Novel Baswedan Dua Kali Dianiaya

Novel Baswedan Dua Kali Dianiaya

JUDUL di atas bukan asal-asalan. Jika mengikuti pemberitaan sejak peristiwa penyiraman Novel Baswedan sampai persidangan perkaranya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu layak disebut dua kali dianiaya. Pertama dianiaya oleh yang menyiramkan cairan yang membuat mata kiri Novel cacat permanen. “Penganiayaan” kedua dilakukan oleh oknum jaksa penuntut umum yang mengajukan tuntutan hukuman super-ringan bagi dua terdakwa penganiaya (walaupun masih diragukan apa yang sedang diadili itu benar-benar terdakwanya). Dengan akibat cacat mata permanen dua terdakwa yang oknum anggota Polri itu dituntut hukuman hanya satu tahun penjara.

Penganiayaan pertama nyata-nyata terjadi, tidak perlu diperdebatkan lagi. Novel Baswedan disiram air keras pada 11 April 2017, usai salat Subuh di masjid dekat rumahnya. Peristiwa itu mengakibatkan mata kirinya tidak berfungsi hingga cacat permanen. Namun, polisi baru berhasil menangkap pelaku penyiraman dua tahun lebih atau Desember 2019.

Akibat penganiayaan itu Novel mesti dirawat beberapa bulan di rumah sakit Indonesia dan di Singapura. Polisi berpangkat Komisaris itu pun tidak dapat menjalankan tugasnya di KPK beberapa bulan. Penantian ditemukannya tersangka penganiayaan itu sesungguhnya juga bagian dari penganiayaan Novel berikutnya karena berlangsung dalam waktu yang sangat panjang, melalui tim pencari fakta dan melibatkan campur tangan Presiden Joko Widodo segala.

Dalam kurun waktu lama itu Novel Baswedan tidak terlihat mendapatkan empati dari jajaran Polri sebagai institusi. Novel bahkan pernah dilaporkan ke polisi karena dituding merekayasa kebutaan matanya. Anehnya sang pelapor tidak pernah terkena tindakan sebagai pembuat laporan palsu atau setidaknya menyebarkan kabar bohong kepada khalayak.

“Penganiayaan” kedua dilakukan oleh tim jaksa penuntut umum dengan drama dakwaannya yang jauh dari nalar, pasal-pasal yang didakwakan beserta narasi yang menyertainya hingga tuntutan yang super-ringan. Kendati penganiayaan kedua ini berupa nonfisik tapi penganiayaan psikis bisa lebih menyakitkan Novel Baswedan karena terusiknya rasa keadilan yang terang-terangan.

Bisa dibayangkan betapa sakit hati Novel Baswedan lantaran pengorbanannya sebagai “tumbal” pemberantasan tindak pidana korupsi dialihkan hanya sebagai korban dari penganiayaan yang dilakukan oleh oknum polisi yang hanya memberi pelajaran kepada Novel yang mereka ibaratkan “bagai kacang yang lupa kulitnya.”

Jaksa Penuntut Umum juga menilai dua terdakwa itu tidak sengaja menganiaya Novel Baswedan menjadi luka berat hingga mata kirinya cacat permanen. Para terdakwa, kata jaksa, hanya berniat menyiram Novel , eh kena mata. Bahan untuk menyiram yang diyakini Novel dan berdasarkan bukti berupa cairan air keras oleh jaksa (berdasarkan pengakuan terdakwa) berubah menjadi air aki. Bukti botol tempat cairan yang ditemukan di lokasi penyiraman pun tidak dihadirkan di persidangan sebagai alat bukti. Padahal botol itu dan saksi-saksi waktu di seputar penganiayaan sudah pernah diperiksa oleh TGPF. Artinya jaksa diduga kuat mereduksi fakta hukum yang ada.

Khalayak pun bereaksi negatif terhadap cara kerja tim jaksa penuntut umum selama persidangan. Mendengar narasi tuntutan jaksa penuntut umum Novel Baswedan merasa marah dan miris. Para pegiat bidang hukum, para akademisi, hingga sejumlah anggota DPR menyayangkan kinerja tim jaksa. Publik pun ramai berkomentar bahwa yang disampaikan dalam dakwaan dan tuntutan itu bak sandiwara belaka.

Kejaksaan tentu tak bisa menimpakan kelemahan tuntutan itu kepada timnya yang bertugas karena kejaksaan itu sesungguhnya satu. Apa yang disampaikan di pengadilan oleh jaksa dipastikan sudah melalui telaah tim jaksa peneliti yang merupakan representasi institusi kejaksaan.

Kalau mau dimasukkan sebagai penganiayaan ketiga sebenarnya boleh juga. Tim pengacara terdakwa dari Polri itu menyebut cacat mata Novel Baswedan sebenarnya bukan akibat dianiaya oleh terdakwa melainkan karena salah penanganan. Dalam sidang tim pengacara berargumen bahwa hasil visum et repertum  yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Mitra Keluarga mengenai luka bakar di bagian wajah dan kornea mata kanan dan kiri Novel, bertentangan dengan keterangan saksi-saksi. “Kerusakan mata yang dialami saksi korban sesungguhnya bukan akibat langsung dari tindakan penyiraman yang dilakukan terdakwa, melainkan kesalahan penanganan yang dilakukan pihak-pihak tertentu,” sebut tim pengacara kedua terdakwa.

Jika tuntutan jaksa terhadap dua anggota polisi itu dikabulkan majelis hakim, betapa murahnya, kedua terdakwa pun tak akan dipecat dari kepolisian. Bandingkan dengan tuntutan hukuman terhadap terdakwa penusuk Wiranto yang dituntut 14 tahun penjara, meski sama-sama mengakibatkan kedua korban sama-sama menderita luka berat.

Kini harapan untuk memberikan keadilan tertuju pada majelis hakim, apakah mereka akan melakukan “penganiayaan” berikutnya terhadap Novel Baswedan dengan menjatuhkan vonis hukuman yang sama dengan tuntutan jaksa, bahkan lebih ringan lagi, atau mereka bangkit menjadi pengadil yang wajib menggali rasa keadilan yamg hidup dalam masyarakat dengan menggunakan kewenangan ultra petita Masyarakat masih menunggu dengan harap-harap cemas: langit keadilan akan dapat ditegakkan atau bakal jatuh tersungkur ke bumi.

Salam keprihatinan.