Pemikiran KH Wahid Hasyim dalam Perumusan Pancasila dan UUD 1945

Pemikiran KH Wahid Hasyim dalam Perumusan Pancasila dan UUD 1945
Ilustrasi | KH Wahid Hasyim

Oleh: Imas Senopati

PEKAN DEPAN, tepatnya 1 Juni 2021, Hari Kelahiran Pancasila diperingati bangsa Indonesia. Hari Lahir Pancasila merupakan hari bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Pancasila sendiri merupakan ideologi dan landasan berbangsa dan bernegara. Banyak tokoh terlibat dalam perumusan Pancasila, termasuk KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari dan juga ayah KH Abdurrahman Wahid.  Kebetulan KH Wahid Hasyim lahir pada tanggal yang sama dengan Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni 1914.

KH Abdul Wahid Hasyim merupakan pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) yang turut menghiasi perjalanan politik bangsa Indonesia. Ia masuk dalam Subkomite BPUPKI yang dibentuk untuk mencari jalan keluar terbaik bagi masa depan bangsa. Saat itu memang BPUPKI, badan bentukan Jepang ini bertugas mempersiapkan bentuk dan dasar negara.  Subkomite BPUPKI akhirnya berhasil merumuskan dasar negara. Hasil kesepakatan yang dikenal dengan nama “Piagam Jakarta”  itu lantas dicantumkan dalam preambul UUD 1945 yang disahkan pada 22 Juni 1945. 

Dalam salah satu sila Pancasila hasil rumusan Wahid Hasyim dkk antara lain tercantum kata-kata ".. kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya". Ternyata rumusan ini diperdebatkan dalam sidang BPUPKI berikutnya. Wongsonegoro, misalnya, menganggap bahwa anak kalimat itu bisa menimbulkan fanatisme karena seolah-olah memaksa umat Islam menjalankan syariatnya. Demikian dilansir dari buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia, Penerbit Narasi. Tetapi menurut Wahid Hasyim, yang merupakan putra tokoh pendiri NU KH Hasyim Asy'ari ini, kalimat tersebut tidak akan berakibat sejauh itu. Ia juga mengingatkan bahwa segala perselisihan yang timbul bisa diselesaikan secara musyawarah. 

Pemikiran Wahid Hasyirn juga sempat mewarnai rancangan pertama UUD. Ia pernah mengusulkan agar pada Pasal 4 ayat 2 rancangan UUD disebutkan bahwa yang dapat menjadi presiden dan wakilnya adalah orang Indonesia asli dan beragama Islam. Selain itu, pada Pasal 29, Kiai Wahid Hasyim menginginkan rumusan sebagai berikut: "Agama Negara adalah Islam dengan menjamin kemerdekaan bagi orang-orang yang beragama lain untuk beribadat menurut agamanya masing-masing." 

Baca Juga

Alasannya sederhana, jika presidennya Islam, perintahnya akan dengan mudah dipatuhi rakyat yang mayoritas muslim. Selain itu, Islam sebagai agama negara mendorong umat Islam berjuang membela negaranya. Dengan alasan itulah akhirnya, gagasan mantan Ketua Masyumi itu diterima BPUPKI. Tapi melalui perdebatan usulan itu kemudian ditinggalkan dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan I ndonesia (PPKI). 

Dalam penggalan sejarah berikutnya Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama di tiga periode pemerintahan yang berganti-ganti itu: Kabinet RIS (Desember 1949-Desember 1950), Kabinet Mohammad Natsir (September 1950-April 1951), dan Kabinet Sukiman (April 1951-April 1952). 

Di zaman Wahid Hasyim, Departemen Agama memiliki visi dan misi yang jelas. Di bawah kepemimpinan Wahid Hasyim, NU menyatakan keluar dari Masyumi pada 1952. Selanjutnya, NU berkibar sendiri sebagai partai politik. Dalam Pemilu 1955, NU termasuk empat partai yang memperoleh suara terbanyak, setelah PNI dan Masyumi. 

KH Wahid Hasyim wafat ada tanggal 19 April 1959. Ia tak sempat menyaksikan ketika 40 tahun kemudian, puteranya, Gus Dur, terpilih menjadi Presiden RI. Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat Nahdlatul Ulama (NU). Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya. Pada saat itu, Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto dan putra sulungnya, Abdurrahman ad-Dakhil, yang kemudian hari menjadi Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pada waktu itu, sekitar daerah Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan. Lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi KH. Abdul Wahid Hasyim bannya mengalami selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan.

Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Saat terjadi benturan, KH. Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti. Keduanya luka parah. Wahid Hasyim terluka bagian kening, mata serta pipi dan bagian lehernya. Sementara sang sopir dan Abdurrahman tidak cidera sedikit pun. Sedangkan mobilnya hanya rusak bagian belakang.

Lokasi kejadian kecelakaan tersebut memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pukul 16.00 datang mobil ambulans untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di Bandung. Selama menunggu mobil ambulan Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto sudah tidak sadarkan diri, bahkan setibanya di rumah sakit, kondisi beliau berdua masih belum bisa sadar. Hingga pada pukul 10.30 WIB hari Ahad, 19 April 1953, Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt, pada usia 39 tahun. Setelah beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00 WIB, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.

Atas wafatnya KH. Abdul Wahid Hasyim, maka berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, karena mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya beliau turut berjuang sampai kemerdekaan nusa dan bangsa.

Wahid Hasyim mengakhiri masa lajangnya pada usia sekitar 25 tahun dengan menikahi seorang gadis yang berumur 15 tahun, yaitu Solichah binti KH. Bisyri Syamsuri seorang pendiri dan pemimpin Pesantren Denanyar, Jombang serta salah satu pendiri Nahdlatul Ulama dan pernah juga menjadi Rais Aam PBNU. Dari perkawinan ini Wahid Hasyim dikaruniai enam anak putra dan putri, diantaranya Abdurrahman ad-Dakhil (mantan Presiden RI), Aisyah (Ketua Umum PP Muslimat NU, 1995-2000), Shalahudin al-Ayyubi (Insinyur lulusan ITB dan Pengasuh PP. Tebuireng), Umar Al-Faruq (dokter lulusan UI), Lilik Khadijah dan Muhammad Hasyim. 

Wahid Hasyim kecil adalah sosok anak yang mempunyai kelebihan dengan otak yang sangat cerdas. Diusianya yang baru tujuh tahun, beliau sudah khatam al-Qur’an. Beliau belajar al-Qur’an langsung kepada ayahnya (KH. Hasyim Asyari).

Menginjak dewasa, Wahid Hasyim memulai pendidikanya dengan belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, atau setelah selesai dari di bangku madrasah, beliau diminta oleh ayahnya untuk membantu mengajar adik-adiknya dan anak-anak seusianya.

Sebagai anak tokoh, Wahid Hasyim tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Beliau lebih banyak belajar secara otodidak. Selain belajar di madrasah, beliau juga banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa arab. Wahid Hasyim mendalami syair-syair berbahasa arab dan hafal di luar kepala, selain menguasai maknanya dengan baik. Pada usia 13 tahun beliau melajutkan pendidikannya ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Sayangnya, beliau hanya bertahan satu bulan. Dari Siwalan pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi beliau di pesantren ini, mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja.

Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan Wahid Hasyim hanyalah keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya. Soal ilmu, demikian mungkin ia berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara apa saja. Tapi soal memperoleh berkah, adalah masalah lain, harus berhubungan dengan kiai. Inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama dari Wahid Hasyim ketika itu. Sepulang dari Lirboyo, Wahid Hasyim tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Sebab, menurut ayahnya, Wahid Hasyim bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar.

Dan betul saja, selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak. Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri. . (Dari berbagai sumber).