Gus Baha (6)

Sang Jenaka Abu Nawas

Sang Jenaka Abu Nawas
Fauzi Rahman

Oleh Fauzi Rahman

TIDAK bisa dipungkiri Gus Baha adalah sosok ‘Allamah — yang memiliki ilmu agama mendalam dan komplit, tapi juga cara menyampaikan ilmu yang sulit pun dengan kocak dan jenaka dengan tidak kehilangan substansi ilmu yang diuraikan.

Tak jarang audiens atau santrinya tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya, ditambah lagi dengan intonasi dan ekspresi Gus Baha yang riang gembira ketika memberi kajian.  

Materi seberat apa pun menjadi mudah dicerna, sayangnya sering memakai bahasa jawa sehingga muhibbinnya (pecintanya)  yang tidak mengerti bahasa jawa sering tidak "nyambung" walau juga ikut ketawa, ini kelucuan yang lain tentunya

Tulisan ini saya khususkan untuk hal-hal yang sifatnya humor dan anekdot maupun kisah, pembaca sudah bisa menebak tokoh kocak di dunia islam, terutama di kalangan pesantren nama yang satu ini tentu tidak asing lagi, siapa lagi kalau bukan Abu Nawas

Abu Nawas dinisbatkan hidup semasa dengan Khalifah Harun Ar-Rasyid, yaitu Khalifah kelima dari kekhalifahan Abbasyiah. Abu Nawas adalah putera dari syech Maulana seorang qodhi Kekhalifahan Abbasyiah, yang pasti sangat masyhur dengan kejenakaan sekaligus  kecerdasannya, banyak orang yang menganggap dia crazy, majnun alias gila

Bagi kita yang pernah menimba ilmu di pesantren mustahil tidak kenal dengan syair yang sangat jenaka ini, kalau di Jawa Timur biasa disyairkan habis dzikir shalat Jumat sebagai tanda prosesi jum’atan sudah purna.

Syairnya begini:

Ilahi lastu lil firdausi ahla
Wala aqwa ‘ala naril jahimi
Fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainnaka ghafirud dzambil ‘adhimi.

Allah aku tak pantas masuk syurga-Mu, tetapi aku tidak sanggup masuk neraka-Mu.

Untuk itu, terimalah taubatku dan ampuni dosa-dosaku, hanya Engkaulah yang bisa mengampuni.

Kalimatnya indah dan seakan menuntut,  “mengintimidasi” dan memaksa Tuhan, untuk menerima permintaannya, itulah gaya Abu Nawas ceplas ceplos seakan dengan Tuhan begitu akrab.

Bahkan dalam sebuah kesempatan, menurut Gus Baha, Abu Nawas pergi ke pasar, di banyak kerumunan orang dia berteriak-teriak memberi tebak-tebakan  begini: ana aghna minallah, ana akrohul haqqo wa uhibbul bathil (aku lebih kaya dari Allah, aku membenci yang haq dan mencintai yang bathil), tentu semua orang terperangah,  yang bisa menjawab tebak-tebakanku dengan benar aku kasih hadiah, tapi kalau tidak bisa dan tebakannya salah harus ngasih hadiah aku.  Banyak yang ikut menebak agar dapat hadiah dari Abu Nawas, khalifah Harun Ar-Rasyid termasuk yang ikut menebak.

Ahirnya Abu Nawas menjawab sendiri, aku lebih kaya dari Allah karena aku punya istri dan punya anak serta punya hutang sedang Allah tidak punya, selorohnya.
 
Aku benci yang haq karena al-mautu haq, an-naru haq (mati dan neraka itu hak) aku tidak suka mati dan tidak suka  masuk neraka. Aku suka yang bathil, aku suka wanita cantik dan seterusnya, jawaban seperti ini tentu guyonan tingkat tinggi dan hanya bisa dilakukan orang cerdas, karena Harun Ar-Rasyid tebakannya juga salah maka harus memberi hadiah pada Abu Nawas

Yang lebih lucu lagi, ketika Harun Ar Rasyid, konon tidak bisa tidur gara-gara melihat perempuan cantik, dia ingin sekali sama perempuan cantik itu tapi dia orang sholeh tidak mau melakukan hal yang dilarang, lalu membayangkan dan tidak bisa tidur berhari-hari,  untuk bisa tidur dia membuat sayembara, siapa yang bisa membuat aku  tidur akan dikasih hadiah.

Banyak pendongeng ulung yang mendaftar dan antri, termasuk Abu Nawas juga ikut mendaftar.

Pendongeng yang pertama dipanggil dan ternyata dongengannya tidak membuat Harun Ar-Rasyid bisa tidur, lalu dipecat dan diusir, diganti yang lain. Datanglah pendongeng yang kedua, nasibnya sama,  juga tidak membuat khalifah  bisa tidur. Lalu sampailah pada pendongeng yang ketiga, tak lain Abu Nawas. Waktu giliran Abu Nawas sudah larut dan capek, mungkin sekitar jam tigaan hampir subuh.

"Ayo Was, kamu dongeng agar aku bisa tidur,"  siap khalifah, lalu Abu Nawas mulai mendongeng.

Wahaiii khalifah ada semut masuk telinga seseorang lalu dia tidak kuat bau yang ada dalam telinga itu, maka semut keluar,  tapi si semut penasaran dengan bau telinga itu, maka ia masuk lagi, si semut gak kuat lagi dengan baunya lalu keluar lagi, tapi semut, kata Abu Nawas, masih terus penasaran lalu masuk lagi ke telinga orang itu,  lagi-lagi  semut gak kuat dengan bau dalam telinga itu, lalu keluar lagi.

Harun Ar-Rasyid tentu malas mendengar dongeng Abu Nawas yang monoton dan tidak berujung, lalu khalifah berujar sambil setengah marah,  "Sudah-sudah-sudah, Was. Ceritamu tidak  mutu, aku mau tidur saja. Akhirnya khalifah  tidur dengan nyenyak dan lupa dengan  keinginannya atas perempuan cantik itu. Akhirnya Abu Nawas yang menenangkan sayembara, dan mendapat hadiah dari Harun Ar-Rasyid
Dasar Abu Nawas, dengan cara apa pun harus menang, teori ilmu waras semua runtuh di hadapan Abu Nawas

Ketika mau mati  Abu Nawas masih sempat berwasiat pada puteranya

"Anakku, biar kelucuanku terus menjadi memori dan kebangaan bagi manusia sepeninggalku, maka buatlah gembok yang lebih besar dari pintuku. Ketika aku mati, pakaikan kain/kafan bekas, agar malaikat tidak tahu kalau aku jenazah baru, biar malaikat tidak mengintrogasiku, dalam pikiran Abu Nawas, seakan-akan semua bisa diakali, di situlah titik utama kelucuannya

Kejenakaan Abu Nawas yang menjadi selingan kajian Gus Baha tentu tidak semua bisa dipaparkan dalam tulisan ini, karena butuh halaman yang sangat banyak dan mungkin akan menjadi tulisan atau buku tersendiri

Mari ngaji dengan riang gembira. (*)

Penulis alumni PP Raudlatul Muta'allimin Situbondo, PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan Fak Syarian UIN SUKA Yogyakarta