Musa (Prabowo) Melawan Fir’aun

Musa (Prabowo) Melawan Fir’aun

BUKAN baru kali ini saja Prabowo disejajarkan dengan Nabi Musa alaihissalam, bahkan juga diposisikan sebagai sosok yang melawan Fir’aun. Di masa Orde Baru juga pernah.

Bedanya, di masa sekarang Prabowo sebagai Musa dihadapkan dengan pemerintahan Jokowi-JK atau Capres Jokowi-Ma’ruf. Di masa Orde Baru, Prabowo dihadapkan dengan pemerintahan Soeharto.

Djoko Santoso, Panglima TNI 2007-2010, Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, pernah mengatakan bahwa kisah Nabi Musa alaihissalam melawan Fir’aun bakal terulang di tahun 2019. (https://www.eramuslim.com/berita/nasional/pilpres-2019-djoksan-tuturkan-kisah-nabi-musa-melawan-firaun.htm) Tentu yang dimaksud Nabi Musa di sini adalah Prabowo.

Sedangkan di masa Orde Baru, sosok yang memposisikan Prabowo ibarat Nabi Musa alaihissalam melawan Fir’aun adalah (almarhum) Ahmad Soemargono yang akrab disapa Gogon, Ketua KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam). Ahmad Soemargono juga aktif di DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia).

Siapa Nabi Musa alaihissalam dan siapa pula Fir’aun?

Baca Juga

Menurut Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa, “…kisah Musa bersama Fir’aun disebutkan berulang kali dalam Al-Qur’an karena keduanya simbol dari kebenaran dan kebatilan. Fir’aun berdiri di atas puncak kekufuran dan kebatilan karena mengingkari Allah dan rasul-Nya. Sedangkan Nabi Musa menjadi sosok yang berada di atas puncak keimanan dan kebenaran. Di mana beliau adalah rasul yang menerima risalah secara sempurna serta berbicara langsung dengan Allah tanpa pembatas. Sehingga kisah ini menjadi pelajaran terbesar bagi ahlu iman dan ahlu kufur.”

Maka, bila kita bersandar kepada pendapat Ibnu Taimiyah di atas, Prabowo digambarkan sebagai simbol kebenaran, sosok yang berada di atas puncak keimanan dan kebenaran. Sedangkan Jokowi-JK atau Jokowi-Ma’ruf adalah simbol kebatilan, serta berdiri di atas puncak kekufuran dan kebatilan. Begitu juga dengan Soeharto.

Tanpa harus memiliki pemahaman agama yang sedemikian tinggi, akal sehat orang awam dengan mudah akan merespon perumpamaan Musa melawan Fir’aun yang dinisbatkan kepada Prabowo adalah tidak masuk akal, sangat berlebihan, bahkan cenderung merendahkan derajat kenabian Musa alaihissalam.

Karena, berdasarkan pemberitaan yang ada, Prabowo justru diragukan keislamannya, diragukan bisa membaca Al-Qur’an, diragukan bisa shalat atau menjadi imam shalat. Sebagai muslim, dia tidak menjalankan sunnah Rasulullah SAW, yaitu menikah. Padahal dia punya kemampuan untuk itu.

Rasulullah SAW bersabda, “Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian! Karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh ummat. Barangsiapa memiliki kemampuan (untuk menikah), maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat).”

Hadits shahih lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1846) dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2383)

Lima tahun lalu, salah satu kader Gerindra, Nurcahaya Tandang, pernah mengatakan bahwa Prabowo adalah titisan Allah SWT (https://www.youtube.com/watch?v=Eoeg88OjzG8). Lima tahun kemudian, derajat Prabowo turun ‘hanya’ setingkat Nabi Musa.

Untung saja FPI (Front Pembela Islam) berada di pihak Prabowo. Kalau saja perumpamaan serupa dinisbatkan kepada sosok yang berseberangan dengan FPI, niscaya sudah ada demo berjilid-jilid seperti kasus Ahok yang diposisikan sebagai orang yang menistakan agama.

Bagaimana kelanjutan kisah Prabowo dengan Ahmad Soemargono? Mereka akhirnya pecah kongsi. Alasannya, KISDI menganggap Prabowo tak lagi memiliki kekuatan untuk mencapai tujuan perjuangan mereka. (https://www.kaskus.co.id/thread/535110c36b07e77e088b464b/prabowo-dan-kisdi-pecah-kongsi/)

Setelah pecah kongsi dengan ‘Musa’, langkah Ahmad Soemargono dan kawan-kawan justru mendukung ‘Fir’aun’.

Menjelang kejatuhan Soeharto, Mei 1998, ketika mahasiswa sedang menduduki gedung DPR/MPR RI dengan satu tujuan mengakhiri pemerintahan Orde Baru, tiba-tiba dari arah pintu belakang gedung DPR/MPR datang massa dalam jumlah besar, mereka membawa bendera bertuliskan KISDI, merangsek masuk areal parkir Gedung DPR/MPR. Gerakan massa ini bermaksud melawan mahasiswa, seraya mendukung Soeharto.

Massa KISDI dan kawan-kawan tersebut memukul, menendang mahasiswa, sambil berteriak-teriak: kalian neo komunis! Mereka sempat menduduki areal tangga Gedung DPR/MPR. Hingga akhirnya terdengar kumandang suara adzan. Massa KISDI dan kawan-kawan beranjak dari posisinya menuju masjid untuk menunaikan Shalat Jum’at.

Usai shalat Jum’at, massa KISDI dan kawan-kawan kembali berusaha merangsek mahasiswa, berusaha menguasai lokasi yang sebelumnya sudah berhasil mereka duduki. Namun upaya itu terhalang oleh banyaknya massa berbendera NU (Nahdlatul Ulama), dan massa yang mengenakan rompi BANSER.

Dalam hitungan menit, massa KISDI dan kawan-kawan surut, beranjak meninggalkan gedung DPR/MPR RI. Sampai akhirnya, Soeharto pun lengser.

Kini, konstalasi berubah sesuai kepentingan. Anak keturunan sosok yang diamsalkan sebagai ‘Fir’aun’ kini bergandeng-tangan dengan sosok yang diamsalkan sebagai ‘Musa’. Anasir utama pendukungnya, yang dulu-dulu juga, dia-dia juga. Yaitu, mereka yang dulu mendukung ‘Musa’ kemudian balik badan mendukung ‘Fir’aun’. Kini mendukung ‘Musa’ lagi. Di laman youtube bisa kita saksikan, dukungan dari DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) terhadap Capres Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Sandiaga Uno (https://www.youtube.com/watch?v=7-ie18PUvl8).

Begitulah adanya, hati dan logika mereka jungkir balik.