Rupiah Melemah di Level Rp14.090 Karena Kuatnya Dolar AS

Rupiah Melemah di Level Rp14.090 Karena Kuatnya Dolar AS

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (14/1/2021) pagi, melemah 30 poin atau 0,21 persen, seiring dengan masih kuatnya dolar AS.

Rupiah ditransaksikan ke posisi Rp14.090 per dolar AS dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.060 per dolar AS.

Pada perdagangan Rabu (13/1/2021), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 70 poin atau 0,50 persen ke level Rp14.060 per dolar AS. Indeks dolar di sisi lain turun tipis 0,01 persen menjadi 90,08.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah kemungkinan dibuka melemah di level Rp.14.000 - Rp.14.100," papar Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam siaran pers, Rabu (13/1/2021).

Mata uang rupiah masih dalam tekanan dolar AS. Ibrahim mengutip pernyataan Presiden Bank Federal Reserve Boston Eric Rosengren bahwa ekonomi AS akan terus kuat pada paruh kedua tahun ini karena vaksinasi tersedia secara luas, tetapi covid-19 masih mendorong ekonomi dan kebijakan moneter akan tetap akomodatif.

Ketua Fed Jerome Powell akan mengambil bagian dalam webinar pada hari Kamis, sementara Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde akan berbicara pada konferensi online di kemudian hari.

Di sisi data, AS akan merilis Indeks Harga Konsumen inti bulan Desember di kemudian hari. Data Indeks Harga Produsen (PPI) Desember, penjualan ritel inti dan produksi industri dijadwalkan menyusul pada hari Jumat.

Dari sisi internal, vaksinasi massal resmi dimulai. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Warga Negara Indonesia pertama yang mendapat suntikan vaksin CoronaVac buatan perusahaan farmasi asal China, Sinovac. Setelah Jokowi, ada beberapa pejabat yang ikut divaksinasi.

Meski prosesnya akan memakan waktu yang cukup panjang agar vaksinasi di seluruh Indonesia selesai, tetapi harapan akan hidup berangsur-angsur normal kembali menjadi kenyataan, dan yang terpenting perekonomian bisa kembali bangkit.

Sebagai informasi, bahwa distribusi vaksin adalah kunci pemulihan ekonomi. Tanpa vaksin, masyarakat masih akan defensif sehingga pertumbuhan penawaran tidak seimbang dengan permintaan.

"Namun, tanpa distribusi vaksin yang cepat, pemulihan ekonomi akan lebih mengarah ke U-shaped ketimbang V-shaped," imbuh Ibrahim. (Jo)