Prostitusi Online di Apartemen Green Pramuka, Polisi Amankan 12 Anak di Bawah Umur

Prostitusi Online di Apartemen Green Pramuka, Polisi Amankan 12 Anak di Bawah Umur

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat AKBP Burhanuddin mengungkapkan jajarannya mengungkap praktik prostitusi online di Apartemen Green Pramuka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Polisi langsung mengamankan sejumlah orang dan beberapa di antaranya masih berstatus di bawah umur.

Menurut Burhanuddin, Selasa (12/1/2021), kasus ini terungkap setelah adanya laporan dari salah satu korban yang masih berusia 13 tahun. Korban saat itu berhasil melarikan diri dan menceritakan kepada orang tuanya mengenai kejadian tersebut.

"Polisi berhasil mengamankan 47 orang, yang terdiri atas 24 orang laki-laki dan 23 orang perempuan. Dari jumlah tersebut, 12 di antaranya masih berstatus di bawah umur," kata Burhanuddin.

Ia menambahkan, pada September 2020, salah satu korban yang masih berusia 13 tahun dijemput salah satu tersangka inisial SDQ dan dijanjikan untuk diajak bekerja sebagai penjaga toko pakaian.

Korban yang masih belia tersebut terbuai oleh ajakan pelaku tersebut. Hal yang senada pun terjadi kepada orang tua korban yang sama sekali tidak menaruh curiga kepada tersangka.

Namun tersangka justru membawa korban ke Apartemen Green Pramuka. Di tempat tersebut, korban diminta melayani tamu-tamu untuk berhubungan intim.

"Tersangka SDQ dibantu SE dan CP menawarkan jasa berhubungan intim tersebut lewat aplikasi MiChat," ujar Burhanuddin.

Tidak tahan dengan perlakuan tersangka, pada 17 Desember 2020 pun korban berhasil melarikan diri dari apartemen tersebut. Orang tua korban kemudian melaporkan perkara tersebut ke Polsek Cempaka Putih pada 20 Desember 2020.

Polisi menetapkan delapan orang tersangka dalam kasus prostitusi online di Apartemen Green Pramuka, Jakarta Pusat. Delapan tersangka kasus tersebut berinisial SDQ (23), SE (16), GP (23) AM (DPO), MTW (DPO), FR (DPO), RND (DPO), dan SRL (DPO).

"Tersangka SDQ, laki-laki dia yang berperan menjemput, menyediakan tempat, melakukan penyekapan hingga menjual korban," katanya.

Tersangka SDQ diketahui menjadi aktor utama dari prostitusi online tersebut. Menurut Burhanuddin, tersangka SDQ yang berperan melakukan penjemputan kepada salah korban yang masih berusia 13 tahun dan meyakinkan orang tua korban.

Tujuh tersangka lainnya, lanjut Burhanuddin, diketahui berperan untuk melakukan pemasaran perihal praktik prostitusi online di Apartemen Green Pramuka tersebut.

Dia menambahkan, dalam mencari pelanggan, para pelaku menggunakan salah satu aplikasi di media sosial.

"Tersangka SDQ dibantu SE dan CP menawarkan jasa berhubungan intim tersebut lewat aplikasi MiChat," ujar Burhanuddin.

Head of Communications Green Pramuka City, Lusida Sinaga, menjelaskan salah satu penyebab terjadinya praktik prostitusi online di Apartemen Green Pramuka, karena adanya sewa apartemen harian secara ilegal.

"Salah satu penyebab terjadinya kasus prostitusi online adalah dikarenakan pemilik lewat broker-broker ilegal menyewakan unitnya secara harian, bahkan acapkali pemilik tidak mengetahui bahwa unitnya disewakan secara harian," kata Lusida.

Lusida menambahkan pihak Green Pramuka City tidak pernah melakukan penyewaan secara harian untuk menghindari kegiatan-kegiatan yang mengandung unsur kriminalitas.

"Green Pramuka City juga memiliki agen resmi dalam hal penyewaan, tetapi tidak menyewakan secara harian untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, baik untuk kegiatan prostitusi maupun aktivitas lain yang dapat menimbulkan keresahan," terang Lusida. (Jo)