Mutiara Hikmah

Nasihat Indah Seorang Tuan Guru

Nasihat Indah Seorang Tuan Guru
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

USTADZ. Bagaimanakah kedudukan nasihat dalam Islam?”

Demikian tanya seorang sahabat kepada saya. Belum lama ini. Menerima pertanyaan demikian, tiba-tiba saya teringat pesan indah Rasulullah Saw. kepada para sahabat bahwa “agama adalah nasihat.” Beliau berpesan demikian tiga kali. Mendengar pesan beliau yang demikian, seorang sahabat dengan penuh rasa ingin tahu bertanya,  “Bagi siapa,  wahai  Rasulullah Saw.?”  Jawab beliau, “Bagi  Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin masyarakat, dan umat pada umumnya.”

Nasihat, sebagai ajaran Islam, sejatinya merupakan salah satu aspek penting bagi kehidupan kaum Muslim. Nasihat, atau nashîhah dalam bahasa Arab, adalah masukan yang tulus, teguran yang ramah, dan  peringatan yang  bijak yang diberikan seseorang kepada orang lain. Nasihat sendiri, sebagai ajaran Islam, dikemukakan di beberapa  tempat dalam Al-Quran. Terutama di tempat-tempat  yang dijadikan  rujukan tentang tujuan dan fungsi kenabian.  Misalnya, ayat-ayat tentang Nabi Nuh a.s., Nabi Shalih a.s., Nabi Hud a.s., dan Nabi Syu‘aib a.s. Semua ayat-ayat itu memberitahukan kepada para pengikut mereka bahwa misi mereka untuk memperingatkan dan menjadi nâshih (pemberi nasihat).

Esensi nasihat dalam Islam adalah untuk mendorong sikap waspada dan  berhati-hati  pada diri orang yang beriman  yang  diharapkan  dapat menjaga  dan melindungi nilai-nilai moral dan agama Islam.  Dengan kata lain, individu-individu  diberi  hak untuk memberikan  nasihat  yang  baik kepada  orang lain, jika ia percaya akan manfaat  esensial  dari nasihatnya.   Nasihat  secara  umum  dipandang  sebagai   bagian integral  dari  hisbah. Syaratnya hanya  bahwa  penekanan  dalam nasihat  lebih  diletakkan pada hal pertama dari  dua  aspeknya, yaitu   amr  bi  al-ma‘rûf  (ajakan berbuat kebajikan)   ketimbang mencegah  kemungkaran.  Dalam hal ini, nasihat  membenarkan  hak setiap individu untuk membentuk suatu pendapat atau nasihat  jika ia  melihat ada manfaatnya, dan hak untuk menyampaikannya  secara tersembunyi kepada orang lain. Baik itu seorang warga  masyarakat atau pemimpin pemerintahan.

Baca Juga

Pentingnya  nasihat  untuk  menegakkan  kebenaran  dan  mencegah kejahatan  ditegaskan  dalam  sebuah  hadis. Dalam hadis tersebut dipaparkan, nasihat sejatinya merupakan esensi dari agama, juga merupakan  salah  satu unsur persaudaraan (ukhuwwah) yang dianjurkan Islam.  Nasihat juga merupakan pencegah ghîbah, di mana jika seorang Muslim melihat ada kesalahan pada orang lain, atau  suatu kebaikan  bagi  orang itu di masa depan, masalah  tersebut  harus dibicarakan di antara mereka saja. Namun, hal itu harus dilakukan dengan  bijak  dan sopan  yang  menjadi ruh persaudaraan. Salah satu contoh yang menunjukkan peran nasihat adalah kisah berikut:

Betapa bahagia Abu Ja‘far Al-Manshur hari itu. Tentu saja penguasa ke-2 Dinasti ‘Abbasiyah di Irak itu berbahagia. Sebagai penguasa sebuah dinasti adikuasa kala itu, ia masih dikaruniai Allah Swt. kesempatan berkunjung ke Kota Nabi: Madinah Al-Munawwarah.

Selepas beberapa hari berada di Kota Suci itu, hari itu Abu Ja‘far Al-Manshur merasa rindu bertemu dengan seorang Tuan Guru kondang kala itu. Ia tahu, meski sang Tuan Guru masih memiliki satu garis keturunan dengannya, namun sang Imam kerap tidak seiring dengan pemerintahannya. Meski demikian, sang Tuan Guru senantiasa bersikap bijak dalam mengemukakan pandangan dan sikapnya.

Merasa rindu dengan sang Tuan Guru, dan ingin mendapatkan nasihat, Abu Ja‘far Al-Manshur pun menemui sang Tuan Guru. Di rumah kediaman sang ulama. 

Kemudian, setiba di rumah kediaman ulama tersebut, selepas mengucapkan salam, dan berbagi sapa beberapa lama dengan sang Imam, penguasa ke-2 Dinasti ‘Abbasiyah di Irak itu pun berucap penuh takzim kepada sang Imam, “Tuan Guru. Berilah saya nasihat.”

Mendengar permintaan demikian, ulama yang anak keturunan ‘Ali bin Abu Thalib itu sejenak berdiam diri. Kemudian, selepas merenung beberapa lama, ia berucap penuh wibawa,  “Amir Al-Mukminin! Periksalah dengan cermat setiap berita yang Anda terima. Janganlah Anda menerima persaksian dan kesaksian orang-orang yang tidak diperkenankan Allah Swt. memasuki surga, sementara neraka dijadikan sebagai tempat kediaman mereka. Sungguh, sejatinya para provokator adalah para saksi palsu dan mitra Iblis dalam menebarkan kabar palsu di antara khalayak ramai. Allah Swt. berfirman, ‘Wahai orang-orang beriman! Manakala datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.’ (QS Al-Hujurât [49]: 6).”

Seusai berucap demikian, sang Tuan Guru yang bijak itu kemudian sejenak berhenti berucap. Kemudian, selepas merenung beberapa saat, sang Imam pun melanjutkan ucapannya:

“Amir Al-Mukminin! Kami akan mendukung dan menopang kekuasaan serta kepemimpinan Anda, selama Anda menyerukan kebaikan dan keihsanan, melaksanakan hukum Alquran bagi semua orang, dan tetap menaati Allah Swt. walau menghadapi tantangan setan. Meski memiliki ilmu dan pengalaman luas serta memahami tata krama Allah Swt., hendaklah Anda tetap senantiasa menyambung silaturahmi, memberikan sesuatu kepada orang yang tidak menyukai Anda, dan memaafkan orang yang berbuat zalim kepada Anda. 

Amir Al-Mukminin, tentu Anda tahu, orang yang suka memberikan sesuatu memang termasuk  orang-orang yang menyambung silaturahmi. Namun, sejatinya, orang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang tetap menyambung silaturahmi meski diperlakukan orang lain dengan cara yang tidak pantas. Karena itu, tetap peliharalah silaturahmi. Tentu, dengan demikian, Allah akan memberkahi usia Anda dan meringankan hisab atas diri Anda. Di Hari Kebangkitan kelak.”

Abu Ja‘far Al-Manshur hanya kuasa menundukkan kepalanya kala mendengar nasihat indah sang Tuan Guru. Dan, selepas lama menundukkan kepalanya, ia kemudian berucap pelan kepada sang Imam, “Tuan Guru. Semua nasihat itu kuterima dengan sepenuh hati. Aku tahu, siapakah sejatinya Anda. Juga, aku tahu kejujuran Anda. Karena itu, berilah aku nasihat, dari relung hati Anda: nasihat senantiasa akan aku ingat dan menjadi pelindung diriku dari berbagai hal yang tidak semestinya aku lakukan.”

Menerima permintaan demikian dari Abu Ja‘far Al-Manshur, sang Tuan Guru dengan ramah dan santun menjawab:

“Amir Al-Mukminin. Hendaklah Anda senantiasa bersikap lapang dada, karena sikap yang demikian itu merupakan fondasi ilmu. Kendalikanlah diri Anda manakala Anda sedang memegang kendali kekuasaan. Sebab, dengan mengendalikan diri kala sedang berkuasa, Anda laksana orang yang kuasa menyembuhkan amarah yang membara. Atau dengki yang tidak terkira. Ketahuilah, manakala Anda menetapkan suatu hukuman dengan pijakan yang benar, hendaklah tujuannya adalah untuk menegakkan keadilan. Juga, ketahuilah, keadaan yang mengharuskan bersyukur lebih utama ketimbang keadaan yang mengharuskan bersabar.”

“Terima kasih, Tuan Guru. Anda benar-benar telah memberikan nasihat yang sangat bernilai bagi diriku,” ucap Abu Ja‘far Al-Manshur. Penuh takzim.

Usai berucap demikian, penguasa yang bertubuh jangkung itu kemudian memohon diri kepada sang Tuan Guru yang tidak lain adalah adalah Sayyiduna Ja‘far Al-Shadiq. Sang penguasa itu kemudian kembali ke tempat peristirahatannya. Di Kota Nabi: Madinah Al-Munawwarah.