Muhammad Manusia Biasa

Muhammad Manusia Biasa

Oleh: Syaefudin Simon

MUHAMMAD menurut Qur'an adalah manusia biasa (lihat Surat Al Kahfi 110). Plusnya karena mendapat wahyu. Beliau nikah, punya anak, berkeluargToa, dan ikut perang. Sangat manusiawi. 

Isa, menurut Qur'an, bukan manusia biasa. Menurut Qur'an Isa lahir dari perawan Maria. Bisa bicara sejak bayi. Dengan keistimewaanya, sampai sebagian umat Kristen menganggapnya Tuhan. 

Al-Qur'an (kitab suci Islam) menyebut nama Isa sebanyak 25 kali. Dia juga disebut ibnu Maryam sebanyak 23 kali dan Al-Masih 11 kali. Sedangkan kata Muhammad hanya disebut Qur'an 4 kali. Isa menghidupkan orang mati dan muncul menemui pengikut setianya setelah mati. Luar biasa. Kehidupan Isa di luar batas insani. Sangat gaib. Hanya Kahlil Gibran, penyair sufi Kristen, yang berani menulis buku dengan judul Isa Manusia Biasa.

Ali Syariati dalam berbagai bukunya menulis bahwa Muhammad itu rasul terbaik karena aspek kemanusiannya. Ia rompel giginya karena ditimpuk batu di Thaif. Ia sedih ketika Khadijjah (istri pertamanya) dan pamannya  Abu Thalib wafat. Manusiawi. Ketika mau perang Khandak, Muhammad minta pendapat Salman Al Farisi untuk mengatur strategi menghadapi musuh. Pendapat Salman itulah yang diaplikasi dalam perang Khandak. Di situlah istimewanya Muhammad, manusia biasa. Muhammad lahir untuk menyongsong zaman manusia biasa. Zaman ril. Zaman pengetahuan. Bukan zaman gaib.

Dalam perlembangannya, puji-pujian orang-orang Islam terhadap Muhammad sangat luar biasa. Sosoknya seperti Tuhan. Konsep ma'shum menjadi tanda Muhammad harus selalu istimewa dari aspek apapun. Muhamad tak bisa salah karena kemaksumannya.

Akibat konsep ma'shum, sejarawan dan arkeolog kesulitan menulis sejarah Muhammad sebagai manusia. Terjegal dengan konsep kema'shuman yang dianggap sakral.

Annemalie Schimmel, menulis, di dunia ini tak ada kata-kata pujian yang ditulis dan dilantunkan orang sebanyak yang ditujukan kepada Muhammad. Udara di muka planet bumi sehari 24 jam bergetar membawa suara pujian terhadap Muhammad.

Saat ini, kondisi manusia di bumi berubah. Isa yang bukan manusia biasa di mata umat Kristen, aspek keilahiannya telah pudar dan menjadi manusia biasa. Wajah Isa bisa digambar. Dilukis. Rambutnya keriting. Kulitnya bisa digambar putih atau hitam tergantung suku mana yang melukisnya.

Jangan coba-coba manusia menggambar Muhamad. Bisa dibunuh karena dianggap menista Islam dan Rasulnya. Meski Muhamad manusia biasa, sosoknya di mata umat Islam sudah nyaris seperti Tuhan. 

Begitulah perkembangan Islam. Prof. Komarudin Hidayat pernah menyatakan, ilmu pengetahuan yang berkembang di era kejayaan Islam...berakhir karena IPTEK dikerdilkan untuk sekadar meluruskan arah kiblat dan menandai kedatangan ramadhan dan hari raya Idul Fitri dan Adha. 

Kebesaran Muhamad -- pinjam Ali Syariati -- sebagai  manusia biasa, kini justru diadopsi masyarakat Kristen Barat dalam mengembangkan iptek. IPTEK dikembangkan tidak untuk menuhankan Yesus. Tapi untuk memanusiakannya. 

Sebaliknya Islam. Yang dipersoalkan adalah kewajiban berjilbab, meluruskan kiblat di masjid yang serong, menghidupkan pondok tahfid, mengampanyekan antibra, dll.

Oh saudaraku kaum muslim...kenapa jihadmu tidak menembus cakrawala? Ayo bangkit. Lihatlah nabimu sebagai manusia biasa. Qur'an menyatakan "Qul innamaa ana basyarun mitslukum.. (Alkahfi 110)". Muhammad adalah manusia biasa sepertimu...

*Syaefuddin Simon, penulis, wartawan senior.