Stay at Home Covid-19 Membuka Peluang Momentum Menjadi Orang Tua Hebat

Stay at Home Covid-19 Membuka Peluang Momentum Menjadi Orang Tua Hebat

Oleh: Dr.Abidinsyah Siregar

Amuk Covid-19 telah membalikkan banyak definisi yang selama ini diyakini kebenaran dan kekuatannya. Semula Negara menganggap dengan menjadi terkuat dibidang militer menjadi aman dari serangan yang menggempur warga dan negara.

Semula negara menganggap dengan kecanggihan tehnologi dan sistem kesehatan, maka menjadi kuat dan cekatan menghadapi serangan penyakit apapun.

Semula negara menganggap dengan modalitas Sumberdaya Alam yang melimpah bisa menguasai dunia dan membeli tehnologi untuk menaklukkan lawan.

Semula negara dengan pengalaman panjang sebagai kolonial dan penguasa lautan merasa bisa menaklukan apa saja di hadapannya. Semula negara dengan kekuatan ekonomi besar bisa menggunakan fiskal dan modal kekayaannya untuk mempengaruhi dan mengubah ancaman

Baca Juga

Ternyata semua negara, lebih 210 negara di dunia hari ini dalam ancaman yang tak terduga dan menggoncangkan. Bukan hanya ketakberdayaan sistem dan kecanggihan tehnologi kesehatan yang diuji, tapi juga merontokkan sistem sosial, ekonomi, pasar, komoditi, industri, produksi, distribusi sehingga semua menjadi langka, mahal dan mencemaskan.

Di era global, mobilitas manusia sangat aktif dan masif. Perpindahan virus antar manusia menjadi sedemikian mudahnya, walaupun hanya melalui 2 (dua) jalan yaitu dari berjabat tangan atau terhirup percik bersin atau batuk orang yang tertular.

Serangan Virus Covid-19 membuat semua orang berpikir mencari tempat paling aman. Disaat mana tidak ada tehnologi pemindai posisi dan lokasi sang virus, sementara koban paparan sudah ratusan, ribuan bahkan sudah jutaan. Dan hasil tracing maupun tracking atau pelacakan menunjukkan mereka terpapar di tempat dimana biasa orang-orang berada.

Presiden Joko Widodo sejak dini sudah mengingatkan agar jaga jarak dan cuci tangan, dan terakhir beliau mengingat agar “belajar dari rumah, bekerja dari rumah dan beribadah dibrumah, Di rumahsaja”.

Tempat paling aman itu di RUMAH.

Itulah sebabnya kampanye keselamatan untuk cegah sebaran virus Covid-19 adalah #DIRUMAHSAJA.

Peran Keluarga dalam Rumah

Konsep keluarga kini mengalami perubahan. Konsep Bapak sebagai Kepala Keluarga dan pencari atau pemenuh kebutuhan primer keluarga/rumah tangga mulai mengabur. Tidak sedikit keluarga Bapak/suami dan Ibu/istri yang sama-sama bekerja dan sama-sama “gila” kerja, sehingga rumah dan anak diserahkan kepada asisten rumah tangga. Anak-anak kurang terpantau perkembangan fisik, jiwa, intelektual dan moralnya.
Padahal setiap manusia punya masa-masa penting dalam hidupnya, yang jika dipahami akan menghasilkan generasi emas, dan kesempatan itu tidak berulang, bahkan cepat berlalu.

Dengan terjadinya kewaspadaan Covid-19, hampir semua kantor Pemerintah dan Swasta menerapkan sistem bekerja dari rumah (Work From Home).

Lebih 90 % karyawan di-WFH-kan secara bergantian. Seluruh aktivitas kantor seperti Rapat, Kordinasi, Penyusunan Konsep, Perencanaan dan bahkan Pengambilan keputusan dilakukan dengan media online seperti zoom meeting, Webex maupun tele conference.

Demikian pula pelatihan dilaksanakan secara online berbekal e-learning yang menjangkau puluhan bahkan ratusan orang diseluruh wilayah Indonesia.

Bagaimana setelah bekerja dari rumah, di lingkungan Keluarga? Kebiasaan kerja kantoran membuat banyak orang tua rada bingung dan kehabisan konsep untuk menciptakan suasana hangat dan dinamis dalam rumah.

Sering makan takut tidak sehat. Mau olahraga, sebentar sudah capek. Lihat tanaman tapi tidak tahu cara mengelolanya. Punya mobil bisanya cuma dipandang. Mau ke Mesjid atau Gereja, ditutup.

Tetapi momentum di rumah dengan kemudahan WFH dan kebijakan #Dirumahsaja seharusnya dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk anak dan keluarga.

Anak harus mendapat pengalaman baik dan tepat dari apa yang terjadi hari ini, untuk menjadi bekal hidup dimasa depan yang pasti menantang dan tak terduga.

Tidak ada ukuran lebih baik dari “anak cerdas berakhlak mulia plus keluarga yang sejahtera dan bahagia”.

Itulah putra putri kita, mereka bisa jadi apa saja, tergantung ayah bunda memberi jalan, mempersiapkan bekal mereka, bekalnya adalah apa yang ada dirumah.

Anak yang lahir dengan belaian kasih sayang akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan siap menghadapi masa depan..

ANAKMU BUKANLAH MILIKMU (Kahlil Gibran, Lebanese, 1883-1931),

Anakmu bukanlah milikmu Mereka adalah putra putri sang hidup yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau. Tetapi bukan dari engkau Mereka ada padamu.Tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu. Namun jangan sodorkan pemikiranmu. Sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya. Namun tidak bagi jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan….

Wujudkan, mulai sekarang, saat waktu ayahbunda dirumah..

Stay at home
Stay in growth.

Jakarta, 14 April 2020, 23.23

Dr Abidin, Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi BKKBN/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ GOLansia.com/ kanal-kesehatan.com.