Orang Hebat Di Balik Jokowi

Orang Hebat Di Balik Jokowi
Denny Siregar

Oleh: Denny Siregar

SEJAK PERTAMA kali kenal dengan AM Hendropriyono, saya kagum sekali. Usia beliau sudah di atas kepala 7 tapi semangatnya membéla negara seperti anak muda usia 30. 

Pak Hendro lah yang mengajarkan saya untuk mencintai negeri ini, dengan darah tertumpah jika harus begini. Beliau menasehati, mengajarkan strategi, mengubah cara berfikir sehingga bisa melihat sesuatu dengan luas, tidak dari dalam kotak.

Yang menakjubkan, pak Hendropriyono bukan hanya memberi nasehat untuk bangsa pada usianya yang sepuh, ia juga bergerak, memberikan motivasi, pemikiran, bahkan menggerakkan banyak hal. 

Beliau pernah bercerita sama saya, paling bosan kalau diajak makan siang sama pak Jokowi, _"Menunya tempe lagi tempe lagi..", katanya yang bikin saya ngakak.

Baca Juga

Salah satu penasehat Presiden di urusan keamanan yang tidak ingin tampil ke muka publik, dia ada di belakang layar karena buatnya, di usianya yang sekarang, harus banyak berbuat bukan lagi sibuk mengumpulkan materi.

Pernyataan beliau yang paling berani,

"WNI keturunan arab jangan jadi provokator di negeri ini.."

Dan semua ribut, menganggap beliau rasis. Padahal yang dimaksud tentu kepada beberapa pihak, seperti Rizieq dan kroni-kroninya, bukan kepada semua keturunan Arab, karena beliau juga berteman dengan mereka semua. 

Tapi itulah pernyataan paling berani buat saya, supaya banyak orang sadar, jangan pernah menyembah-nyembah orang hanya karena dia mengaku cucu Nabi dan dimanfaatkan buat membuat rusuh negeri ini.

Beliau jaringannya luas mulai rakyat sampai pejabat. Dan pak Hendro lah, setahu saya, yang memberikan banyak masukan kepada Presidén bagaimana bersikap dan menghadapi FPI. Beliau punya pengalaman dalam menghadapi kelompok radikal berbaju agama pada masanya.

Satu nasehatnya yang paling saya ingat,

"Kamu boléh lebih muda dari saya. Tapi apakah kamu bisa tetap semuda itu pada saat usiamu setua saya nantinya ?"

Sehat-sehat ya, Jenderal. Profesor intelijen Indonesia. Bangsa ini masih membutuhkan pemikiranmu yang sangat strategis untuk bisa tetap berdiri.

Salam hormat dan salam secangkir kopi.