Perintah Tembak Mati..

Perintah Tembak Mati..
Denny Siregar

Oleh: Denny Siregar

"SIKAT aja kalau dia gak mau datang. Ini perintah langsung dari atas.."

Pesan tengah malam itu membuat semua yang ada di ruangan langsung terjaga. Perintahnya jelas, tidak ada yang boleh merasa dirinya lebih besar dari negara. Macam-macam, habisi.

Pesan itu diteruskan ke sebuah tempat di Bogor. Disana pun keadaan sedang tegang. Mereka belum ada yang tidur, sedang menyusun rencana-rencana yang akan mereka lakukan.

Rencana yang paling memungkinkan, melakukan negosiasi untuk mengulur waktu. Dalam proses negosiasi, mereka akan mengumpulkan ormas-ormas lain untuk berkumpul sebagai tameng hidup. Lokasi di Bogor akan dijadikan tempat peperangan. Anak-anak dan wanita akan ditempatkan di depan supaya ketika terjadi masalah, isu HAM akan diluncurkan. 

Baca Juga

Jika itu bisa terjadi, jalan belakang sudah disiapkan untuk kabur dari medan. Luar negeri kembali jadi tujuan, masalahnya bagaimana bisa keluar dari negara ini ?

Tapi sialnya, ormas-ormas yang dihubungi sudah angkat tangan. Mereka sudah dihubungi untuk tidak ikut campur masalah ini, atau sekalian dihabisi. Bagi para petinggi ormas itu, dunia masih lebih menarik daripada membela sampai mati seseorang yang tidak begitu mereka kenal juga. 

Waktu berjalan sangat cepat. Keringat dingin mulai keluar. Harus ada keputusan, kalau tidak akan datang serbuan tanpa ampun. Jika sebuah organisasi sudah dicap teroris, maka segala tindakan yang perlu akan dilakukan untuk mematikan gerakan. Tidak akan ada pelindung lagi buat mereka..

"Bagaimana, bib ?" Tanya seorang pengacara. 

Yang bersangkutan terduduk merenung. Pada intinya dia tidak ingin kehilangan semua kenyamanannya, semua kekuasaannya. Penjara adalah ruang kecil dimana seseorang akan menjadi sangat kecil dan tak berdaya. Tapi dia juga takut mati. Sebuah pilihan yang sangat sulit bagi dirinya malam itu.

Sesudah beberapa waktu, dia keluar dari kamar. Lalu bicara pada orang-orang yang setia menunggunya di dalam ruangan.

"Kita kalah. Saya juga sudah tua dan lelah. Saya hanya ingin nanti kumpul dengan anak cucu saya.."

Usia ternyata berpengaruh pada dirinya. Pada akhirnya dirinya menjadi rasional. Semua puja puji hilang malam itu. Dia ternyata manusia biasa juga. Bukan dewa seperti yang orang kira.

Kisah ini diceritakan dengan sangat detail sambil ditemani secangkir kopi. Beberapa kisah harus disembunyikan demi keamanan. Tapi cukuplah untuk tahu apa yang terjadi, bahwa apa yang tampak di permukaan belum tentu apa yang terjadi.

Seruput dulu..