Ngoyoworo Kembangkan Isu Presiden Tiga Periode

Ngoyoworo Kembangkan Isu Presiden Tiga Periode

Oleh Imas Senopati


ANEH juga ada pernyataan "igauan" dikembangkan beramai-ramai. Motifnya lebih terkesan ingin menjatuhkan Presiden Jokowi. Sangatlah tidak produktif mengembangkan wacana presiden tiga periode, sementara tidak jelas siapa pelontar usulan itu.  Politikus sekaliber  Amien Rais, Hidayat Nurwahid, Fadli Zon menanggapi sangat serius dan menganggap seolah usulan tiga periode itu datang dari Jokowi.

Sejak awal, Presiden Jokowi sudah bicara (2019) bahwa yang mengusulkan presiden tiga periode itu, "ingin menampar  muka saya,  ingin cari muka, atau ingin menjerumuskan." Jelas sekali usulan presiden tiga periode itu bukan dari Istana atau dari Presiden Jokowi  sendiri.

Ngoyoworo, kata orang Jawa. Sesuatu yang diada-adakan. Berkembang ke sana ke mari tanpa ada juntrungannya. Alih-alih itu hanyalah mengembangkan isu untuk menyudutkan Jokowi, ketika serangan dengan isu lainnya tak mempan. Sebaiknya kalau mengembangkan isu dan digunakan untuk menyerang, cermati dulu sejarah dan latar belakangnya, siapa penyebar gagasan awalnya, sehingga tidak mudah dikatakan seperti isu tiga periode ini.

Ibarat senapan tak berpeluru, jedar-jedor menyalak, tapi tak ada satu peluru pun  yang melesat, tak ada yang tertembak. Bagai mainan anak-anak yang memang dirancang untuk main-main. Itulah yang kini dimainkan Amien Rais dan tokoh-tokoh lainnya.

Memang MPR dan pemerintah berencana mengamandemen UUD 1945, tapi terbatas pada memasukkan Haluan Negara dalam konstitusi. Tujuannya baik, agar program pembangunan tidak terputus di tengah jalan manakala ada pergantian pemerintahan. Jika amandemen itu dilaksanakan tidak ada masalah, meskipun masih menyisakan keberatan sejumlah kalangan. MPR dan pemerintah akan mengawal proses aransemen terbatas itu. 

Kita tak ingin demokrasi mundur kembali. Negeri ini pernah punya pengalaman dua periode panjang kepresidenan. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno 1945-1966, dua puluh tahun di tangan satu Presiden, masa yang dikenal sebagai Orde Lama. Kekuasaan berakhir tragis. Padahal MPRS sudah menetapkan Ir. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup.

Berikutnya Soeharto yang menggantikan Soekarno kebebasan memerintah selama 32 tahun juga berakhir tragis pada 1998 lewat pengunduran diri pasca deraan krisis politik dan ekonomi. Itu juga akibat tidak ada batasan periode di UUD 1945. Yang ada di konstitusi itu hanyalah kalimat "Presiden dapat dipilih kembali" tanpa ada batasan untuk "satu periode berikutnya".

Pasal 7 : "Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali"

Pada awal Reformasi kemudian UUD 1945 diamandemen dan mulai ada batasan, "Presiden dipilih untuk satu periode dan dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutya".  Bunyi lengkap Pasal 7 UUD 1945 Pasca Amandemen: Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.

Di alam demokrasi tak ada larangan mengembangkan isu apa pun. Tentu saja isu yang tidak jelas juntrungannya seperti ini jika dikembangkan hanya menghabiskan energi, menghamburkan waktunya, dan kontra produktif. Sebaiknya jika ingin menyerang Presiden Jokowi carilah isu-isu yang memang riil ada, bukan yang mengada-ada. (*)