Rupiah Menguat 22 Poin di Level Rp14.013 per Dolar AS

Rupiah Menguat 22 Poin di Level Rp14.013 per Dolar AS

JAKARTA, SENAYANPOST.com  – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (21/1/2021) pagi menguat 22 poin atau 0,16 persen.

Rupiah ditransaksikan ke posisi Rp14.013 per dolar AS dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.035 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (20/1/2021), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 30 poin atau 0,21 persen ke level Rp14.035.

Nilai rupiah menguat di tengah tren serupa yang terjadi di Asia. Dolar Hong Kong memimpin penguatan mata uang Asia sebesar 0,33 persen, disusul won Korea yang juga menguat 0,25 persen. Adapun, indeks dolar ditutup melemah 0,20 persen ke level 90,313.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam laporannya menyebutkan, salah satu faktor penopang penguatan rupiah adalah sikap investor yang mencerna komentar dari calon Menteri Keuangan Janet Yellen. Yellen mengatakan akan mengeluarkan lebih banyak paket bantuan Covid-19 yang berimbas pada kenaikan daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi.

Sementara itu, Presiden terpilih Joe Biden dan pemerintahannya mulai menjabat di kemudian hari, dengan investor fokus pada proposal paket stimulus US$1,9 triliun minggu sebelumnya untuk meningkatkan ekonomi dan mempercepat distribusi vaksin Covid-19.

“Hari ini nilai rupiah akan kembali menguat di level Rp14.000 hingga Rp14.050,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Kamis (21/1/2021).

Sementara itu, dari dalam negeri, kondisi penyebaran covid-19 yang terus meningkat, membuat Pemerintah berencana memperpanjang penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Pulau Bali guna menekan laju penularan virus corona Covid-19.

Selain perpanjangan pengetatan PSBB, pemerintah juga terus melakukan stimulus berupa BLT sebesar Rp300.000,- yang sudah disalurkan, tujuannya untuk membantu masyarakat kembali beraktivitas dan masyarakat kembali percaya diri walaupun saat ini Indonesia dalam kondisi pandemi.

“Optimisme pemerintah dalam penanganan Covid-19 perlu diapresiasi oleh kita semua dan masyarakat wajib membantu dan mensukseskan program pemerintah tersebut, sehingga modal asing kembali masuk ke pasar finansial dalam negeri,” jelas Ibrahim. (Jo)