Nostalgia Lomba Sepatu Roda di Taman Suropati

Nostalgia Lomba Sepatu Roda di Taman Suropati
Guntur Soekarno

Oleh: Guntur Soekarno

SAAT INI setiap aku melewati jalan sekeliling Taman Suropati Jakarta Pusat pikiranku selalu melayang-layang teringat masa-masa indah di tahun 50-60 an yang secara berkala atas inisiatif IMADA (Ikatan Mahasiswa Djakarta) di Taman Suropati diadakan lomba sepatu roda, yang diikuti muda-mudi Jakarta saat itu terutama teenagers daerah Menteng Jakarta Pusat. Perlombaan biasanya diadakan pada hari Minggu dimulai jam 9 pagi sampai dengan jam 12 siang termasuk pengumuman pemenang dan pembagian hadiah.

Aku bersama-sama dengan teman-teman satu geng (istilah yang digunakan untuk suatu kelompok anak muda) selalu hadir sejak pagi sampai dengan acara usai.  Bersama dengan teman-teman satu geng biasanya aku duduk di trotoar depan rumah dinas Walikota Jakarta Raya, sekarang rumah dinas Gubernur DKI Jakarta, menonton pertandingan lomba sepatu roda anak-anak muda saat itu, lelaki dan perempuan (cowok dan cewek).

Perhatian kita lebih tertuju kepada perlombaan kalangan cewek-cewek yang sebahagiannya ada yang memakai celana pendek ketat.  Sebahagiannya lagi memakai busana celana blue jeans belel yang saat itu sedang jadi mode. Peserta cewek yang saat itu sangat populer dan menjadi idola kita-kita adalah cewek Jalan Besuki Raesita Wachyo dan Pinky Mardikoesno yang sempat beberapa kali menjadi juara. 

Perlu Anda ketahui Jakarta saat itu dibagi beberapa “daerah kekuasaan” geng tadi.  Misalnya daerah Menteng dikuasai oleh geng The Pamor dimana aku menjadi salah satu anggotanya. Daerah Jalan Guntur sebelah atas daerahnya C2M, daerah yang lain ada di bawah “kekuasaan” Marabunta. Ada juga apa yang kita sebut geng siluman karena tidak mempunyai nama dan mendominasi daerah Tanah Abang dan Roxy. Kepala Gengnya juga misterius karena kita semua mengenal namanya akan tetapi tidak tahu yang mana orangnya. Benar-benar misterius walaupun namanya sangat populer di antara kita-kita itulah dia: Hendropriyono.

Tahu nama tidak tahu wajah!

Ada segi negatifnya keberadaan geng-geng ini karena akibat ingin menguasai daerah geng yang lain kerap kali terjadi perkelahian antar geng walaupun dilakukan secara sportif artinya perkelahian tidak dilakukan dengan pengeroyokan atau brutal melainkan geng yang berselisih harus mengajukan seorang jagonya untuk berkelahi secara jantan, biasanya dilakukan di Taman Lawang dengan ditonton oleh anggota anggota geng-geng lainnya.

Ketika itu terkenal di antara anak-anak muda Menteng nama-nama seperti Timbang; Harry Malonda; Kusbanu; Erlangga; Diaz Hanggayuda; Maher Algadrie dan seterusnya, sedangkan di kalangan cewek-cewek terkenal nama-nama: Raesita Wachyo; Pingky Mardikoesno; Arbiningsih; Tetty Nasution; Rusmiaty; Rumita Salim; Menul dan lain-lain.

Perkelahian antar geng tadi sempat mengusik pikirannya Bung Karno. Karena masalah tadi berlarut-larut dan membuat kesal Bung Karno akhirnya Bung Karno mengintruksikan seorang wartawan senior berita Minggu yang kolomnya sangat digemari oleh anak-anak muda saat itu Firman Muntaco diinstruksikan oleh Bung Karno agar mengumpulkan seluruh anggota geng-geng tadi untuk mengadakan perdamaian dan tidak lagi melakukan perkelahian perkelahian antar geng-geng.

Bung Karno menyediakan tempat dan fasilitas rekonsiliasi antar geng tadi di Istana Cipanas Sindang Laya. Begitulah maka berkumpulah di Istana Cipanas ratusan anak-anak geng dan diberi nasihat-nasihat oleh Firman Muntaco yang atas permintaan Bung Karno agar berhenti berkelahi dan mengibarkan bendera perdamaian demi jalannya revolusi yang belum selesai.

Rupanya cara yang diambil oleh Bung Karno berjalan efektif mendamaikan geng-geng yang ada di Jakarta. Setelah pertemuan Cipanas tadi tidak pernah terjadi lagi perkelahian antar geng di Jakarta.  Maksimal yang terjadi adalah perkelahian atau ancam mengancam antar pribadi karena masalah klasik yaitu urusan cewek.

Solidaritas di Hari Tua 

Di Era Reformasi ini umur rata-rata mantan anggota-anggota geng-geng tersebut sudah berusia +70 tahunan dan sudah beranak pinak dan bercucu.  Termasuk Juga para cewek-ceweknya, rata-rata mereka sudah menjadi nenek-nenek.  Walaupun demikian rasa bangga dan solidaritas sebagai “Anak Menteng” Saat ini masih melekat kuat di hati masing-masingnya.  Apalagi bila sempat bertemu dalam suatu jamuan misalnya cerita-cerita nostalgia pasti berhamburan.  Baik cerita-cerita gembira maupun cerita-cerita yang menyedihkan mengingat banyak dari “Anak Menteng” tadi sudah almarhum atau almarhumah.

Nama nama hebat seperti : Timbang; Harry Molanda kemudian juga Kusbanu dan yang lain-lain saat ini sudah almarhum, begitu juga dengan bunga-bunga mawar “Anak Menteng” beberapanya saat ini juga sudah almarhumah. Apa mau dikata bila sudah takdir tidak dapat ditolak.

Walaupun demikian rasa solidaritas dan kesetiakawanan di antara mantan anggota-anggota geng maupun “Anak Menteng” tetap tinggi menembus batasan posisi dan kedudukan saat itu. Seorang pejabat tinggi mantan anggota geng “Anak Menteng” tidak akan tanggung-tanggung berkolaborasi dengan seorang rekannya yang kedudukannya hanya sebagai pemilik sebuah warteg. Sebagai contoh apa yang terjadi pada diriku disaat maraknya geng-geng. Sebagai anggota geng The Pamor (Young Pamor) aku pernah mengalami pengalaman pahit yaitu sebagai Putra Presiden aku pernah ditantang berkelahi oleh jagoan Jalan Gresik di Menteng hanya karena aku bersahabat dengan musuh bebuyutan dari si jagoan tadi. 

Padahal dia tahu benar sebagai putra Presiden aku selalu dikawal oleh seorang “bodyguard” dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP).

Terus terang tantangan tadi sengaja aku hindari karena pastinya akan terjadi keributan yang ujung-ujungnya akan sampai ke Presiden dan pasti Bung Karno akan marah-marah kepadaku. Secara perhitungan logika, aku tidak gentar menghadapi tantangannya karena aku saat itu sudah menguasai teknik bela diri Jiu Jit Tsu dan menjadi anggota JCD (Jiu Jit Tsu Club Djakarta) di bawah pimpinan R.Effendi yang bermarkas di kawasan Kebon Sirih. 

Dengan tangan kosong menggunakan teknik tertentu aku dapat memecahkan 5 batu bata yang ditumpuk sekali pukul begitu pula dengan sebalok es batu dapat aku patahkan tanpa bersusah payah. Banyak pentolan-pentolan geng Jakarta yang menjadi anggota JCD untuk menguasai ilmu bela diri khususnya Jiu Jit Tsu. 
Sayang aku tidak dapat merampungkan tingkat sabuk hitamku karena diterima di ITB Bandung sehingga harus pindah ke Bandung.  Sebenarnya aku bersama beberapa sahabatku ”Anak Menteng”  mempunyai rencana mengadakan Reuni Akbar mantan-mantan anggota geng Jakarta dan ”Anak Menteng”  bersama keluarganya di Istana Cipanas sebagaimana dahulu kita berkumpul di Istana Cipanas untuk mengadakan perdamaian antar geng atas ide Bung Karno.  

Namun sayang setan siluman Covid-19 menyerang Indonesia sehingga sampai dengan saat ini rencana tadi belum terlaksana.  Mudah-mudahan terlaksana setelah setan siluman Covid-19 dapat ditumpas habis sampai ke akar-akarnya yang kita tidak tahu kapan!! (*)

Guntur Soekarno adalah Pemerhati Sosial