New Normal di Masa Pandemi

New Normal di Masa Pandemi

Oleh: Elfa Tsuroyya

BELUM didapatkan data akurat kapan pertama kali Covid-19 masuk ke Indonesia. Namun yang pasti Indonesai mengkonfirmasi kasus pertama Covid-19 pada hari senin 2 Maret 2020 lalu. Untuk meminimalisir merebaknya Covid-19, masyarakat diminta untuk menjalani protokol kesehatan dengan ketat dan memberlakukan Work From Home n Learn at Home serta menganjurkan masyarakat untuk stay at home. Itu artinya hampir tiga bulan kita menjalani WFH sekaligus membiasakan melakukan protokol kesehatan ala Covid-19. Pada awal diperkenalkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak aman, menggunakan masker, mencuci tangan setelah beraktifitas, hingga penggunaan handsanitaiser masih banyak kita temukan ketidakdisiplinan masyarakat. Kini setelah hampir tiga bulan, masyarakat mulai terbiasa dengan kehidupan “baru” nya; menjaga jarak aman, menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, bahkan selalu membawa handsaniatiser kemanapun pergi.

Lalu akan sampai kapan pandemi ini pergi dari negeri tercinta? Begitu sering kita dengar pertanyaan itu, apakah sebulan, dua bulan ataukah satu tahun lagi? Karena sampai detik ini belum ditemukan vaksin maupun obat yang mujarab untuk menyembuhkan Covid-19, maka tidak ada kepastian kapan pandemi ini akan berakhir. Lalu bagaimana kita menjalani kehidupan kita selanjutnya? Karena kita tahu banyak sekali sektor yang terdampak dengan adanya Covid-19 ini, misalnya: sektor pendidikan, ekonomi, pariwisata, pertanian dan lain sebagainya.

Kita tidak mungkin terus menerus berada dalam kehidupan yang serba terbatas dan terbelenggu dengan adanya Covid-19 ini. Kehidupan harus terus berjalan, biar dapur tetap ngebul, begitu kira-kira ungakapan yang sering muncul akhir-akhir ini. Sektor Pendidikan juga demikian, para siswa sudah mulai bosan, pembelajaran daring tidak berjalan maksimal, bapak ibu guru sudah rindu dengan muridnya, sekolah harus segera dibuka. Pariwisata menjerit, agen-agen travel mulai merugi karena sepinya pelancong, obyek wisata juga mulai rusak karena minim biaya pemeliharaan. Para petani dan pedagang mengeluhkan sepinya pembeli karena daya beli masyarakat menurun, hasil panen dijual murah. Pengangguran dimana-mana efek dari PHK massal belakangan ini. Tak kalah ramainya adalah topik bagaimana dan dimana kita akan melaksanakan sholat Iedul fitri di masa pandemi.

Pemerintah mulai melonggarkan peraturan dibeberapa sektor, perhubungan, perjalanan dinas, kunker anggota dewan dan lain sebagainya. Belum lama ini pemerintah juga mengajak semua elemen masyarakat untuk berdamai dengan Covid-19, berdamai disini bukan berarti menyerah tetapi menyesuaikan diri. Mengapa kita harus menyesuaikan diri? Karena ada potensi Covid-19 tidak akan segera menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat. Covid-19 merupakan penyakit berbahaya, tetapi kita bisa mencegah dan menghindarinya asalkan kita disiplin melakukan protokol kesehatan sesuai aturan, menjaga jarak aman, mencuci tangan setelah beraktivitas, dan memakai masker. itulah yang kemudian kita sebut sebagai new normal life atau tatanan kehidupan normal yang baru.

Pada sektor pendidikan, tentu tidak akan sama lagi keadannya seperti dulu. Dari sisi sarana prasarana, sekolah harus menyediakan tempat cuci tangan yang memadai untuk semua siswa, daya tampung kelas juga harus dibatasi agar ketentuan sosial distanching terpenuhi. Dari sisi kurikulum, jam belajar siswa di sekolah bisa saja dipangkas untuk mengurangi berkumpulnya siswa dalam waktu yang lama itu artinya akan mengurangi jumlah jam tatap muka di kelas. Sebagai hidden kurikulum pendidikan karakter, budaya berjabat tangan juga harus
dihilangkan sementara waktu.

Pada sektor pariwisata, menjaga jarak aman harus benar-benar menjadi perhatian. Daya tampung transportasi (bus, kereta, pesawat) harus sesuai aturan social distanching, tempat-tempat wisata harus menyediakan tempat cuci tangan yang bisa dijangkau oleh semua pengunjung, begitu juga antrian di pintu masuk tempat wisata maupun bandara juga harus memperhatikan jarak aman. Masyarakat harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru tersebut.

Pada sektor ekonomi dan pertanian, pasar-pasar tradisonal harus memperhatikan jarak aman antar penjual juga pembeli. Jam buka pasar bisa saja diperpendek untuk meminimalkan waktu interaksi fisik. Hipermart maupun supermarket sebagai pasar modern juga harus memberlakukan cek suhu tubuh  dengan ketat terhadap para karyawan dan pengunjung yang masuk, jangan sampai tempat-tempat tersebut menjadi cluster baru penularan Covid-19 seperti yang terjadi di Jogjakarta baru-baru ini. Demikian juga kewajiban mencuci tangan dan menggunakan masker ketika berbelanja juga harus dipatuhi.

Dalam kehidupan bermasyarakat, ada banyak hal baru yang akan kita temui, perkumpulan-perkumpulan antar warga harus memperhatikan tempat dan jumlah undangan. Kerja bakti di lingkungan kampung harus benar-benar memperhatikan jarak fisik, acara arisan ibu-ibu dan juga dasawisma harus mengatur sedemikian rupa kegiatan nya supaya semua yang terlibat terjaga kesehatannya dan terbebas dari penularan Covid-19. Anak-anak tak lagi bisa bebas bermain untuk sementara waktu, semua aktifitas dari lingkungan terkecil harus membiasakan diri menjalani kehidupan baru.

Mau tidak mau mari kita jalani kehidupan normal baru ini dengan penuh kesadaran. Covid-19 masih ada di sekitar kita dan kehidupan tidak boleh berhenti, oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari, di rumah, di kampung, di jalan, di tempat umum, di kantor bahkan di tempat ibadah sekalipun kita harus menjalani protokol kesehatan dengan disiplin. Perayaan idul Fitri yang sebentar lagi akan tiba tentu juga menjadi new normal bagi kita umat Islam, kebiasaan mudik, berjabat tangan dan silaturahmi dengan kerabat dan tetangga bisa kita ganti dengan menggunakan kecanggihan teknologi, misalnya video call telepon atau kirim pesan singkat dan menunda pertemuan fisik. Semua dilakukan sebagai bentuk ikhtiar memutus mata rantai penularan Covid-19 selanjutnya kita tawakkal kepada Allah Swt.

*Elfa Tsuroyya, alumni PP Raudlotut Thalibin Sirau Banyumas, Alumni Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, Guru pada MAN 3 Sleman Yogyakarta.