Muhammad Syarif ‘Pengantin’ Dari Cirebon

Muhammad Syarif ‘Pengantin’ Dari Cirebon
Ilustrasi | SENAYANPOST.com

Oleh: Tontowy 

CIREBON selama ini dikenal dengan sebutan Kota Udang, karena di kawasan perairannya banyak ditemukan udang, termasuk udang kecil alias rebon.

Selain Kota Udang, Cirebon juga dikenal dengan julukan Kota Wali, karena di kota ini bersemayam jasad Sunan Gunung Jati, salah satu personel dari sembilan pendakwah Islam Walisongo.

Itu dulu. Kini, Cirebon masuk kategori zona merah terorisme. Selain Cirebon, juga kawasan terdekatnya, yaitu Indramayu, Majalengka dan Kuningan. 

Menurut penelitian Fahmina Institut, sedikitnya sudah 51 terduga teroris ditangkap Densus 88 Mabes Polri dari kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan. Hasil penelitian tersebut diungkap ke publik pada Oktober 2019 lalu.

Baca Juga

Salah satu pelaku teror yang fenomenal adalah Muhammad Syarif. Ia pelaku bom bunuh diri di Masjid Al-Dzikra, Kompleks Kepolisian Resor Kota Cirebon, pada tanggal 15 April 2011.

Disebut fenomenal, karena sasarannya adalah masjid, yang saat itu sedang berlangsung shalat Jum’at, dan masjid itu berada di halaman kantor Polisi, merupakan fasilitas yang ada di Polres Kota Cirebon.

Biasanya, pelaku teror berlabel Islam, menjadikan rumah ibadah non Muslim sebagai sasaran, atau tempat-tempat yang banyak berkumpul orang asing.

Nama Muhammad Syarif belum masuk dalam database kepolisian. Sosok kelahiran 1979 ini, nampaknya merupakan pemain baru.

Muhammad Syarif anak keempat dari delapan bersaudara, buah perkawinan Abdul Gofur dengan Ratu Sri Mulat. Sejak tahun 1999, setelah kedua orangtuanya bercerai, Muhammad Syarif tinggal bersama ibu dan saudara-saudaranya di Gang Rara Kuning I, Kelurahan Pekalipan, Kota Cirebon.

Muhammad Syarif adalah alumni SMA Taman Siswa Cirebon, dan dikabarkan pernah nyantri di sebuah pesantren di Kota Solo.

Menurut penuturan Abdul Gofur, ayahanda Muhammad Syarif, anak lelakinya yang gagah itu dulu bersikap hormat kepada orangtuanya. Kemudian berubah drastis. Suka berdiskusi soal agama. Bahkan sang ayah dilabeli kafir manakala ada hal-hal yang tidak sesuai dengan pemahaman agama sang anak.

Tidak hanya temperamennya yang berubah, Syarif juga kemudian kerap tampil dalam balutan busana khas Arab, gamis.

Muhammad Syarif kemudian terlihat aktif di sebuah front pembela agama, yang kantor pusatnya berada di Petamburan, Jakarta Pusat. Kini sudah dilarang.

Sejak menjadi aktivis front pembela agama itulah Muhammad Syarif ikut terlibat kegiatan sweeping miras ke sejumlah gerai swalayan yang ada di kota Cirebon.

Pada tanggal 19 September 2010, Muhammad Syarif bersama 12 orang lainnya, berpakaian ala ninja, berjubah, dan memakai penutup wajah, menyerang tiga minimarket Alfamart di Kota Cirebon dan menghancurkan minuman beralkohol. Enam penyerang ditangkap, Syarif dan lima rekannya berhasil melarikan diri.

Awal April 2011, Muhammad Syarif terlibat pembunuhan anggota TNI Kopral Kepala Sutejo, berusia 30 tahun. Keesokan harinya, 3 April 2011 polisi menemukan SIM C milik Muhammad Syarif, tak jauh dari jenazah Kopka Sutejo, anggota TNI yang bertugas di Kodim 0620/Sumber.

Nama Muhammad Syarif pun masuk dalam daftar buron kepolisian untuk dua kasus.

Dalam status buron, Muhammad Syarif justru menyambangi Kapolresta Cirebon. Bukan untuk menyerahkan diri. Tetapi, melakukan serangan teror kepada kepolisian. 

Jum’at 15 April 2011, waktu menunjukkan pukul 12.15 WIB. Imam mulai bersiap-siap mendirikan shalat Jum’at. Dan saat Imam mengucapkan 'Allahu Akbar' tiba-tiba suara ledakan terdengar.

Muhammad Syarif sang ‘pengantin’ alias pelaku bom bunuh diri tewas di tempat, dengan perut bagian kanan menganga. Ledakan itu juga melukai sekitar 30 jama’ah, termasuk Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco yang berada di saf terdepan.

Muhammad Syarif barangkali merupakan salah satu contoh pemuda yang terpapar indoktrinasi mabuk agama. Setidaknya sejak ia bersentuhan dengan sebuah pesantren di Solo. Ia berubah menjadi radikal dan intoleran, bahkan terhadap bapak kandungnya sendiri.

Potensi radikal dan intoleran itu, kemudian mendapat aktualisasi ketika ia bersentuhan dengan front pembela agama di kota Cirebon. Salah satu kegiatan khas front ini adalah sweeping miras. Aksi sweeping biasanya diikuti dengan tindak kekerasan, sehingga Muhammad Syarif pun masuk daftar buron aparat kepolisian.

Kemudian ia bersentuhan dengan jama’ah pembela tauhid, sebuah kelompok yang cenderung mengkafirkan, dan memposisikan aparat penegak hukum sebagai anshorut thogut.

Akibat sudah terdoktrin sedemikian rupa, maka ketika ia ditegur karena memasuki warung terkunci tanpa hak, bukannya minta maaf, malah melakukan perlawanan, sehingga menewaskan aparat TNI Kopka Sutejo dan melukai Ali pemilik warung.

Muhammad Syarif pun semakin mabuk. Setelah membunuh, ia memasuki fase selanjutnya. Yaitu sebagai suicide bomber. Dengan memaknai aksi bom bunuh diri itu sebagai Jihad, Muhammad Syarif pun meledakkan diri di dalam masjid, saat kaum muslimin sedang mendirikan shalat jum’at.

Mabuk agama, membuatnya tega melakukan kebiadaban di dalam masjid.