Setelah Rizieq Pulang, Ya Sudah Biasa-biasa saja...

Setelah Rizieq Pulang, Ya Sudah Biasa-biasa saja...
Rizieq Shihab (foto BBC)

TENTU berbeda-beda respon masyarakat terhadap kepulangan Muhammad Rizieq Sihab dari Arab Saudi 10 November kemarin. Para pengikutnya menyambutnya bak pahlawan. Lebih-lebih kepulangannya pas tanggal 10 November yang oleh bangsa Indonesia diperingati sebagai Hari Pahlawan. Maka pendukung Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari Aceh,  tumpah ruah. Jalanan menuju Bandara Soekarno Hatta macet. Para calon penumpang pesawat terlambat tiba di  bandara. Akibatnya ada 118 penerbangan di Bandara Soekarno Hatta yang terpaksa delay. Secara tidak langsung banyak calon penumpang pesawat yang dirugikan.

Entah benar atau tidak kelompok pendukung Rizieq ingin menskenariokan kepulangan “junjungannya”  itu bak kepulangan Ayatullah Rohullah Khomeini dari Prancis ke Teheran (31 Januari 1979) setelah beberapa tahun dia terusir oleh rezim otoriter Presiden Iran Syah Reza Pahlevi. Khomaini lalu memimpin revolusi di negerinya dan berhasil. Atau meniru Benito Amilcare Andrea Mussolini  yang berhasil merebut kekuasaan di Italia  dari penguasa konstitusional saat itu (3 Januari 1925) melalui pidato di gedung parlemen. Para pendukung Rizieq mungkin lupa, bahwa pemerintahan Indonesia sekarang sangat kuat, didukung mayoritas rakyat dan partai koalisi yang kokoh di parlemen.  Berbeda dengan kondisi Iran di tahun 1979 dan Italia pada tahun 1925.

Pemerintah Indonesia menjelang kepulangan Rizieq pun mengantisipasi dengan baik. Melalui Menko Polhukam Mahfud MD, pemerintah minta semua pihak merespon kepulangan Rizieq dari Saudi dengan kepala dingin, biasa-biasa saja sebagai warga negara pada umumnya. Sampai-sampai ketika para pendukung menggunakan jalan tol semaunya, antara lain untuk parkir kendaraan dan dilewati kendaraan roda dua pun dibiarkan saja oleh aparat. Ada fasilitas di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta yang rusak pun tak masalah. Walaupun ada yang menyayangkan sikap aparat tidak responsif dan antisipatif, kesannya kok aparat takut kepada massa besar. Tapi ada juga yang memaklumi. Ya aparat sesuai garis pemerintah tidak perlu bersikap represif, agar tidak terkesan ada penekanan pada Rizieq bersama pendukungnya. Walhasil tak ada alasan untuk mendeskreditkan pemerintah dan di sisi lain Rizieq tidak dikesankan perlu berjuang keras untuk kembali ke Indonesia.

Dengan cara pemerintah menyikapi kepulangan Rizieq yang biasa-biasa saja  ternyata membawa hasil baik. Soal Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang kemudian “sowan” ke Rizieq pun disikapi biasa-biasa saja. Tidak usah dipersoalkan. Tak dipersoalkan itu manuver politik atau silaturahim biasa, biar saja masyarakat yang menilai. Kita setuju dengan pemerintah, berbaik sangka (husnuzon) saja. Itu hak sepenuhnya Anies. Yang dipertanyakan hanya soal tiadanya sense of crisis Gubernur Anies, ketemu di saat pandemi Covid-19. Kalau kemudian membuat para pendukung “kegeeran”, ya ajar-wajar saja. Kita kan tidak lupa bagaimana dulu kelompok FPI mempunyai andil besar atas terpilihnya Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta mengalahkan Basuki Cahaya Purnama alias Ahok.

Dengan sikap dingin pemerintah atas momentum kepulangan Rizieq membuat ekspektasi para pendukung untuk “mempahlawankan” Rizieq tak tercapai. Hari-hari ini semua biasa-biasa saja. Markas FPI di Petamburan kembali sunyi. Jika kemudian tak ada lagi manuver-manuver dari para elite pendukung Rizieq artinya tidak ada sesuatu yang perlu dirisaukan lagi. Niat Rizieq akan memimpin apa yang disebut “revolusi akhlak” ya monggo-monggo saja. Sejauh menuju hal yang positif, berdakwah dengan baik, ya silakan ramai-ramai didukung.  Ala kullu niyatin sholihah harus didukung dan tidak boleh dihalang-halangi. Tapi jika manuver atau ada perilaku yang bertentangan dengan ketentuan hukum, ya harus disikapi secara proporsional dan profesional, mesti direspon dengan aturan yang ada sebagaimana menghadapi warga negara lainnya. Di sini berlaku equality before the law. Jika kemudian terjadi pelanggaran hukum dan ada penindakan sesuai bukti-bukti yang ada semuanya perlu menghormati. Semua itu dalam konteks law enforcement, bukan kriminalisasi atau penzaliman.

Jadi sebaiknya kita menyikapi kepulangan Rizieq dengan sewajarnya, biasa-biasa saja. Jika ada kelompok yang melampiaskan kegembiraan kita anggap biasa-biasa saja, jika kemudian berlanjut sunyi maka bisa disebut momentum  kepulangan itu sebagai antiklimaks. Kita berharap sepulang Rizieq akan tercapai kedamaian dalam berdakwah dan dan bermasyarakat. Jika ingin memimpin revolusi akhlak sebagaimana yang diniatkan, mestinya selalu meneladani cara-cara Rasulullah Muhammad SAW berdakwah, dengan hikmah, mauidhah hasanah, dan santun, bukan dengan kegaduhan dan merendahkan pihak-pihak lain. Menyatu dalam entitas bangsa yang hidup rukun, damai, dan saling menghormati adalah hal ideal yang kita harapkan.

Bangsa Indonesia terus berjuang mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Semua orang memilki tugas yang sama untuk mencapai perwujudan itu. Memiliki jumlah ratusan ribu pendukung mesti disyukuri, sebagai anugerah Tuhan. Alangkah baiknya jika Riziek Sihab mampu membawa semua pendukungnya berkontribusi bagi pembangunan bangsa, menjadi problem solver bukan part of problem itu sendiri.

Missi dakwah di mana pun dan kapan pun adalah mengajak sesama untuk menuju kebaikan dan mencegah kemungkaran dan itu merupakan tugas kita bersama, bukan hanya tugas satu atau dua kelompok saja. Semuanya mesti dilaksanakan dengan sebaik-baiknya melalui cara-cara yang legal-konstitusional, bukan dengan cara-cara yang dimaui oleh masing-masing kelompok. Terlebih kita hidup dalam masyarakat yang majemuk, aturan kemajemukan itu mesti dipatuhi bersama dengan penuh kesadaran dan kedamaian. Kepulangan Rizieq ke Indonesia setelah bermukim di Mekah sesungguhnya menunjukkan kecintaan Rizieq terhadap Tanah Airnya. Jangan sampai cinta terhadap Tanah Air itu ternodai dengan tindakan dan perilaku yang melanggar ketentuan dan tatanan berbangsa dan bernegara.

Salam cinta damai.