Satelit Telkom-3 Jatuh ke Bumi setelah Hilang 8 Tahun

Satelit Telkom-3 Jatuh ke Bumi setelah Hilang 8 Tahun
Ilustrasi satelit di luar angkasa. Foto/Free-Photos via Pixabay

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Satelit Telkom-3 milik Telkom akan jatuh ke Bumi pada Jumat (5/2/2021), demikian menurut laporan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Ini merupakan kali pertama benda jatuh antariksa berukuran besar milik Indonesia.

Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto dalam keterangan resminya menjelaskan kalau satelit Telkom-3 akan melakukan masuk ke Bumi pada tanggal 5 Februari 2021 antara pukul 14.30 WIB hingga pukul 18.30 WIB. 

Satelit itu pun sebenarnya sejak 30 Januari 2021 telah terdeteksi berada di ketinggian kurang dari 200 km dari permukaan Bumi.

Hingga berita ini dibuat, LAPAN masih memperkirakan kapan dan di mana lokasi satelit itu jatuh. Namun, berdasarkan prediksi terakhir mereka, satelit itu tidak akan jatuh di wilayah Indonesia.

“Ini prediksi terakhir kami dapatkan,” kata Humas LAPAN Jasyanto dikutip kumparan, Jumat (5/2).

Satelit Telkom-3 sendiri merupakan satelit buatan ISS Reshetnev, Rusia berdasarkan pesanan PT Telkom Indonesia, Tbk. 

Satelit tersebut sebenarnya diluncurkan 8 tahun lebih 5 bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 6 Agustus 2012 dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, namun gagal orbit dan menghilang karena masalah teknis.

Dalam keterangannya, Rhorom mengatakan ada ketidakpastian dalam prediksi waktu jatuh karena objek jatuh secara tak terkendali sehingga orientasi satelit serta hambatan udara yang dialaminya dapat bervariasi. Besarnya hambatan atau pengereman menentukan waktu jatuhnya satelit.

LAPAN menjelaskan, satelit yang berbobot 1,845 ton ini tidak mengandung bahan radioaktif. Sebagian besar massa satelit juga diperkirakan akan terbakar saat memasuki atmosfer, hingga menyisakan hanya 10-40 persen saja dari massa awalnya ketika sampai ke Bumi.

Adapun menurut perhitungan LAPAN, jatuhnya satelit Telkom-3 ke Bumi punya risiko korban jiwa yang amat rendah, yakni sekitar 1: 140000.

“Pertimbangan utama perkiraan risiko tersebut adalah distribusi populasi manusia di muka Bumi tahun 2021 serta inklinasi orbit Satelit Telkom 3,” jelas LAPAN dalam keterangan di situs web mereka. 

“Nilai risiko tersebut jauh di bawah ambang yang mengkhawatirkan, misalnya Amerika Serikat menggunakan ambang 1: 10000.”

Berdasarkan konvensi internasional sendiri, kerugian yang diakibatkan oleh benda antariksa yang jatuh akan ditanggung oleh negara peluncur. Negara peluncur itu terdiri dari meliputi negara pemilik, negara yang meluncurkan, serta negara tempat peluncuran.

Dengan demikian, LAPAN menjelaskan bahwa Telkom bakal jadi pihak yang bertanggungjawab menanggung kemungkinan kerugian karena mereka adalah pemilik benda antariksa tersebut, sesuai amanat UU 21 tahun 2013. Namun, sejauh ini Telkom disebut telah memiliki asuransi untuk menutup kemungkinan kerugian itu.