Rupiah Menguat 32 Poin di Level Rp14.098 per Dolar AS

Rupiah Menguat 32 Poin di Level Rp14.098 per Dolar AS
CNBC Indonesia

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (13/1/2021) pagi, menguat 32 poin atau 0,23 persen.

Rupiah ditransaksikan ke posisi Rp14.098 per dolar AS dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.130 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, nlai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat 32,5 poina atau 0,18 persen ke level Rp14.097,5. Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Adapun mata uang greenback melemah, tercermin dari indeks dolar yang melemah 0,13 persen ke posisi 89,98.

Pada perdagangan kemarin, Selasa (12/1/2021), rupiah ditutup koreksi 0,04 persen menjadi Rp14.130 per dolar AS. Sejak awal tahun, rupiah masih menguat 0,57 persen. Pada saat bersamaan, indeks dolar AS menguat 0,03 persen menjadi 90.500.

Di regional Asia Pasifik, mata uang garuda tidak melemah sendirian. won Korea Selatan terpantau turun 0,25 persen, dan ringgit Malaysia turun 0,20 persen.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai rupiah masih rentan melanjutkan pelemahan pada perdagangan Rabu (13/1/2021) 

"Rupiah kemungkinan akan diperdagangkan pada kisaran Rp14.110 – Rp14.150 per dolar AS," tulisnya dalam riset harian, Rabu.

Ibrahim mengatakan kenaikan imbal hasil pemerintah di Amerika Serikat yaitu Treasury AS menunjukkan investor mengantisipasi belanja pemerintah yang lebih tinggi di bawah Pemerintahan Joe Biden.

“Ekspektasi itu mendorong dolar AS terus menguat,” imbuh Ibrahim.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pergerakan nilai rupiah pada hari ini masih akan dipengaruhi oleh kebijakan PPKM di wilayah Jawa-Bali. Hal ini diproyeksikan akan memperlambat proses pemulihan ekonomi khususnya di kuartal I/2021. 

Sementara dari luar negeri, ekspektasi perbaikan ekonomi AS, mendorong naiknya imbal hasil obligasi di AS. Hal tersebut mendorong investor kembali memburu mata uang dolar AS.

Ia melanjutkan, sentimen dimulainya proses vaksinasi virus corona di Indonesia belum akan mampu mendorong rebound mata uang garuda.

"Hal tersebut karena disaat yang bersamaan sentimen tapering off yang dilakukan AS akan mendorong penguatan lanjutan dolar AS," jelasnya saat dihubungi pada Selasa (12/01/2021). (Jo)