Catatan Kluyuran ke Belanda dan Belgia (5)

Pesona Kampung Nelayan Vollendam

Pesona Kampung Nelayan Vollendam

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“AKU mau membuka laptop dulu, ya!”

Demikian ucap istri, pagi itu, selepas melaksanakan shalat Subuh. Alhamdulillah kami, meski berada di Kota Amsterdam, tetap melakukan kebiasaan kami berdua: bangun sebelum subuh. Karena itu, sebelum waktu shalat Subuh tiba, istri pun segera membuka laptop yang ia bawa. Meski  kamar hotel yang kami inapi sempit sekali. Sehingga, kami tidak dapat melaksanakan shalat dengan leluasa.

Beberapa tugas presentasi di rumah sakit, alhamdulillah, akhirnya dapat istri rampungkan selama beberapa hari di kota itu. Sedangkan saya, selain membuat catatan ringkas hasil perjalanan, juga “melahap” beberapa buku yang saya bawa dan beli di kota itu. Sambil menyiapkan outline (calon) buku-buku baru. Yang kerap kali muncul dalam perjalanan. Memang, ide-ide calon  buku baru saya kerap kali “mbrojol alis lahir” ketika saya sedang kluyuran sambil menikmati perjalanan. 

“Bekerja”, “Mengaji (menimba ilmu dan mencari pengalaman baru)”, “Mencari Ide Kreatif Baru”, dan “Kluyuran”, itulah yang kami lakukan setiap kali melakukan perjalanan. Ke manapun kami melangkahkan kaki. Baik ketika ke Singapura, Malaysia,Turki,  Hongkong, China, Macao,  Australia, atau ke negara-negara lain. Tidak aneh  jika, kini, penyakit “suka kluyuran” itu menular kepada dua putri kami (kini, yang sulung sudah “kluyuran” ke 25 provinsi di Indonesia, termasuk Aceh dan Papua, dan 18 negara. Sedangkan yang bungsu sudah “kluyuran” ke 14 provinsi dan 19 negara). 

Baca Juga

Kadang, kami “kluyuran” sekeluarga. Kadang mereka jalan sendiri.  Dengan kerap “kluyuran”, kami pun menjadi terbiasa membuat perencanaan mendadak, keluar dari zona nyaman, serta senantiasa siap menghadapi situasi dan kondisi tidak terduga dengan budaya, adat istiadat, dan agama yang beragam. Di mana pun berada, alhamdulillah. 

Ditemani Seorang Anak Muda Maroko

Nah, selepas istri usai melaksanakan shalat Subuh dan menanak nasi (dasar orang Indonesia, sulit berpisah dengan nasi), istri tiba-tiba berucap kepada saya, “Mas. Hari ini aku mau “mengaji” materi penyakit jantung yang dipresentasikan sore nanti saja. Pagi ini, bagaimana kalau kita “ngluyur”. Ke mana enaknya,  ya?”

“Baru sehari “mengaji” sudah membolos. Bagaimana kalau pagi ini kita pergi ke Desa Zaanse Schans, tempat kincir angin-kincir angin kuno di Belanda ini. Dari sana, kita pergi ke Vollendam, sebuah desa nelayan terkenal di negeri ini.”

“Membolos sih tidak. Kan selain “mengaji”, kita juga perlu “kluyuran”. Untuk membuka wawasan kita.” 

“Oke.  Jika begitu, hari ini kluyuran ke Desa Zaanse Schans dan Vollendam. Lalu, kita ke Amsterdam RAI. Setelah itu, kita “kluyuran” lagi. Naik dan turun trem di seputar Amsterdam, kan tiket kita dapat dipakai sepuas-puasnya. Dengan harga yang sama!”

Segera, kami pun berkemas-kemas. Saya, yang kerap menjadi tour leader ke berbagai negara, segera membaca peta Belanda. Dan, seusai menikmati breakfast, kami segera “bergerak” menuju Stasiun Amsterdam Centraal. Untuk memburu kereta api pagi. Tujuan kami, kala itu, adalah Stasiun Koog-Zaandijk. 

Kemudian, setiba di stasiun terbesar di Kota Amsterdam itu, kami kemudian pergi menuju ke loket penjualan tiket domestik, yang berada di seberang loket internasional. Kami pun membeli tiket “dagretour”: tiket pulang-pergi yang berlaku sehari, seharga 6.30 euro. Mahal, memang, kalau dihitung dengan rupiah. Itu pun untuk kereta api kelas dua. Bukan kelas satu dengan kursi yang mewah dan lapang. Kami mendapatkan jadwal kereta api dengan keberangkatan pukul 08.25 pagi. Waktu Amsterdam, tentu saja. 

Kami pun segera menuju ke peron 7 a, tempat mangkal kereta api yang akan menuju Koog-Zaandijk pagi itu. Untuk menuju peron tersebut, kita perlu naik ke lantai kedua dengan elevator. Begitu sampai di lantai dua, ternyata suasana masih sepi. Hanya ada satu atau dua penumpang yang sedang menunggu. Salah seorang di antara mereka adalah seorang anak muda ganteng dan berkulit putih. 

Semula, saya kira ia adalah seorang anak muda Belanda. Ternyata, ia adalah seorang anak muda keturunan Maroko. Ia bermaksud mengambil mobilnya yang ia parkir di luar kota. Tahu kami Muslim dari Indonesia, anak muda itu pun mendampingi kami dalam perjalanan menuju Koog-Zaandijk. Selama dalam perjalanan, anak muda yang bekerja di sebuah restoran di tengah Amsterdam dan tinggal di pinggir kota itu, hanya dengan ibu dan saudara perempuannya, banyak bercerita tentang kehidupannya di Kota Amsterdam. Selain itu, ia juga bercerita banyak tentang negerinya: Maroko. “Negeri kami indah, lo!” ucapnya. Sangat bersemangat. 

Tidak lama kemudian, kereta api yang akan menuju Koog-Zaandijk pun datang. Segera, kami mencari gerbong yang bertuliskan angka 2, karena kami membeli tiket kelas dua. Ternyata, ruangan yang kami tempati di kereta api itu nyaman sekali, meski hanya kelas dua. Kami memilih duduk di ruang lantai dua, karena dapat melihat dengan leluasa sekali pandangan di luar kereta api. 

Setelah berhenti beberapa lama, kereta api milik Netherlands Spoorwegen (NS) yang berwarna kuning-biru itu kemudian bergerak dan kemudian melaju cepat. Menurut keterangan bagian informasi, jarak tempuh antara Amsterdam Centraal-Koog Zaandijk, dengan kereta api, hanya 17 menit. Saya, yang pernah menjadi pengguna kereta Jakarta-Bandung setiap minggu selama beberapa tahun, pun bertanya dalam hati, “Bagaimana pihak NS mengelola kereta api ini demikian rapi dan tepat waktu?” 

Selain dengan manajemen perkeretaapian yang bagus, ternyata, berdasarkan pengamatan saya kala itu, rata-rata di Belanda jalur kereta api ada empat. Beda dengan di Indonesia yang kebanyakan hanya satu atau dua jalur saja. Pantas, efisien, tepat waktu, dan nyaman. Rasanya, kami hanya sebentar saja naik kereta api tersebut. Sekitar 15 menit saja. Sedangkan jika naik bus diperlukan waktu sekitar 40 menit. Juga, dari Amsterdam Centraal. 

Setiba di Stasiun Koog-Zaandijk, yang turun dari kereta api hanya delapan orang: kami berdua dan enam orang Jepang yang, ternyata, juga peserta kongres ESC 2013. Mungkin, karena masih pagi, baru sedikit orang yang pergi ke sana dengan naik kereta api. Mengikuti petunjuk yang ada, kami kemudian melewati terowongan. Setelah melewati terowongan, kami belok kiri dan kemudian belok kanan. 

Begitu belok kanan, di samping kanan dan kiri Stationsstraat (alias Jalan Stasiun) tegak rumah-rumah tradisional Belanda. Namun, saya tidak melihat satu pun warga yang nongol di rumah-rumah itu, meski di depan rumah-rumah itu banyak mobil sedang parkir. 

“Sepi banget begini, ya,” ucap istri. Sambil memandangi rumah-rumah yang cantik dan terawat baik itu. “Padahal, di depan rumah-rumah itu banyak mobil parkir.”

“Mungkin, karena baru pukul 09.00 pagi. Mereka masih tidur pulas. Selepas menikmati malam minggu,” jawab saya. “Barang kali saja.”

Setelah melintasi Stationsstraat, kami kemudian belok kiri. Eh, di situ tegak sebuah kincir angin besar dan kuno. Kami pun berfoto, sebagai kenangan, tentu saja. Kemudian, tidak jauh dari situ, kami belok kanan. 

Ternyata, di situ terbentang jembatan. Melihat jembatan itu, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” ke sebuah jembatan di dekat Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, karena sedikit ada kemiripan di antara keduanya. 

Kemudian, tidak jauh dari situ ada jalan belok ke kiri. Nah, di gerbang jalan itu terdiri kotak setinggi orang disertai tuas. Ketika tuas itu digerakkan istri, yang keluar ternyata peta Desa Wisata Zaanse Schans. 

Berfoto di Kampung Nelayan Vollendam 

Begitu memasuki desa wisata itu, yang sangat rapi, bersih, dan tenang, di situ berdiri sederetan rumah-rumah tradisional. Kami pun masuk ke desa itu. 

Ternyata, di situ tegak enam kincir angin berukuran besar. Masing-masing kincir-kincir angin itu memiliki nama dan fungsi yang berbeda: “De Huisman”,  tempat pembuatan rempah-rempah, “De gekroonde Poelenburg”, tempat pembuatan gergaji, “De Kat”, tempat pembuatan cat, “De Zoeker”, tempat pembuatan minyak, “Het Jonge Schaap”, tempat pembuatan gergaji, dan “De Bonte Hen”, tempat pembuatan minyak. 
Selain kincir angin-kincir angin, di desa itu juga terdapat beberapa museum: museum wine, museum keju dan bengkel cara membikinnya, museum klompen, museum Albert Heijn, dan museum Zaanse Schans. 

Mengingat waktu yang terbatas, kami hanya “melongok” keenam kincir itu saja dan tidak sempat memasuki museum-museum tersebut. Ketika kami meninggalkan lokasi tersebut, kami lihat rombongan para dokter dari Indonesia, dengan naik beberapa bus, baru saja datang. Dari Desa Zaanse Schans, kami kemudian kembali ke Stasiun Koog-Zaandijk. Jalan kaki, tentu saja. 

Tidak lama kemudian, datanglah kereta api yang membawa kami kembali ke Stasiun Amsterdam Centraal. Karena ketika berangkat kami telah membeli tiket “dagretour”, maka ketika dari Koog-Zaandijk kami tidak perlu membeli tiket lagi. Sekitar seperempat jam kemudian, kami sudah tiba di Stasiun Amsterdam Centraal. 

Setelah turun dari kereta api, kami lantas menuju ke bagian belakang stasiun. Di situ, kami membeli tiket bus EBS yang menuju Vollendam. Ternyata tiket seharga 15 euro itu berlaku selama sehari dan dapat digunakan untuk naik bus EBS. Ke mana saja. 

Menunggu tidak lebih dari lima menit, datang kemudian bus nomer 118 (ke Vollendam kita juga bisa naik bus nomer 110). Sepanjang perjalanan, kami melihat kebun-kebun yang juga dijadikan tempat penggembalaan sapi-sapi perah. Semuanya terawat bagus. Dan, tidak lebih lima puluh menit kemudian, tibalah kami di Desa Vollendam, sebuah kampung nelayan Belanda. 

“Wow! Bersih, rapi, dan asri sekali,” seru istri. “Andaikan Pantai Pangandaran atau Pantai Gili Trawangan di Lombok dapat dibuat seperti ini, tentu kian banyak pengunjungnya.”

“Ya, andai saja,” jawab saya sambil tersenyum. “Mungkin, karena di Indonesia terlalu banyak pantai indah. Akibatnya, pengelolaannya seenaknya saja. Lihat orang-orang itu. Betapa santai sekali mereka naik sepeda, ke sana ke mari. Tidak ada mobil satu pun yang tidak menghormati mereka.”

Tidak jauh dari tempat pemberhentian bus itu, tiba-tiba kami melihat enam orang yang berpenampilan “Indonesia banget”. Kami pun menyapa mereka. Ternyata, mereka memang orang Indonesia. Dan, mereka tinggal di situ. “Duh, di mana-mana bertemu dengan orang Indonesia. Padahal, kampung ini kan ‘di ujung dunia’,” gumam saya dalam hati.

“Bapak dan Ibu ke sini naik apa?” tanya mereka.

“Naik bus dari Stasiun Amsterdam Centraal,” jawab saya. “Memangnya kenapa?”

“Berani sekali,” sahut mereka. “Biasanya orang-orang Indonesia, ketika pergi ke sini, ikut tour group.”

“Kami memang suka kluyuran sendiri kok.”

Segera, kami berpamitan dengan mereka, karena waktu yang terbatas. Segera pula, kami menuju ke arah Kampung Nelayan Vollendam. Meski tidak besar, kampung itu tertata rapi, bersih, dan nyaman. Di situ, banyak kafe dan restoran yang menyajikan sea-food. Tentu saja, kampung itu kan kampung nelayan. 

Ketika kami berjalan kian jauh, eh di sisi kiri jalan kami menemukan sebuah toko foto, Toko Z. Begitu melihat ke etalase toko itu, ternyata di situ terpampang foto-foto sejumlah tokoh papan atas Indonesia. Mereka mengenakan pakaian ala nelayan Vollendam, “Lo, itu kan foto Prof. Dr. Din Syamsuddin. Kenapa dijajakan di situ,” gumam saya begitu melihat foto-foto itu.

Itulah pintarnya toko tersebut. Tampaknya, untuk memikat supaya orang-orang Indonesia, termasuk saya dan istri yang akhirnya juga ikut-ikutan berfoto di situ, toko itu “menjajakan” foto-foto para pemuka Indonesia. Termasuk foto Ibu Megawati dan Pak Taufik Kiemas (alm). Tidak aneh, ketika melihat foto-foto para pemuka itu, banyak orang Indonesia yang tertarik ikut berfoto di situ.

Karena asyik ‘kluyuran’ ke Zaanse Schans dan Vollendam, tidak terasa waktu sudah mendekati pukul dua siang. Karena perut kelaparan, dan tidak membawa bekal, akhirnya kami mengikuti jejak para mahasiswa Malaysia dari Inggris yang asyik menikmati nasi kuning ala Belanda dan udang goreng. 

Hal itu kami lakukan setelah kami bertanya kepada mereka, apakah makanan yang mereka nikmati halal atau tidak. Sayang, rasa nasinya hambar sekali. Tanpa sambal soalnya. Segera, kami pun mengeluarkan sambal dari tas punggung kami. “Sedap, kan, kini!” ucap istri kepada saya. 

Selepas menikmati makan siang, di Vollendam, kami segera kembali ke Amsterdam Centraal dan kemudian menuju gedung Amsterdam RAI. Setelah istri ‘mengaji’, saya pun ingat pesan Mas Muzammil Basyuni, mantan wakil duta besar Indonesia di Mesir dan mantan duta besar Indonesia di Suriah, yang berpesan kepada saya sebelum saya berangkat ke Belanda, “Mas. Cari Pak Ahmad Naf’an Sulchan atau Meneer KH. Hambali di sana, ya.” 

Teringat pesan itu, saya pun kebingungan, karena tidak punya sama sekali ‘data’ mereka. Apalagi, saya belum kenal dan belum pernah bertemu dengan mereka. Akhirnya, saya pun mengambil keputusan untuk tidak jadi mencari mereka. Karena itu, seusai istri ‘mengaji’ tentang penyakit jantung, kami pun mengambil keputusan untuk ‘kluyuran’ lagi. Kali ini, kami menuju Osdorp.

Eh, ketika di tengah perjalanan, kami bertemu seorang anak muda asal Kediri, Mas Suherman. Ia baru saja pulang bermain badminton. Ketika ia kami tanya tentang masjid orang Indonesia di Kota Amsterdam, Masjid Al-Ikhlas, kami kemudian ia ajak menuju Sekolah Dasar Islam El-Amien yang terletak tidak jauh dari Osdorpplein. “Mari saya antarkan ke sana,” ucapnya penuh semangat. “Saya tadi siang juga ikut pengajian di sana, kemudian main badminton bersama seorang teman.”

Sayang, ketika sampai di sana, pengajian mingguan yang mereka adakan baru saja bubaran. Meski demikian, kami sempat  bertemu dan berbincang dengan beberapa pengurus sekolah tersebut, alhamdulillah. Dan, dari sekolah itu kami kemudian ‘kluyuran’ lagi hingga agak larut malam. Ke berbagai penjuru Kota Amsterdam. Sampai akhirnya kami hapal berbagai sudut kota tua itu. Ya, hapal Kota  Amsterdam dengan berbagai sudutnya! (Bersambung)