Gus Baha (7)

Pesan Sang Ayah

Pesan Sang Ayah

Oleh: Fauzi Rahman

TULISAN ini saya fokuskan pada pesan-pesan Sang Ayah Gus Baha, yaitu al-hafidz KH. Nursalim yang Gus Baha selalu banggakan.

Dalam setiap kesempatan ngaji atau ceramah Gus Baha sering sekali menyebut nama bapaknya—-mungkin ratusan kali, tentu ini cerminan, bukti dan bakti serta kecintaan Gus Baha terhadap ayahnya. 
Dalam tulisan ini tidak seluruhnya pesan dan pandangan ayahnya bisa ditulis, tapi paling tidak sudah mewakili ungkapan-ungkapan ekspresi diri yang ada dalam ceramah atau kajian Gus Baha.

Dalam memberi pesan kepada puteranya biasanya KH. Nursalim langsung memanggil dengan panggilan pendek, Ha'.... maksudnya tak lain adalah KH. Ahmad Bahauddin Nursalim.

Pertama

Ha'...... kamu harus hafal al-Qur'an karena aku dan mbah-mbahmu semua hafidz, kalau kamu sampai tidak hafal nanti akan menjadi alasan atau argumen dzurriyah-mu/anak-anak keturunanmu untuk tidak berupaya sungguh-sungguh menghafal dan memahami al-Qur'an, toh ayahnya tidak hafal dan tidak paham.

Di sinilah titik krusial dalam menjaga marwah keluarga penghafal al-Qur'an, tradisi seperti ini sangat penting terus digelorakan agar keluarga penghafal al-Qur'an menjaga kesinambungan kecintaan pada kitab sucinya. Sekali saja mata rantai ini terputus maka akan sulit tradisi ini bisa berlanjut, karena keturunan berikutnya akan menganggap remeh, tidak terlalu penting dan bahkan nantinya hanya akan sibuk membanggakan masa lalu, saya turunan ini, sedang dia sendiri kehilangan jatidirinya.

Kedua.

Ha'..... kalau pikiran, perasaan dan hatimu ingin benar, maka sering baca dan belajar karya kitab para ulama terdahulu biar pikiranmu seperti pikiran ulama dan seakan kamu berada ditengah-tengah mereka.

Gus Baha merasakan betul kalau pesan ayahnya itu benar dan mendorongnya kebih semangat, ketika saya baca kitab ihya ulumiddin maka pikiran dan perasaanku seperti al-ghazali dan bersamanya, begitu pula ketika membaca kitab yang lainnya seperti Ibnu Hajar al-Asqolani, Ibnu Hajar al-haitami dan seterusnya, ini penjadi penting karena bisa mengetahui khazanah pemikiran yg unggul dimasa lalu.

Makanya pada setiap momen penting saya selalu mengkhatamkan satu kitab setebal apapun untuk menjadi pengingat dan kenangan sebagai wujud kecintaan saya pada ilmu dan ayah saya.

Misalnya ketika anak saya mau sunat (khitan), agar jadi pengingat maka saya mengkhatamkan Kitabul al-Maqshod al- Asna fi Syarhil Asma’ul Husna.

Juga ketika mau peringatan haul Bapak, saya mengkhatamkan Kitab Kifayatul Atqiya, begitulah cara Gus Baha menandai momen penting dengan terus memperkaya ilmu dengan mengkhatamkan kitab-kitab penting.

Ketiga

Ha’....... santri diajari ngaji kitab jangan sampai hanya hafal al-Qur’an tetapi tidak paham kitab, itu tugasmu Ha’. 

Ini pesan Ayah Gus Baha pada akhir hayatnya, dimana pesantren Ayahnya di narukan hanya fokus pada hafalan dan pemahaman alQur’an, tidak mengkaji disiplin ilmu lain.

Sebagai pemenuhan atau katakanlah wasiat ayahnya maka ketika Gus Baha menggantikan ayahnya terjadi perubahan besar di pesantrennya, dimana santri selain menghafal al-Qur’an juga ngaji  tafsir, hadits, fikih, tasawuf dan sebagainya

Keempat

Ha'......Kalau ngaji harus guyon, harus ceria.

Agama harus membawa kecerahan hati, kalau agama dibawa orang-orang keras dan berwajah masam (merengut) maka masyarakat akan mencari hiburan alternatif, yang bukan tidak mungkin hiburannya hal yang maksiat, bawalah masyarakat dan santri bahagia di majlis ilmu, apalagi mereka setiap hari sudah ruwet dengan kehidupannya, prinsipnya selain dapat ilmu juga harus bahagia, hal seperti ini adalah salah satu strategi atau cara menandingi dominasi maksiat maka  ngaji harus dengan ceria tanpa menafikan substansi.

Kelima

Ha'...Aku suka marung (makan di warung sederhana) sekedar minum kopi dan makan pisang goreng, orang menyangkanya kok kyai marung. Aku tak pernah malu meskipun aku kyai, aku support mereka yang membuka warung meskipun cara berpakaian masih relatif terbatas dalam menutup aurat, aku bangga dengan upayanya melakukan yang halal untuk kehidupan keluarganya, betapapun dia telah melakukan yang terbaik dengan tidak menjual "barang" nya sendiri, orang kadang melihat kebaikan dari satu sisi dan kadang bukan hal yang sangat dasar dalam agama, kalau dia sampai jual "barangnya" sendiri maka kitalah yang ikut berdosa.

inilah sekelumit pesan Kyai Nursalim pada puteranya yang cerdas Gus Baha, dari lima poin ini saja kita bisa menyimpulkan  bahwa yang penjadi pesannya adalah hal yang mendasar, yakni menjunjung Agama dengan cara yang tidak sulit dan menakut-nakuti.

*Penulis, alumni PP Raudlatul Muta'allimin Situbondo, PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan Fak Syariah UIN SUKA Yogyakarta