Pandemi Covid dan Budaya Rileks

Pandemi Covid dan Budaya Rileks
As'ad Said Ali

Oleh: As'ad Said Ali

SEKITAR 14 Feb 2020 bersama teman, saya mendarat di Bandara  SUTA dari Penang dan Singapura. Pada saat itu Penang masih terbuka, tetapi Kualalumpur dan Singapura sudah dinyatakan tertutup (lockdown). Di bandara SUTA mulai hari pertama menerapkan check temperatur dan identitas untuk tracing , tetapi terkesan sangat santai sehingga sebagian lolos dari pemeriksaan.

Meskipun media semakin hangat memuat berita ancaman pandemi dan pemerintah mulai menyusun strategi dan persiapan  menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi, masyarakat tampak  tenang tenang saja. Bahkan ketika tempat isolasi mulai dipenuhi pasien dan sebagian penderita Covid satu demi satu meninggal, masyarakat masih sibuk debat tentang wabah bengis tersebut.

Sebulan kemudian mulai timbul kesadaran masyarakat tentang kehadiran covid 19, tetapi reaksinya tetap santai - santai saja. Seruan aparat pemerintah yang nyaring dengan intensitas tinggi, seolah didengar telinga kanan dan keluar ditelinga  kiri.  Sikap atau reaksi tidak banyak berubah atau santai saja sesuai dengan “budaya kita” yang rileks sebagai pengaruh iklim yang ramah.

Prokes mulai semakin ketat  diterapkan disemua area publik untuk memaksa masyarakat mematuhi disiplin sosial. Tidak terkecuali di tempat tempat ibadah. Namun hal itupun sering menjadi perdebatan seolah tidak menyadari bahaya covid yang tidak kasat mata.

Akhir Desember 2020 saya terkena OTG , sedang isteri harus dirawat. Kebetulan saya sudah menyiapkan obat-obat yang diperlukan dan prosedur untuk mendapatkan pengobatan. Dalam keadaan sakit, ada beberapa teman yang menghubungi minta tolong keluarganya sakit. Saya merespons cepat dengan mengirim obat, herbal dan medis sekali gus. Ternyata hampir setahun dikelilingi Covid, rupanya banyak yang belum paham bagaimana mengantisipasi virus.

Masyarakat baru tersentak kaget ketika varian Delta dari India datang menyerbu Jawa Tengah, Jawa Timur dan menjalar terus ke seluruh Jawa Bali terus meluas ke seluruh Indonesia. Korban bergelimpangan di mana mana dalam jumlah yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Muncullah kesadaran kelompok untuk membangun sikap gotong royong atau kebersamaan. Dan hal ini ternyata memudahkan pemerintah dan aparatnya untuk bertindak tidak seperti sebelumnya dan virus pun mulai melandai.

Masyarakat bergerak serentak, bak  pepatah seperti banteng ketaton, bangun melawan covid.  Dalam keadaan terpepet atau bahaya besar, “patriotisme” timbul secara dahsyat. Seperti bangkitnya perlawanan arek-arek Surabaya melawan pasukan SEKUTU walau hanya dengan senjata seadanya.Budaya rileks sesuatu yang sudah melekat pada diri kita sebagai bangsa bukan suatu yang negatip yang dibuktikan dengan  “kita bisa bersama bangkit “dan melawan Covid .

Persoalannya adalah budaya terlalu rileks menjadikan kita sebagai bangsa kehilangan daya antisipasi, sehingga lambat dalam mengambil tindakan yang diperlukan. Padahal era globalisasi adalah era persaingan teknologi yang tajam dan hal itu memerlukan antisipasi agar kita tidak ditelan oleh bangsa yang lebih kuat secara teknologi.

Budaya rileks berakar dari kedalaman spiritual yg membuahkan kearifan bangsa dan itu merupakan suatu nilai positif. Tetapi itu tidak cukup, pada saat yang sama perlu  sikap dinamis guna meyesuaikan dengan tantangan yang dihadapi.  Jelasnya kita generasi muda memerlukan penguasaan teknologi tinggi secepatnya.

* Dr. KH As'ad Said Ali, mantan wakil Kepala BIN dan mantan Wakil Ketua Umum PBNU.