Nussa Rara, Felix Siauw, & Propaganda HTI

Nussa Rara, Felix Siauw, & Propaganda HTI
Ilustrasi | Grid.id

Oleh: Denny Siregar

FILM adalah media propaganda yang paling efektif dan sudah terbukti di setiap zaman..

Di Jerman, Hitler dan Nazinya menggunakan film untuk propaganda kebencian pada Yahudi dan menaikkan kebanggaan warga Jerman sebagai ras terbaik. Kepala propagandanya bernama Joseph Goebbels.

Di Amerika, pemerintahnya mendorong kampanye kemenangan Amerika terhadap Vietnam lewat film-film perang, meski secara kenyataan Amerika kalah perang. Amerika juga melalui Hollywood mendorong kampanye nasionalisme lewat film dengan kebanggaan yang ditunjukkan lewat bendera yang berkibar.

Malaysia resah dengan terpisahnya warganya yang beragam. Mereka ingin kampanye persatuan, lalu terbitlah Upin Ipin yang membawa semua ras dan agama dalam satu film animasi anak-anak.

Korea Selatan kampanye budayanya lewat film drakor yang di ekspor ke banyak negara. 

Jadi jangan melihat sebuah film hanya sebagai sebuah hiburan saja. Karena di sana, ada banyak pesan yang disamarkan, tergantung siapa dibalik layarnya. 

Itulah kenapa saya resah ketika seorang tokoh dari HTI, Felix Siauw, mengambil posisi menjadikan film animasi anak-anak sebagai media propagandanya. Dia tahu, anak-anak adalah kanvas putih yang tergantung siapa yang memberinya warna. 

Di film animasi Nusa & Rara, Felix menggambarkan anak-anak muslim dengan konsep muslim yang jauh dari ciri khas Melayu. Bergamis dan tidak lepas dari aksesori agama, meski sedang mandi sekalipun.

Yang bikin resah lagi, film itu akan ditayangkan di bioskop. Yang menjadi produser adalah studio film besar, Visinema. Produsernya bernama Angga, seorang yang beragama Kristen, tentu tak paham siapa Felix, siapa HTI, dan apa misi khilafahnya mereka. "Yang penting cuan.. " begitu mungkin pikir mereka.

Film animasi anak-anak ini memang terlihat seperti tidak ada apa-apa. Tapi tanpa disadari banyak orang, begitulah cara HTI melakukan propaganda, sama seperti ketika awal mereka menyusup di militer seluruh dunia. Mereka halus, licin, memakai agama sebagai tamengnya, sehingga siapapun yang mengkritiknya dituding Islamophobia.

Pelan-pelan anak akan digiring utk menjadi eksklusif, melihat sekitar berdasarkan apa agamanya. Haram mengucapkan selamat hari raya ke agama lain. Dan banyak pesan-pesan sesuai misi HTI akan dibuat di sana, dan akan berpengaruh ketika film itu sudah terkenal. 

Saya pernah diundang untuk nonton screening film itu oleh produsernya Angga yang marah-marah ke saya, tapi saya menolak. Saya menolak untuk dijadikan "alat" oleh HTI untuk promosi film itu. Bagi saya itu ideologi, sama kuatnya dengan ideologi saya mencintai tanah air ini dengan kebhinekaannya.

HTI sudah kalah di darat. Organisasinya dibubarkan pemerintah, digempur Banser di mana-mana, karena itu mereka melirik ruang udara kita yang kosong sebagai jalan untuk menjalankan misinya..

Sudah tugas saya untuk mengabarkan misi "udang dibalik batu" mereka. Mau dihujat, mau digempur, mau dimaki, silakan.. Setidaknya, hanya inilah yang bisa saya lakukan melawan kelicikan HTI dan mesin propagandanya yang memang militan dan berdana besar..

Kita lihat, siapa diantara kita yang kelak akan menang.

Seruput kopinya??