Sepenggal Kisah Hidup Khalid bin Al-Walid

Pertobatan Seorang Jenderal Kondang (1)

Pertobatan Seorang Jenderal Kondang (1)
Ahmad Rofi'Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

 

MEREKA kini telah pergi. Meninggalkan diriku sendirian. Dalam kesesatan dan keangkuhan palsu. Selamat jalan, saudara-saudaraku!”

Demikian gumam Khalid bin Al-Walid, lirih sambil menahan lelehan air matanya, ketika menyaksikan kepergian Rasulullah SAW. dan rombongan kaum Muslim. Yang menyertai beliau dalam perjalanan itu kembali ke Madinah Al-Munawwarah. Selepas mereka melaksanakan umrah qadha’.

Usai bergumam demikian, Khalid bin Al-Walid kemudian mengarahkan pandangannya ke seputarnya. Entah mengapa, dalam dirinya tiba-tiba bergejolak perasaan sangat muak. Terhadap segala sesuatu yang ia lihat. Entah mengapa pula, kini, ia merasa sangat benci. Terhadap orang-orang, bumi, bangunan, dan kuda-kuda di sekitarnya. Ketika ia mendengar perbincangan orang-orang itu, gelegak kemuakannya nyaris tidak tertahankan lagi. Kini, ia merasakan keasingan sangat mendera kalbunya.

Ya, keasingan terhadap hingar-bingar di sekelilingnya dan teman-temannya yang menghujaninya dengan pujian dan sanjungan. Juga, terhadap Abu Sufyan bin Harb yang menyambutnya dan menceritakan perkembangan terakhir. Juga, kepada ‘Ikrimah bin Abu Jahal yang menyatakan bahwa “perang tidak boleh tidak akan berkobar lagi”. Malah, kini ia juga muak terhadap perjanjian sementara yang disepakati. Ia kini bungkam seribu bahasa. Tidak seperti sebelumnya, kini ia  menjadi malas, enggan makan, minum, maupun bertutur kata. Semalaman, betapa sulit ia memejamkan matanya. Pikirannya galau, kacau, dan mimpi buruk senantiasa memburunya. Ya, memburunya, memburunya, dan memburunya.

Tidak terasa kedua kakinya menyeret dirinya pulang ke rumah. Barangkali, di tengah-tengah keluarganya, penderitaan dan kesedihannya sedikit terobati. Dengan pikiran hampa dan wajah tanpa cahaya, ia memasuki rumahnya. Duh, ternyata rumahnya pun tampak laksana bui nan sempit, menakutkan, dan hampir mencekik napasnya. Tiada sedikit pun kedamaian, ketenangan, dan ketenteraman mewarnainya.

“Ada apa, Khalid?” tanya isterinya. Yang melihat Khalid bin Al-Walid resah dan gelisah.

“Mereka telah pergi,” gumam Khalid bin Al-Walid. Pelan dan nyaris tidak kedengaran.

“Aku tidak mengerti apa yang engkau maksudkan, Khalid.”

Khalid bin Al-Walid pun tersentak sadar, mendengar ucapan isterinya itu. Ia pun segera menyadari, ucapan itu keluar dari mulutnya tanpa kendali. Segera, ia menjawab, “Aku sedang tidak enak badan.”

Isterinya pun meraba kening Khalid bin Al-Walid. Mungkin, keningnya terasa panas olehnya. Ucap isterinya dengan suara resah, “Demamkah engkau, suamiku?”

Khalid bin Al-Walid hanya tersenyum. Memang, tetes-tetes keringat membasahi keningnya. Kemudian, ucapnya lirih, “Tidak. Aku baik saja.”

Segera, benak Khalid bin Al-Walid mendidih kembali, memikirkan apa yang sedang ia hadapi. Ia lupa segala yang ada di sekitarnya. Tiba-tiba, ia seakan melihat bayang-bayang yang cepat bergerak. Tampak olehnya, ia sedang berada di medan pertempuran. Tiba-tiba pula ia menarik napas panjang. Dengan perasaan puas. Sedangkan isterinya memandangnya dengan perasaan resah dan gelisah. Tiba-tiba Khalid bin Al-Walid berteriak keras, “Mungkinkah semua itu kepalsuan belaka?”

“Apa yang engkau maksudkan, sayang?” tanya isterinya. Dengan perasaan sangat takut dan khawatir.

“Masa silam yang panjang. Pertempuran demi pertempuran yang penuh darah. Kepahlawanan yang penuh sanjungan. Pidato-pidato yang menawan. Dan, omongan yang senantiasa mendapatkan tepukan dari para pendengar dan tokoh Makkah. Mungkinkah semua itu hanya bayang-bayang dan tipuan belaka? Aku tidak percaya. Aku tidak percaya!”

Sejenak Khalid bin Al-Walid mengatur gelegak napasnya. Kemudian, ucapnya pelan, “Namun, harus kuakui, sikap berdiam diri kadang merupakan tindak kejahatan. Laksana ucapan dusta. Ucapan palsu merupakan pelacuran dan ketakutan merupakan kehinaan terbesar. Peperangan demi kebiadaban merupakan cela abadi. Malah, merupakan kekalahan yang memalukan bagi jiwa manusia. Tiada halangan apapun bagi seseorang untuk mengemukakan kebenaran. Memang, hanya Muhammad seorang yang berani menyatakan seruannya, ‘Wahai manusia! Aku ini adalah Utusan Allah.’ Orang-orang pun berpaling darinya. Mendustakannya. Melecehkannya. Memburunya. Tapi, ia tetap mengemukakan seruannya. Kebahagiaan dalam macam apakah yang ia rasakan seusai menyerukan kata-kata itu. Sendirian dan tanpa perasaan gentar dan takut?”

Dengan ketakutan isterinya mengelus-elus dada Khalid bin Al-Walid. Kemudian ucapnya, “Benarkah apa yang baru kudengar, sayangku. Engkau mengigau, ‘sikap berdiam diri kadang merupakan tindak kejahatan. Dan, ucapan palsu merupakan pelacuran’. Apa maumu, Khalid?”

Khalid bin Al-Walid pun menarik napasnya dalam-dalam dan mengeringkan keringatnya. Kemudian, ia duduk dan berucap lirih, “Apakah engkau ada di sini?”

“Oh, suamiku! Engkau terkena penyakit jahat.”

Khalid bin Al-Walid pun memalingkan pandangannya. Ke langit. Kemudian, dengan suara lirih nyaris tidak kedengaran, ia berucap, “Aku tidak melihat siapapun. Selain dia.”

“Siapa dia, Khalid?”

“Dia yang telah menyadarkan keberadaanku di semesta alam ini dan memendari penglihatan serta pandanganku. Ucapannya telah membangkitkan aku. Dari relung kekelaman dan kegelapan.”

Mendengar ucapan Khalid, detak jantung isterinya nyaris tidak tertanggungkan lagi. Seakan badai keras menghantam rumahnya. Kini, terungkap sudah apa yang sedang dihadapi suaminya. Ia pun mendekati suaminya, dan dengan tubuh gemetar ia duduk di samping suaminya. Pundak Khalid pun ia raba dengan lembut dan perasaan sayang.

Sejenak mereka terbenam dalam keheningan. Namun, segera keheningan itu pecah. Ucap lirih Khalid bin Al-Walid, “Kini mereka telah pergi. Meninggalkan aku dalam keadaan asing. Entah mengapa, tiba-tiba terasa kedua kakiku seakan terhunjam di bumi kotor. Tubuhku pun basah olehnya. Aku berusaha bergerak. Tapi, sia-sia belaka. Aku berusaha mengucapkan selamat jalan. Tapi, kata-kata itu berantakan tanpa makna. Seakan, belenggu-belenggu jahat merantaiku di bumi dan membungkam mulutku. Ini semua karena aku takut. Percayakah kau? Percayakah kau?”

“Engkau, seorang jagoan perang yang terkenal piawai, takut? Bagaimanakah engkau bisa takut?” tanya isterinya. Apa adanya.

Berderailah tawa Khalid bin Al-Walid. Kemudian ucapnya dengan penuh penyesalan, “Di hari-hari yang lalu, betapa kata-kata itu begitu memabukkan aku. Tapi, kini, kata-kata itu menerobos masuk ke dalam diriku laksana anak panah cela. Jagoan perang macam apa yang kau maksudkan? Sejatinya, hingga kini aku belum pernah meraih kepahlawanan sejati. Dalam Perang Uhud aku maju menerjang dengan menaiki kudaku. Dengan maksud hanya untuk membunuh Muhammad. Andai hal itu benar-benar terjadi, niscaya sejarah mencatat, ‘leher Khalid bin Al-Walid berkalungkan darah seorang Nabi’. Aku bakal dicaci maki. Dari satu generasi ke generasi.”

“Darah seorang Nabi?” tanya isterinya. Penuh keheranan.

“Ya. Darah seorang Nabi!”

“Apakah engkau memercayai kenabiannya?”

“Ya! Ya! Ya! Ketika belenggu-belenggu itu berjatuhan dan ikatan itu lepas dari kedua mataku, jendela-jendela kalbu dan pikiranku pun terkuak, sedangkan cahaya menerobos masuk. Aku pun dapat melihat kebenaran. Mestinya hal ini tidak kukatakan di sini. Aku akan keluar ke jalan dan berteriak sekeras mungkin, ‘Ohoi! Orang-orang yang kehausan mata air. Ohoi! Orang-orang yang memerlukan bekal yang tidak pernah habis. Ohoi! Para pendukung kejahatan. Bantinglah serulingmu! Pecahkanlah gelas-gelas minuman kerasmu! Jauhi nyanyianmu yang menyesatkan! Duniamu sia-sia belaka! Ikutilah Muhammad!”

Khalid bin Al-Walid pun keluar ke jalan dengan langkah yang pasti dan entakan kaki yang membuat kecil nyali. Tampak, ia sedang berusaha keras menyirnakan perasaan takut, sedih, dan kepalsuan yang menggelayuti dirinya. Tiba-tiba ia melihat sekelompok orang. Segera, ia menuju ke arah mereka dan berseru, “Ohoi! Saudara-saudaraku! Jelas kini, Muhammad bukan seorang penyihir. Juga, bukan seorang penyair. Kini, jelas bagiku, ucapannya berasal dari Tuhan semesta alam. Wajar bila orang yang berpikiran bening mengikutinya!”

Khalid bin Al-Walid pun menyatakan keislamannya. Diikuti istrinya. Kaum musyrik Makkah yang mendengar berita itu pun terhenyak. Laksana tersambar petir. Lidah mereka kelu dan mata mereka pun terpaku.

 (Bersambung)