Rupiah Berpotensi Tembus Rp15.500 per Dolar AS Akhir Tahun ini

Rupiah Berpotensi Tembus Rp15.500 per Dolar AS Akhir Tahun ini
Rupiah

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, bahkan mendekati level Rp 15.000 per dollar AS, tertekan oleh dominasi sentimen eksternal. Kondisi tersebut diyakini masih akan berlanjut di sisa 2020, bahkan memberikan ruang untuk mata uang Garuda menyentuh level Rp 15.500 per dollar AS tahun ini.

Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Jumat (11/9), rupiah tercatat koreksi 0,24% ke level Rp 14.890 per dollar AS dari penutupan sebelumnya. Sedangkan pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau JISDOR rupiah mendarat di level Rp 14.979 per dollar AS akhir pekan ini. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan, pelemahan bakal berlanjut ke level Rp 14.950 per dollar AS hingga Rp 15.000 per dollar AS. 

"Pelemahan akibat derasnya aksi jual asing di bursa saham. Meskipun IHSG mengalami kenaikan 2,5% ke level 5.016, namun asing masih lakukan nett sell sebesar Rp 2,26 triliun pada hari ini," ungkap Bhima.

Adapun sentimen pelemahan rupiah, dinilai Bhima lebih bersifat global yakni terhentinya uji klinis vaksin Astrazeneca dan Oxford. Padahal, uji vaksin tersebut merupakan yang terdepan dan paling diharapkan dapat segera diproduksi secara masal. Dengan tertundanya uji klinis membuat prospek pemulihan ekonomi di saat pandemi ikut terganggu. 

Selain itu, sentimen negatif juga masih membayangi market akibat tren pelemahan harga minyak mentah dunia akibat turunnya permintaan global akibat pandemi. Ditambah lagi, stok produksi di anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Amerika Serikat (AS) masih cukup besar. 

Di sisi lain, sentimen dari dalam negeri berupa reaksi pasar keuangan terhadap PSBB total dinilai Bhima sudah dapat di absorb oleh investor sehingga sentimennya pun beragam di akhir pekan.

"Sisa tahun ini, level terlemahnya (rupiah) bisa Rp 15.500 per dollar AS, dengan potensi support di kisaran Rp 14.900 per dollar AS," tambahnya.

Adapun sentimen yang mampu jadi penopang depresiasi rupiah di sisa tahun ini seperti, membaiknya kinerja ekspor khususnya ke China. Dimana, permintaan ke Negeri Tirai Bambu secara bertahap mulai menunjukkan kenaikan dan permintaan barang ekspor bisa membaik. 

"Momentum itu harusnya bisa terus dijaga," tandasnya.