Penjualan Mobil Meroket, Gaikindo: Program Diskon PPnBM Berhasil

Penjualan Mobil Meroket, Gaikindo: Program Diskon PPnBM Berhasil

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Sekretaris Umum  Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo)  Kukuh Kumara, mengungkapkan, relaksasi PPnBM yang diberikan pemerintah berhasil menaikkan penjualan mobil di dalam negeri. 

"Ini mendukung, jadi programnya berhasil, itu yang kita harapkan," kata Kukuh Kumara, Senin (12/4/2021).

Pada Maret catatan retail penjualan mobil meningkat 65,1 persen dibanding Februari.

Menurutnya, seluruh anggota Gaikindo menjual kendaraan secara retail sebanyak 77.511 unit dan wholesales 84.910 unit pada Maret. Retail naik 65,1 persen sedangkan wholesales naik 72,6 persen dibanding Februari.

Bertumbuhnya penjualan didukung relaksasi PPnBM yang mulai berlaku pada 1 Maret untuk 21 mobil produksi lokal kategori maksimal 1.500 cc dengan local purchase komponen minimal 70 persen.

Menurut Kukuh relaksasi PPnBM dimulai 1 Maret merupakan momen yang pas. Dia menganggap program dari pemerintah ini sebagai faktor 'gas' untuk memajukan industri otomotif saat Indonesia sedang dilanda faktor 'rem'.

"Justru momennya ya pas, ini kan gas sama rem. PPnBM ini kan gasnya, kan kita rem juga ada protokol kesehatan, itu masih berlangsung. Di satu sisi kan ada kecenderungan tren menurun (kasus harian positif Covid-19) nasional, vaksinasi sudah jalan, jadi ini kegiatan harus kita jaga," kata Kukuh. 

Sementara itu, Kukuh menganggap mudik sekarang sebagai faktor rem, meski sebelum pandemi kegiatan transportasi massal ini merupakan salah satu momen pendukung penjualan mobil karena kebutuhannya meningkat.

Mudik pada tahun ini telah dilarang pemerintah sebagai pendukung penanganan pandemi. Kukuh mendukung masyarakat menahan diri untuk mudik sebab ada risiko peningkatan kasus positif.

"Saya melihat ini dari remnya, karena kalau mudik ini jalan, kemudian kita PSBB lagi (karena kasus positif meningkat), (penjualan mobil) drop lagi, kita enggak punya alternatif lain lagi mau mengangkatnya kayak apa. Walaupun relaksasi PPnBM masih berlaku, tapi kemudian kalau Covid naik kan enggak ada alternatif lagi," ujar Kukuh. (Jo)