang ketakutan. Perut lapar itu bisa menakutkan, Pak. Ketika ribuan perut lapar turun ke jalan, negara ini bisa chaos. Apa kepikir kalau ada yang ingin menunggangi situasi ini, Pak? Mereka yang terus mendesakkan supaya PPKM darurat diperpanjang, tapi punya maksud dibelakang supaya orang lapar berontak dan melawan.

Sudahlah, pak Jokowi. Sudahlah, pak. Beri napas mereka yang sudah setahun lebih berkelahi dengan situasi. Covid tidak menakutkan buat mereka, tapi perut tidak mungkin tidak terisi. Longgarkanlah ikatan ini. Sesak sudah dada, Pak.

6 minggu bukan waktu sebentar, Pak. Banyak yang sudah tidak tahan lagi. Termasuk mereka yang terus menerus di garda depan membela kebijakan bapak mati-matian. 

Pikirkanlah lagi, Pak. Jangan sampai satu keputusan, berdampak serius ke depan. Semoga kita semua baik-baik saja dan tidak gampang termakan hasutan..

Salam secangkir kopi pahit ini. 

Bantu sebarkan supaya tulisan ini sampai ke gedung istana, tempat para pembuat kebijakan yang mungkin tidak mengerti situasi di lapangan karena terlindungi oleh dinginnya AC ruangan.