Sebuah Renungan Paradoks Keadilan

Sebuah Renungan Paradoks Keadilan

Oleh Musa Asy'arie

BANYAK anak muda dari kalangan keluarga miskin, begitu gelap menatap masa depannya. Keadaan sekitarnya menunjukkan bahwa tidak mudah mendapatkan uang untuk bisa hidup layak. Mereka harus menyabung harga diri.

Akan tetapi di depan matanya juga memperlihatkan betapa mereka yang berasal dari keluarga kaya, begitu mudahnya menghamburkan uang untuk memuaskan dahaga kesenangan yang dikejarnya. Tanpa harus bekerja keras, mereka mendapatkan segalanya.

Betapa banyaknya musuh yang harus dilawan, tetapi musuh itu tidak kelihatan, sehingga menembak dan menyerangnya bagaikan memukul udara. Musuh itu terasa makin banyak dan kita semakin kerdil melawannya. Ini bukan halusinasi tetapi fakta hidup di depan kita.

Indonesia di tengah-tengah pergulatan yang penuh paradoks. Begitu nyata paradoks antara kata dan perbuatan yang diperlihatkan para pemimpin bangsa. Pancasila harga mati, tetapi di balik penyataannya itu Pancasila dikhianati. Pancasila dalam cita paradoks dengan Pancasila dalam fakta.

Ketika bencana mengepung kita, sepatutnya kita merenung kembali, bukankah semua itu akibat ulah kita sendiri, baik langsung atau tidak. Saatnya kita kembali ke titik awal kita bermula, yaitu mewujudkan bangsa merdeka yang adil dan makmur. Kemakmuran yang berkeadilan menyatu dalam keadilan yang berkemakmuran. Rakyat yang berdaulat, bukan rakyat yang yang telah dibeli kedaulatannya.

*Prof. Dr. Musa Asy'arie, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga,  Yogyakarta.