Ramadhan Kita Menuju Ketakwaan

Ramadhan Kita Menuju Ketakwaan

Oleh: Imas Senopati

ALHAMDULILLAH kita diberi karunia Allah Swt kesempatan menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan ini.  Insyaallah besok kita memasuki awal berpuasa. Kita berharap dapat melalui bulan suci ini  dengan sempurna. Tidak hanya menghindari makan dan minum, tetapi juga menghindari  hal-hal lain yang membuat puasa kita sia-sia,  seperti bergunjing, menyakiti hati orang lain, melakukan berbagai  kemaksiatan, dan sebagainya.

Untuk apa kita berpuasa? Tak lain untuk meraih ketakwaan sebagaimana difirmankan  Allah SWT dalam Quran surah Al Baqarah 118: "Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba alaikumus shiyaam, kamaa  kutiba alalladziina min qablikum laalakum tattaquun." (Wahai orang yang beriman. Telah kewajiban kepadamu berpuasa sebagaimana telah kewajiban kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu semua bertakwa.)

Jadi tidak ada tujuan lain kita berpuasa Ramadhan  selain untuk bertakwa kepada Allah SWT. Puasa Ramadan  itu kewajiban individual (wajib 'ain).  Semua muslim yang memenuhi persyaratan wajib berpuasa. Tidak perlu berpikir berpuasa agar kita menjadi langsing, agar kita lebih cerdas dan lainnya. Soal dampaknya dengan berpuasa banyak manfaat yang bisa dipetik, itu bukan tujuan berpuasa.

Berpuasa juga tak perlu lebai. Lalu membenci orang lain yang tidak berpuasa. Melakukan razia terhadap warung-warung makan yang buka. Yang wajib berpuasa itu orang mukmin dan tentu saja muslim. Saudara-saudara kita yang beragama lain tidak termasuk yang wajib berpuasa. Mereka tetap makan-minum di pagi dan siang hari. Warung makan menyediakan makan untuk mereka. 

Muslim pun ada yang dikecualikan untuk boleh meninggalkan puasa Ramadan. Mereka yang sakit atau sedang bepergian dalam batas tertentu (musafir). Muslimah yang sedang datang bulan, sedang nifas, boleh tidak berpuasa. Allah menggariskan dalam Al Quran Surah Al Baqarah ayat 184. "Barang siapa di antara kamu yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa) maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu)  pada hari-hari yang lain. Dan bagi yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin..."

Adalah tidak ada ajarannya dalam Islam, jika di antara kita umat Islam membakar warung, mengancam sesama warga yang tidak berpuasa. Jika melihat ada pelanggaran aturan di bulan Ramadan, laporkan dan serahkan penindakannya kepada aparat yang berwenang. Bukan bertindak dan "main hakim sendiri."

Yang tidak berpuasa mesti menghormati yang berpuasa. Sebaliknya kita yang berpuasa pun harus menghormati hak-hak mereka yang tidak berpuasa. Jadi saling menghormati.

Mari kita teguhkan niat puasa Ramadhan kita dengan sungguh-sungguh untuk menggapai ketakwaan, bukan untuk tujuan lain. "Inna aqramakum indallahi atqakum” Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa di antara kalian. (QS Al Hujurat ayat 13).

Mari kita isi bulan Ramadan dengan amalan-amalan yang baik. Bulan Ramadan adalah bulan solidaritas antar sesama, merupakan kesempatan yang baik bagi kita untuk berbagi kepada saudara-saudara yang dilanda musibah, hidup berkekurangan.

Di masa pandemi Covid-19, mari kita jadikan bulan Ramadan ini sebagai momentum untuk menjaga kesabaran dalam menjalankan protokol kesehatan, menghindari kerumunan, selalu memakai masker, dan menjaga kebersihan. Semua itu juga bagian dari ibadah untuk menjaga keselamatan bersama.

Ahlan wasahlan yaa Ramadan. 
Selamat berpuasa...