Rencong dan Proses Kreatif Gusmen Heriadi di Balik Jeruji Penjara

Rencong dan Proses Kreatif Gusmen Heriadi di Balik Jeruji Penjara

Oleh: Raihul Fajri

GUSMEN Heriadi tidak mengira sel penjara akan akan menjadi bagian dalam atmosfir berkeseniannya. Pada pameran retrospeksi bertajuk Belum Selesai di Jogja Gallery, 7 – 30 November 2021, selain memajang karya sejak periode awal 1995 berupa karya lukis dengan media kanvas dan kertas, Gusmen memajang belasan karya sketsa di atas kertas yang menggambarkan kehidupan di balik jeruji penjara.

Gusmen memang sempat menjalani hidup di lembaga pemasyarakatan. Kisah ini bermula ketika pelukis kelahiran Pariman, Sumatera Barat, 47 tahun lalu ini sering menyambangi Jalan Malioboro, Yogyakarta, untuk menjual karya sketsa mereka. “Sekadar penambah duit jajan dan makan,” katanya.

Pada suatu malam di bulan September 1997, sekelompok polisi berpakaian preman secara acak menggeledah pengunjung Jalan Malioboro, Yogyakarta. Gusmen ada di tengah keramaian Malioboro itu bersama beberapa kawannya. “Kami baru saja mengaso, setelah berjalan kaki berkilometer dari acara pembukaan pameran seni rupa,” ujar Gusmen.

Dari penggeledahan itu dari dalam tas bututnya, polisi menemukan sebilah rencong, di antara pensil dan alat alat gambar. Gusmen pun diboyong ke kantor polisi. “Padahal sudah aku jelaskan, rencong itu oleh-oleh seorang kawanku asal Aceh. Dia memberikannya sebagai cenderamata sewaktu kami bertemu di acara pembukaan pameran malam itu,” ujarnya.

Baca Juga

Tapi polisi tak perduli. Dia pun digelandang masuk sel Polres Kota Yogyakarta. “Perasaanku campur aduk. Takut, bingung, panik,” katanya. Tak pernah terbayang dia akan berada satu ruangan sempit dengan  sejumlah preman, perampok, dan pembunuh.

Perkara rencong pun disidangkan di Pengadilan Negeri Yogyakarta dalam kasus membawa senjata tajam yang merupakan tindak pidana ringan. Hakim memvonis Gusmen dengan hukuman penjara selama 1,5 bulan.

Bagi kalangan mahasiswa seni rupa di Yogyakarta dijebloskan ke penjara hal yang kerap terjadi. Biasanya karena kasus penggunaan narkotika—ganja—yang bagi sementara kalangan seniman merupakan bagian dari proses kreatif.

Setelah berstatus sebagai narapidana, penahanan Gusmen dipindahkan dari sel Polresta Yogyakara ke Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan Yogyakarta dengan jumlah tahanan dan kasus kriminal yang lebih beragam.

Tekanan perasaan campur aduk tak berlangsung lama. Di dalam kerangkeng dia justru banyak menemui berbagai kebaikan para penghuninya. Setelah tahu kasus dan statusnya sebagai mahasiswa seni rupa ISI Yogyakarta, Gusmen segera akrab dengan penghuni sel lainnya. “Rata-rata mereka menjalani hukuman karena kasus-kasus berat: preman, perampokan, dan pembunuh,” ujarnya.

Gusmen ingat, pemangkas rambutnya yang saat itu gondrong adalah seorang narapidana kasus perampokan. “Hasil pangkasnya cukup rapi,” kata Gusmen.

Setelah potong rambut selesai, dengan sopan dan setengah membujuk sang perampok menyodorkan potret pacarnya dan meminta Gusmen menggambar potret itu.

Kertas dan bolpoin dia peroleh dari Ibrahim, kawannya mahasiswa seni rupa Institus Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ibrahim membawa peralatan menggambar saat dia datang membesuk. Tak banyak memang. “Tapi cukuplah buatku untuk mengisi waktu,” ujar Gusmen.

Permintaan yang sama untuk dibuatkan gambar kemudian datang dari sejumlah narapidana pun mengalir. “Imbalannya apa saja. Rokok, kopi dan gula atau sekadar penganan,” kata dia. Lewat pergaulan semacam itu Gusmen akrab dengan sema penghuni Wirogunan.

Selama mendekam di LP Wirogunan, Gusmen menghasilkan berlembar-lembar karya sketsa. Kebanyakan merupakan rekaman suasana di dalam sel penjara. Ada suasana narapidana sedang sibuk membaca koran, sedang terlelap tidur di atas lantai, sedang melihat ke luar sel dari balik jeruji, sedang asik mengobrol, bahkan ada narapidana seperti sedang berteriak dengan mulut terbuka lebar.

Penghuni pejara menyenangi aktivitas Gusmen menggambar. “Mungkin dianggap hiburan,” ujarnya.

Di dalam penjara itulah Gusmen menyadari bahwa seni bisa meluluhkan kerasnya jalan hidup seseorang.

Dari pergaulannya dengan sesama narapidana itu ada beberapa hal yang dia pahami. “Rata-rata dari mereka tidak merasa benar-benar bersalah dan tak pantas dihukum,” kata dia. Selain itu, selama dalam penjara dia melihat realitas bahwa hukum bisa dibeli. Realitas ini dia lihat dari seorang Jaksa menemui kawannya dan meminta sejumlah uang. “Dengan dalih untuk meringankan hukumanku.”

Penjara pun bagi Gusmen juga tak semengerikan yang dibayangkan kebanyakan orang. Atau seperti yang ditonton kewat filem produksi Hollywood. “Ada banyak sisi kemanusiaan di sana,” ujarnya.

Gusmen malah merasa beruntung pernah mengecap kehidupan penjara. “Biar cuma sebentar, satu bulan setengah saja, tapi pengalaman itu memperkaya hidupku. Batinku,” katanya. Karya sketsa itu, 24 tahun kemudian menjadi bagian dari materi pameran retrospeksi 25 tahun proses kreatifnya. (#)

Raihul Fajri, wartawan senior, pemerhati seni