Mondok di Pesantren Fauzan Tasikmalaya, Nostalgia 55 Tahun Silam

Mondok di Pesantren Fauzan Tasikmalaya, Nostalgia  55 Tahun Silam
Syihabuddin Qalyubi

Oleh: Syihabuddin Qalyubi

Pada tahun 1960-an, pada umumnya anak-anak masuk pesantren dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan keluarga dalam masalah ekonomi. Saya termasuk salah satu di antaranya. Pada tahun 1965, ketika saya menyelesaikan Sekolah Dasar, saya ingin melanjutkan sekolah seperti teman lainnya. Almarhum ayah menyarankan agar saya mondok saja (belajar di pesantren) yang konotasinya kala itu hampir tanpa biaya. Kecuali biaya untuk makan saja.

Mendengar jawaban ayah seperti itu, saya mengadu kepada ibu. Ibu menjawab dengan sangat bijak, “Bilang saja kepada ayah bahwa kamu akan mondok. Tetapi, tanpa sepengetahuan ayah kamu cari sekolah yang dekat dengan pesantren.” 

Saya merasa mendapatkan spirit. Sekalipun saya sangat memaklumi sikap ayah saya itu. Ini karena kala itu kondisi alam sedang kemarau panjang, sedangkan sumber penghidupan hanya dari hasil pertanian. Di samping itu, orang tua harus membiayai kakak saya yang kebetulan sudah sekolah di Kota Tasikmalaya.

Tanpa berpikir panjang, saya minta bantuan kakak saya agar mau membantu mendaftarkan saya di pondok pesantren sekaligus mendaftar sekolah di Kota Tasikmalaya. Eh, kakak ternyata benar-benar mendaftarkan saya mondok di Pesantren Fauzan dan sekolah di PGAP.NU.

Memang, kala itu sangat sulit mendapatkan pesantren yang menyatu dengan sekolah. Jarak dari Pesantren Fauzan, yang terletak di Paseh, ke sekolah PGAP.NU yang terletak di Kantor NU Jl. dr.Sukarjo sekitar 3 Km (PP 6 Km). Jarak yang cukup jauh itu harus saya tempuh dengan jalan kaki. Tapi, semua itu tidak menyurutkan saya untuk mondok sambil sekolah.

Pesantren Fauzan waktu itu dipimpin oleh seorang ulama karismatik: K.H.Moch. Tajuddin bin KH Tubagus Abd. Syukur (1916-1987). Bangunan pesantrennya cukup mungil, berdekatan dengan masjid dan kediaman Mama (demikian para santri memanggil pimpinan pondok pesantrennya). Kala itu; santri yang mondok sekitar 20 orang. Mereka datang dari berbagai pelosok Tasikmalaya.

Yang masih terngiang dalam benak saya, hingga kini, yaitu hobi Mama yang unik: senang mendengarkan suara baling-baling kolecer .

Kolecer adalah permainan tradisi Sunda berupa baling-baling, terbuat dari pohon kitanah, randu, atau tisuk. Kolecer milik Mama kurang lebih sepanjang 4 meter, sehingga dibutuhkan penyangga yang cukup kuat. Tatkala angin berpindah arah, kami diminta Mama untuk memutar arah kolecer itu sesuai dengan arah angin.

Pada suatu hari Mama memerintahkan santri bukan untuk merubah arah kolecer. Tetapi, agar kami semua meninggalkan bangunan pesantren. Saya waktu itu tidak tahu kenapa Mama memerintahkan santri-santrinya seperti itu. Saya ingat peristiwa itu terjadi pada tanggal 30 September 1965.

Saya dan teman-teman santri segera menjauhi bangunan pesantren, lari ke tengah pesawahan, sambil menunggu informasi selanjutnya dari Mama.

Maklum kala itu informasi yang ada hanya diperoleh dari  radio, dan tidak semua orang memiliki pesawat radio. Sampai dengan pagi hari saya dan teman-teman santri bersembunyi di tengah sawah.

Ketika matahari sudah memperlihatkan sinarnya, saya diajak Kang Maman, santri senior, untuk ikut digonceng sepedanya ke rumahnya di Sambong.

Di rumah Kang Maman, saya bisa mendengarkan radio RRI yang terus menerus mewartakan perkembangan di tanah air. Waktu itu saya dan Kang Maman tidak paham tentang politik yang sedang berlangsung di Indonesia. Yang jelas, kala itu kami waswas tentang keamanan dan keselamatan Presiden RI.

Peristiwa ini mengingatkan saya ke tiga tahun sebelum itu, sekitar tahun 1962. Yakni ketika saya sekolah kelas 3 di SD Sukaraja II: saya pernah dibuli teman-teman sekelas sambil diteriaki, “Bapana dipoe, bapana dipoe (ayahnya dijemur).”

Pada awalnya saya tidak paham apa yang dimaksud teman-teman itu. Tetapi, setelah ada seorang teman menunjukkan ke arah depan Kantor Kecamatan, tampak ayah saya sedang dijemur sambil menghormat bendera merah putih. Melihat kejadian itu, saya menjerit dan langsung pulang ke rumah.

Sewaktu melewati alun-alun, saya melihat ada senapan laras panjang dengan sederetan peluru yang melingkar diarahkan kepada ayah. Saya semakin getir melihatnya. Setiba di rumah saya langsung bercerita kepada ibu tentang apa yang terjadi. 

Seketika itu juga ibu menghubungi tetangga, satu per satu, dan tokoh masyarakat untuk berkumpul di rumah. Lalu disepakati untuk mengutus seorang tokoh supaya mendatangi Kantor Kecamatan. Setelah melobi aparat di Kantor Kecamatan, tokoh itu kembali ke rumah dan berkata, “Insyaa Allah satu jam lagi bapak Obi Qalyubi akan dibebaskan. Jika dalam tempo itu tidak dibebaskan, kita semua bersama- sama menggeruduk Kantor Kecamatan.” 

Tepat satu jam kemudian, ayah dibebaskan dan kembali ke rumah. Setiba di rumah, ayah bercerita secara kronologis kejadian itu. Peristiwa itu diawali adanya laporan kakak kepada ayah, bahwa di pagi hari ada pejabat kecamatan mengontrol kebersihan dan kerapihan sepanjang jalan kota Sukaraja. 

Ketika mendapati pagar rumah sudah doyong dan hampir ambruk, sang pejabat itu langsung menendang dan merobohkan pagar sambil berucap, “Ganti pagar ini.”

Mendengar laporan itu, ayah sebagai seorang pendekar silat, langsung marah, merasa dirinya tidak dihargai lagi. Sambil geram berucap dengan nada tinggi,
“Kenapa pagar ini harus ditendang dan dirobohkan? Kenapa tidak ada pemberitahuan atau teguran sebelumnya?”

Ketika ayah sedang marah-marah, ada seorang pejabat kecamatan lainnya lewat rumah. Maka, ayah pun meneruskan amarahnya dan berkata kepada pejabat yang lewat itu, “Pak. Katakan kepada atasan bapak, kalau memang berani, jangan tendang dan robohkan pagar yang tidak bisa apa-apa ini. Tendang dan robohkan saja saya ini.” 

Tampaknya si bapak itu benar-benar melaporkan tantangan ayah saya kepada atasannya, karena  tidak lama kemudian ketika ayah mau melaksanakan shalat Jumat, di tengah perjalanan ke masjid ayah dipanggil salah seorang aparat. 

Ayah saya minta waktu jika akan bertanya atau menginterogasi sebaiknya setelah menunaikan shalat Jumat. Aparat itu menjawab, “Kamu tidak Jumatan pun tidak apa-apa. Saya tanggung jawab.”

Lalu ayah diberondong pertanyaan mulai dari nama negara, lambang negara, dasar negara, urutan Pancasila, dan yang lainnya. Ayah berhasil menjawab semua pertanyaan itu. Mendengar jawaban-jawaban ayah, sang aparat bukan senang malah naik pitam, ayah disuruh keluar kantor untuk menghormat bendera sambil menghadap sinar matahari yang mulai mengarah ke Barat.

Semua orang yang kembali dari shalat Jumat dan anak-anak sekolah yang mau masuk sekolah pada melihatnya. Dengan terbata-bata ayah menutup penjelasannya, dengan berharap, agar peristiwa seperti itu tidak terulang lagi di masa-masa yang akan datang.

Semoga peristiwa yang terjadi 55 tahun lalu dan beberapa tahun sebelumnya yang pernah mengusik perasaan sebagai warga negara dan memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak terulang lagi dan tidak memunculkan dendam yang tiada ada endingnya. Marilah kita bersama menyongsong masa depan yang lebih cerah.

*Prof.Dr. Syihabuddin Qalyubi, Lc., M.Ag, Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.