Solar Langka Makin Langka di Indonesia, Ini Penjelasan Pertamina

Solar Langka Makin Langka di Indonesia, Ini Penjelasan Pertamina
Solar

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Solar langka di sejumlah daerah. Kelangkaan solar menimbulkan kekhawatiran Indonesia mengalami krisis energi seperti yang terjadi di Singapura, Inggris dll. Meski solar langka, Pertamina membantah Indonesia krisis energi. 

Solar langka di sejumlah daerah menimbulkan keriuhan di media sosial. Beberapa akun di media sosial Twitter menyampaikan keluhan atas langkanya solar di sejumlah daerah. “Numpang nanya followersnya @infomalang. Apa solar di Malang memang langka sekarang? Mau isi bahan bakan dimana2 solar kosong,” tulis akun Twitter, @dewiQuan_in.

Dihubungi Kompas.com, Pjs Senior Vice President Corporate Communications and Investor Relations PT Pertamina Fajriyah Usman mengatakan bahwa pihaknya memastikan kebutuhan BBM masyarakat terpenuhi, baik gasoline maupun gasoil.

Tercatat adanya peningkatan konsumsi di gasoil yang didominasi oleh solar subsidi. “Sepanjang semester I 2021 tercatat sebesar 37.813 kiloliter per bulan dan terus meningkat hingga mencapai 17 persen pada bulan September atau sekitar 44.439 kiloliter,” ujar Fajriyah, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (19/10/2021).

Sementara untuk sektor gasoline, peningkatan yang mencolok terjadi di Pertamax, dengan periode semester 1 2021 rerata bulanan sebesar 12.586 kiloliter, merangkak naik hingga mencapai kenaikan 49 persen di bulan September sebesar 18.840 kiloliter.

Fajriyah menambahkan, saat ini stock BBM dalam kondisi cukup sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dengan isu krisis energi dan tetap dihimbau membeli BBM sesuai kebutuhan. “Stok untuk produk yang meningkat signifikan yaitu solar mencapai 17 hari dan pertamax mencapai 18 hari. Pengiriman dari terminal BBM juga terus dilakukan setiap hari ke seluruh SPBU dan Kilang juga terus berproduksi sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” tutur Fajriyah.

Upaya cegah solar langka

Khusus untuk mencegah solar langka, PT Pertamina telah melakukan penambahan volume penyaluran ke beberapa wilayah mengalami peningkatan konsumsi secara signifikan seperti Sumatera Barat sebesar 10 persen, Riau 15 persen, dan Sumatera Utara 3,5 persen. “Mengingat solar adalah BBM bersubsidi, kami sangat cermat dalam melakukan penambahan penyaluran agar bisa tetap tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oknum-oknum tertentu,” tegas Fajriyah.

Selain penambahan penyaluran di wilayah yang terjadi peningkatan signifikan, Pertamina juga melakukan koordinasi dengan BPH migas untuk fleksibilitas pengalihan kuota BBM Subdisi di wilayah yang realisasinya masih di bawah target, ke wilayah lain yang berpotensi over kuota.

"Alhamdulillah sudah ada persetujuan dari BPH Migas, sehingga pengaturan kuota antar wilayah dapat dilakukan selama tidak melebihi pagu kuota nasional tahun 2021 yang ditetapkan BPH Migas,” papar Fajriyah.

Fajriyah menuturkan, guna memastikan distribusi berjalan lancar dan aman, pihaknya terus meningkatkan pengawasan di lapangan bekerjasama dengan aparat penegak hukum. Pihaknya juga berkoordinasi secara intensif dengan Pemda dan instansi terkait, hingga pemberian sanksi tegas kepada SPBU yang menyalurkan BBM tidak sesuai dengan ketentuan.

Jadi, meski stok solar di sejumlah SPBU habis dan menimbulkan kelangkaan, hal itu hanya sementara. Indonesia tidak akan krisis energi. (kontan)