Pembakaran Manusia di Markas Gebung, Ngawi

Pembakaran Manusia di Markas Gebung, Ngawi

Oleh: Dr. KH Amidhan Shaberah

DUA puluh tujuh orang disuruh masuk ke sebuah markas kosong. Lalu pintu dikunci. Dan ....blur....markas itu dibakar PKI. Terbayang, bagaimana jeritan orang-orang yang panik dan terkurung api itu. 

Begitulah kekejaman orang-orang palu arit terhadap rakyat yang tak menyukainya di  Gebung, 1948 -- saat mana  Indonesia baru merdeka dan menghadapi Belanda yang ingin menjajah kembali. Orang-orang PKI boro-boro ikut berjuang menegakkan NKRI. Mereka malah sibuk membunuhi rakyat agar PKI berkuasa. 

KH Juremi, 87, ulama  asal dusun Gebung,  Desa Palangkidul, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi -- saksi hidup tragedi pembakaran manusia  itu -- mengisahkan bagaimana seorang aparat kelurahan -- memerintahkan sebagian warganya untuk datang ke markas Gebung.

“Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu Kliwon. Bayan (seorang aparat Kelurahan) memerintahkan kami untuk datang ke Markas Gebung. Katanya diajak rundingan untuk pembagian tanah. Kami bersama teman-teman berangkat ke markas Gebung tersebut."

Ketika baru tiba, kami disambut oleh orang-orang PKI dengan penuh keramahan, bahkan sempat diperkenalkan teman-temannya yang lain. Di antaranya adalah paman saya sendiri Sastrorejo, Paklik (adik dari ayahnya) Imam Nawawi, ada Yoso Sularjo, Sandar Dukun, serta teman-teman lain yang sama-sama bertemu dengan pimpinan PKI, yaitu Pak Abu (Mandor Banyu). 

Kita diajak berbincang-bincang ke sana ke mari.Mereka katakan, bahwa kami semua akan dilindungi dari ‘tentara hijrah’. Sementara kami tidak tahu siapa yang dimaksud tentara hijrah. Lalu kami disuruh masuk ke dalam markas Gebung tersebut. Ternyata di dalam markas  sudah ada orang-orang dari Talangsari dan desa lainnya. Termasuk Pak Ngalimun, salah seorang kawan kami. Jumlahnya kurang lebih  27 orang.

Waktu itu kira-kira pukul 8.00 malam, terdengar ada suara ‘ dup ‘ gitu. Sementara ada kayu-kayu yang dibungkus kain di   ujungnya dan kemudian masing-masing disiram bensin. Kemudian dinyalakan dengan api. Ternyata di dalam rumah sudah banyak kawul (kayu sisa yang tipis-tipis), sehingga gampang sekali mengobarkan api.  Api berkobar di dalam rumah itu dan terus membakar seluruh isi rumah. Sementara pintu rumah dikunci kuat-kuat.

Ternyata orang-orang PKI itu telah menipu kami dengan berpura- pura bersikap baik, padahal kami akan dibakar hidup-hidup. Kemudian kami yang terkurung di dalam rumah berteriak- teriak minta tolong. Sambil membaca Allahuakbar, tiga kali, kami mendorong pintu yang diikat dengan rantai besar. Pintunya pada saat itu langsung jatuh, kemudian kami berhamburan keluar menyelamatkan diri. 

Namun di luar rumah kami disambut dengan sabetan pedang, golok, kayu dan senjata-senjata lainnya. Kami tidak sanggup melihat kanan kiri lagi, dan langsung lari sekencang- kencangnya untuk menyelamatkan diri. Sejumlah teman yang sama-sama di dalam rumah, tampak berjatuhan, kemudian ada yang dimasukan kembali ke dalam markas Gebung tersebut, untuk dibakar hidup-hidup. Saya lari sejarah 2-3 km, terus lari ke rumah mertua di pelosok desa.  Karena kalau saya kembali ke rumah pasti akan dicari lagi dan dibunuh. Jadi saya tinggal  di rumah mertua, menunggu tenang dan aman. Sampai akhirnya mendengar berita dari teman-teman bahwa  Gebung  sudah dikuasai  tentara hijrah  (baca: tentara Siliwangi).

Setelah rumah dibersihkan dari sisa-sisa api, ditemukan banyak mayat. Tujuh 7 orang di antaranya kemudian dipindahkan ke Makam Pahlawan Ngawi. Di Gebung itu kami ditahan selama 12 hari, hampir hampir tidak diberi makan. Sementara para anggota Pemuda rakyat, suka pesta dengan makan daging kerbau, sapi, ayam -- hasil merampas milik penduduk.

Saksi korban lain yang masih hidup adalah Ngalimun bin Abdullah, lahir bulan 12 tahun 1928. Pada saat kejadian (tahun 1948), dia berusia 20 tahun. Menurut keterangannya, dia dijemput bersama temannya antara lain Somodimojo, Saefur dan Ramlan. Mereka ditawan selama enam hari. Selama ditawan tidak diapa-apakan, tapi tidak dikasih makan, hanya dikurung dan tidak bisa keluar. Para anggota PKI yang menculik itu, bilangnya akan melindungi dari tentara hijrah (tentara Siliwangi dari Jawa Barat yang ditugaskan pemerintah Pusat  menumpas gerakan pembangkangan PKI).

“Sewaktu kami berlarian, saya melihat kakak saya Rusdi jatuh, kemudian dipukul pake kayu balok terus langsung dimasukan ke dalam markas Gebung yang sedang terbakar. Kemudian saya tidak ingat lagi sudah sejauhmana saya berlari, kemudian saya lari ke rumah saudara. Bagi yang keluar dan tertangkap langsung dibunuh. Saya juga diparang, tapi tidak apa-apa," cerita Ngalimun.

*Dr. KH Amidhan Shaberah, Ketua MUI (1995-2015)/Komnas HAM (2002-2007)