Gus Baha (9)

Orang Bodoh Mudah Masuk Surga

Orang Bodoh Mudah Masuk Surga
Fauzi Rahman

Oleh : Fauzi Rahman

SETIAP NGAJI atau ceramah Gus Baha selalu tidak sepi  dari anekdot, kisah dan humor lucu. Tak jarang kelucuannya terinspirasi prilaku dari kalangan masyarakat awam (kadang disebut bodoh dan goblok),  baik awam dalam pengetahuan atau juga awam dalam pergaulan, kalau istilah kekinian disebut "KURANG PIKNIK".

Ada saja cerita Gus Baha yang membuat audiensnya tertawa terpingkal, mekipun begitu kelucuannya tetap dalam bingkai  konstitusi  keilmuan dan rasionalitas, artinya kelucuannya bermuara pada kesimpulan dinamika hukum dalam Islam.

Ada sebuah peristiwa yang sangat lucu ketika Gus Baha naik haji, dimana ada orang desa dari Gunung Kidul, Yogyakarta, ketika thawaf mengelilingi Ka'bah  dia terlihat menepuk-nepuk dinding Ka'bah sambil berucap:

" Bah ....... Ka'bah.....
mulai cilik aku madep kowe lagi ketemu iki.

Bah..... ka'bah .....

Sejak kecil aku menghadap kamu (shalat) baru ketemu sekarang.

Gus Baha menyangkanya orang tersebut sedang wiridan atau dzikir, ternyata sedang gemes sama ka'bah karena selama hidupnya  baru melihat kiblatnya ketika shalat dan menepuk-nepuknya.

Bagi  seorang kyai yang mengerti fikih tentu ada ganjalan  hukum dimana ka'bah seluruh dindingnya dilumuri minyak wangi, sedang orang yang sedang thawaf dilarang memakai wangi-wangian, dan kalau melanggar harus bayar denda (dam).

Tapi ketimbang ditegur oleh Gus Baha maka urusannya akan panjang, maka Gus Baha biarkan saja dan menganggapnya wiridan terbaik orang Gunung Kidul  terhadap ka'bah,  saking rindunya pada ka'bah sehingga menepuk- nepuknya, keihlasan orang bodoh meskipun ngawur pasti disukai Allah.

Kalau diingatkan kata Gus Baha urusannya akan panjang, dia pasti akan bilang, " Kangen nyekel kok ra oleh" orang rindu ka' bah cuma memegang kok tidak boleh), wah pasti tambah ruwet kata Gus Baha menjawab dan menjelaskannya,  timbang merayu orang awam yang tidak mengerti hukum,  mendingan merayu Allah lebih mudah dengan cara memintakan ampun,  Gusti ampunilah dia, seloroh Gus Baha.

Berbahagialah orang bodoh kata Gus Baha sambil tertawa, makanya wajar kalau ada hadits yang mengatakan bahwa mayoritas penghuni surga adalah orang bodoh, aksaru ahlul jannah al bulhu, karena orang bodoh berpikirnya sederhana dan selalu khusnudzan.

Kesyukuran orang awam luar biasa makanya di sinilah  yang membuat mereka mayoritas masuk surga.
Beda dengan orang kota yang terpelajar ataupun yang sudah Doktor dan profesor, untuk sekedar bersyukur mereka harus menunggu kalau sudah diangkat menjadi pejabat atau bahkan Menteri, bagi orang awam didesa bisa makan, punya nyawa dan segenap pancaindera saja sudah sangat bersyukur.

Nikmat Allah itu luas dan bisa dinikmati siapa saja, orang yang alim dapat nikmat dari kealimannya, yang bodoh dapat nikmat bodohnya, berbahagialah orang bodoh, kelakar Gus Baha.

Orang bodoh itu ternyata lebih tenang, buktinya dia meskipun bodoh dan miskin  santai saja, toh sudah ada yang memikirkan. Sementara yang pinter jungkir balik berfikir tentang memberantas kemiskinan dan kebodohan, padahal yang sedang dibicarakan sangat santai, riang gembira menikmati kopi dan rokoknya, apalagi mereka sudah dapat bantuan dari negara berupa BPJS, BLTdan semacamnya
"Ayo enak mana orang pinter dan bodoh? gurauan Gus Baha disertai tawa.

Lalu Gus Baha menyebut nama ayah dan guru tercintanya.

Ayahnya Kyai Nursalim pagi-pagi  kalau habis ngajari santri ngaji biasa jalan-jalan pagi, dan "iri" melihat orang- orang pada ngopi dan ngrokok di warung: " Ha' ...... orang awam  itu enak ya ha'... ngopi di warung pantas, ngrokok ya pantas, ngutang juga pantas,  kalau kyai jadi "rasanan" orang.

Gus Baha cerita juga tentang mbah Moen ketika masih baru (anyaran) jadi kyai, ketika jadi ketua rombongan ziarah makam wali tiba-tiba bisnya ditengah tanjakan curam macet, dan di handrem oleh supirnya, sementara penumpangnya pada asyik makan di bus dengan santainya sambll ngobrol sesama rombongan. Terus mbah Moen tanya, lho gimana ini kok pada tenang apa tidak takut bisnya "ngglundung", ehh jawabnya malah membuat kaget mbah Mien, ," Biar supirnya yang mikir mbah, begitu enaknya jadi orang bodoh ya ha'.

KIsah seperti ini perlu terus digaungkan agar umat tidak merasa berat dalam beragama, tetapi juga tetap dalam koridor esensi beragama.

Rasulullah menurut Gus Baha selalu suka dengan "kengawuran" orang desa dalam beragama, karena kengawurannya adalah ketulusan iman.

Wallahu a'lam.

* Penulis alumni PP Raudlatul Muta'allimin Situbondo, PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan UIN SUKA Yogyakarta.