Onghokham dan Tuyul

Onghokham dan Tuyul

Oleh: Fachry Ali

SAYA suka dengan kalimat David Reeve tentang gaya sejarawan Onghokham yang berbunyi seperti ini: ‘he was anyth TVing but averse to press publicity’ (Ong sangat doyan publisitas pers). Ini berkaitan dengan kehadiran Onghokham, atas undangan sejarawan Semarang Amen Budiman, menjadi pembicara dalam ‘Seminar Tuyul’ di ibu kota Jawa Tengah itu pada Oktober 1985.

 Tapi, pandangan Onghokham tentang tuyul itu sebenarnya mengejutkan. Sebagaimana digambarkan David Reeve dalam tulisannya itu, Ong berpandangan ‘struktural’ tentang mitos tuyul. Baginya, kepercayaan akan keberadaan tuyul di dalam masyarakat Jawa adalah refleksi bawah sadar kolektif rakyat tentang tidak absahnya kekayaan yang diperoleh seseorang di tengah-tengah atau di dalam kalangan mereka sendiri. 

Nilai kerja keras, mungkin seperti dibayangkan Weber dalam ‘Protestant Ethic and the Rise of Capitalism’, tidak diakui. Sebab, penumpukan kekayaan itu dianggap hanya akibat kinerja tuyul yang menjadi peliharaan orang-orang kaya itu.

Tetapi yang menarik adalah cerita David Reeve tentang seminar tuyul itu. Dihadiri sebagian besar orang yang percaya keberadaan tuyul, seminar tersebut setengah menyimpulkan bahwa Klaten, kabupaten berdekatan dengan Yogya, adalah tempat tuyul. Reeve menyebutnya ‘tuyul estate’. 

Maka, direncanakan di akhir seminar akan dilakukan kunjungan ke Klaten secara beramai-ramai. Rencana tersebut terhenti karena digagalkan Bupati Klaten —yang tersinggung dengan rencana ‘aneh’ itu.

Namun, semangat yang terpancar dalam seminar cukup hebat. Sebab, ada beberapa kalangan dalam seminar itu yang menyatakan pentingnya peranan tuyul dalam pembangunan. Dikatakan —dengan syarat menghornati budaya tradisional Jawa— ribuan, bahkan jutaan tuyul bisa dimobilisasi untuk kesuksesan pembangunan (ekonomi) Orde Baru!

Luar biasa!!!

*Facry Ali, intelektual dan kolumnis yang pernah aktif di LP3ES, Jakarta.