Nostalgia Keluyuran ke Kota Seribu Menara

Menikmati Pusat Kota Kairo

Menikmati Pusat Kota Kairo

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“OH, INI KAN pusat Kota Kairo!” 

Demikian seru bibir saya, dua hari yang lalu, ketika saya sedang menyimak kembali foto-foto kluyuran saya ke ibukota Mesir, Kairo. Beberapa tahun yang lalu. Segera, benak saya pun “melayang-layang”. Jauh. Ke sebuah kota yang terletak di Benua Afrika: Kairo. Ketika itu, bus yang kami naiki belok ke kanan dan melintasi Jembatan 6 Oktober (6th October Bridge). Dalam kluyuran itu, bersama 23 sahabat dari Indonesia, didampingi seorang tour guide dari Mesir dan seorang tour guide dari Indonesia.

“Dengan memasuki Jembatan 6 Oktober ini, posisi kita saat ini berada Distrik Zamalek,” demikian ucap tour guide asal Indonesia. Memecah kesunyian. “Di sebelah kiri kita adalah El-Gezirah Sporting Club. Sedangkan di agak jauh di sebelah kanan kita adalah Cairo Tower, sebuah monumen seperti halnya Monumen Nasional di Jakarta,” ucap lebih lanjut tour guide tersebut.

Mendengar penjelasan tour guide tersebut, segera saya sadar kalau saya berada di Distrik Zamalek, kawasan elite di Kota Kairo, yang berada di El-Gezirah. Dinamakan “El-Gezirah”, yang berarti “pulau”, karena kawasan itu terbentuk dari endapan Sungai Nil. Sebelum membentuk sebuah pulau yang memiliki lebar sekitar tiga kelometer itu, kawasan itu sejatinya terdiri dari tiga pulau. Ketiga pulau itu, dengan bergulirnya waktu, akhirnya menyatu. Pulau-pulau itu mulai “memantapkan diri” sebagai satu kesatuan yang padu selepas terbebas dari banjir semenjak tahun 1860-an, selepas Khedive Ismail Pasha membangun kanal dan menguruk pulau itu.

Tempat Favorit Presiden Gamal Abdel Nasser

Beberapa tahun kemudian, menurut Michael Haag dalam karyanya Cairo Illustrated, El-Gezirah berubah menjadi wilayah yang memikat dan mudah dicapai. Apalagi selepas Khedive Ismail Pasha mendirikan sebuah istana di El-Gezirah yang tak lagi terancam banjir. Istana itu dibangun untuk menyambut kedatangan Ratu Eugenie, permaisuri Kaisar Napoleon III. Sang permaisuri berkunjung ke Mesir untuk menghadiri peresmian Terusan Suez pada Kamis, 13 Sya‘ban 1286 H/18 November 1869 M. 

Terusan yang memotong lintasan laut sepanjang 169 kilometer itu dikerjakan sebuah tim pimpinan Ferdinand de Lesseps asal Perancis. Kala itu, saat diresmikannya terusan yang menghubungkan antara Eropa dan Lautan Hindia, Mesir sedang sibuk menerima sejumlah tamu negara. Antara lain Putra Mahkota Prusia, Pangeran Henry dari Belanda, di samping sejumlah pembesar dari Turki, Iran, dan India.

Tiga tahun selepas itu, Khedive Isma‘il Pasha memberikan kepercayaan kepada para insinyur Perancis untuk membuat Jembatan El-Gezirah: sebuah jembatan pertama yang melintasi Sungai Nil. Namun, karena Mesir selama di bawah pemerintahan sang khedive kurang terkendali, sehingga membuat ia diturunkan pada 1289 H/1872 M, Istana El-Gezirah akhirnya disita para kreditur dan diubah menjadi hotel. 

Dalam perjalanan waktu selanjutnya, hotel itu kemudian jatuh ke tangan seorang hartawan asal Suriah. Akhirnya, hotel itu berubah menjadi Gedung El-Gezirah Sporting Club yang mengikuti model Hurlingham Club di London. Di sisi lain, pada 1289 H/1872 M juga, Jembatan El-Gezirah dibangun kembali oleh sebuah perusahaan Inggris yang mendirikan Sydney Harbor Bridge, Sydney, Australia. Namanya pun kemudian diubah menjadi Jembatan Qasr El-Nile.

Kemudian pada 1330 H/1912 M, jembatan kedua, yang kini disebut Jembatan 26 Juli, dibangun. Dengan dibangunnya jembatan itu, wilayah yang sebelumnya merupakan wilayah milik istana dipisahkan dari lahan berawa-rawa yang berada di ujung utara El-Gezirah. Namun, lahan di ujung utara El-Gezirah itu kemudian dibeli seorang developer asal Swiss, Charles Baehler, dan dikembangkan menjadi kompleks perumahan mewah yang disebut Zamalek, sebuah nama yang kemungkinan diambil dari sebutan dangau di Albania. Segera saja, wilayah itu berubah menjadi kawasan elite di Kota Kairo, seperti halnya Distrik Garden City. Dewasa ini, Istana El-Gezirah tak lagi bersisa, kecuali salamlik (ruang resepsi). Nah, ruang itu kini menjadi inti J.W. Marriott Hotel. Sedangkan di ujung selatan istana, dulunya halaman istana, kini tegak Cairo Opera House, Museum of Modern Egyptian Art, dan Cairo Tower.

Cairo Tower, atau Burj Al-Qâhirah, yang disebut tour guide itu, merupakan salah satu landmark Kota Kairo. Monumen itu secara resmi mulai dibangun pada 1378 H/1959 M. Monumen yang anti-gempa ini, dirancang dua arsitek terkemuka: Noam Chebib dan Helmy Sweilem, dengan mengambil inspirasi dari bentuk bunga lotus. Sedangkan fondasi monumen yang memiliki tinggi 187 meter dan garis tengah 17 meter ini, seperti halnya piramid-piramid di Giza, diambil dari batu-batu granit dari Aswan. 

Monumen itu sendiri merupakan tempat favorit Presiden Gamal Abdel Nasser dan keluarganya menikmati makan malam, yaitu di restoran putar yang “bertengger” di puncak monumen itu. Lantas, pada 1425 H/2004 M,  monumen ini dipugar kembali, selepas terkena goncangan gempa yang menghajar Kairo dua tahun sebelumnya dan diresmikan kembali pada Selasa, 25 Rabi‘ Al-Akhir 1430 H/21 April 2009 M.

 “Ibu dan bapak yang saya hormati,” ucap tour guide asal Indonesia, lebih lanjut. Begitu ia melihat bus yang kami naiki hampir sampai ke ujung Jembatan 6 Oktober. “Kita sebentar lagi akan sampai ke Museum Mesir (The Egyptian Museum). Selepas ibu dan bapak sekalian turun dari bus, kita akan menuju museum itu. Sebelum memasuki halaman museum, kita akan memasuki ruang pemeriksaan. Selepas itu, kita memasuki halaman museum. Di situ, mohon semua kamera dikumpulkan. Kita tak diperkenankan mengambil foto di dalam museum. Untuk tiket masuk, nanti akan saya bagikan. Bagi ibu dan bapak yang ingin melihat mummi beberapa fir‘aun di lantai dua museum, dipersilakan membeli tiket di konter dekat pintu masuk ruangan mummi-mummi itu. Harga tiket, LE. 100.00,- untuk satu orang.”

“Mas Ahmad Sharif,” tanya seorang bapak. “Saya ingin melihat mummi fir‘aun yang pernah memburu Nabi Musa a.s. Apa mummi fir‘aun itu juga terdapat di Museum Mesir yang akan kita kunjungi?”

“Fir‘aun itu adalah Ramses II, bapak. Ya, mumminya nanti dapat bapak saksikan di ruang khusus mummi para raja,” jawab tour guide asal Cirebon, Jawa Barat itu. “Seperti telah saya kemukakan tadi, mummi-mummi itu terdapat di lantai dua. Untuk melihat mummi-mummi itu, sekali lagi perlu saya kemukakan, setiap orang harus membayar sebesar LE. 100.00,-.”

Episentrum Kota Kairo

Selepas melintasi Jembatan 6 Oktober, bus “Royal Way Tours” yang kami naiki kemudian belok ke arah kanan. Tak lama kemudian, bus itu belok ke arah kanan lagi dan akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan megah dengan fasad bergaya neo-klasik. Itulah gedung The Egyptian  Museum, tepatnya The Museum of Egyptian Antiquities,  yang dirancang Marcel-Lazare Dourgnon, seorang arsitek Perancis, dan dibangun sebuah perusahaan konstruksi Italia: Garozzo-Zaffarani. 

Begitu turun dari bus, rombongan kemudian menerima pembagian tiket masuk museum. Usai menerima pembagian tiket seharga LE. 60.00,-, mereka kemudian menuju  museum yang di atas pintunya dihiasi dua dewi (yang melambangkan Mesir Atas dan Mesir Bawah), dengan melintasi ruang pemeriksaan. Selepas itu, dengan diantar Hannan El-Qadhi dan Mas Ahmad Sharif, mereka memasuki museum yang koleksi-koleksi pertamanya dihimpun François Auguste Ferdinand Mariette, seorang arkeolog Perancis, atas perintah Khedive Ismail Pasya. Saya sendiri tak ikut masuk museum, karena menjaga kamera-kamera dan barang-barang lainnya yang tak boleh dibawa masuk ke dalam museum.

Bagaimana “kisah” Museum Mesir dan apa koleksi-koleksinya?

Sejarah museum yang terletak di samping Mîdân Tahrîr (Tahrir Square) itu bermula pada 1251 H/1835 M. Kala itu, museum menempati sebuah gedung di dekat Taman Ezbekiyah, ‘Atabah. Namun, segera gedung itu tak mampu menampung semua koleksi yang dimilikinya. Karena itu, lokasi museum pun, pada 1274 H/1858 M, di pindahkan ke Bulaq, menempati sebuah gedung yang dirancang seorang arsitek Perancis dan dibangun di tepi Sungai Nil. Namun, karena gedung itu kerap dihajar banjir, museum pun dipindahkan ke Istana Isma‘il Pasya di Giza. Baru pada 1320 H/1902 M, museum itu menempati sebuah gedung yang tegak dengan gagahnya di samping Mîdân Tahrîr dan bertahan hingga dewasa ini.

Salah satu museum terbesar di dunia ini sendiri menyimpan koleksi terbesar dan paling berharga berupa artefak-artefak dari zaman Mesir Kuno. Paling tidak, ada sekitar 136.000 item yang telah dikatalogkan dan barang-barang lainnya yang diatur secara kronologis menjadi tujuh seksi. 

Nah, bila kita memasuki lantai pertama museum itu, dengan mengikuti putaran jam, pertama-tama Anda dapat menyaksikan pelbagai pusaka historis Mesir Kuno, dari “Old Kingdom”, “Middle Kingdom”, “New Kingdom” hingga Kekaisaran Romawi. Sementara di lantai dua museum disajikan sederet koleksi dari masa pra-sejarah dan dinasti-dinasti awal Mesir. Di lantai itu bisa didapatkan pula beberapa koleksi berupa makam. Termasuk makam Tutankhamun yang berlapis emas. Di makam itu sendiri terdapat lukisan kemilau yang menggambarkan mummi suami Ankhesenamun itu dijaga empat dewi: Nephthys, Isis, Selkis, dan Neith. Ankhesenamun sendiri adalah putri pasangan suami-istri Akhenaten dan Nefertiti.

Di samping itu, di lantai dua museum ini, ada kereta-kereta perang, singgasana dan sarkofagus (keranda), patung-patung, perhiasan-perhiasan emas, topeng emas, senjata-senjata emas dan banyak lagi. Bila Anda ingin melihat mummi-mummi para fir‘aun, Anda bisa melihat mummi-mummi mereka di ruangan khusus untuk mummi kerajaan (Royal Mummy Room), dengan membayar sebesar LE. 100.00,-. Di ruangan itu, sejumlah mummi dipamerkan dalam kotak-kotak bebas oksigen. Termasuk mummi Ramses II. Dewasa ini, karena telah terlalu penuh dengan koleksi yang dimilikinya, museum ini direncanakan akan dipindah ke kompleks piramid-piramid Giza dan akan menempati sebuah gedung yang jauh lebih megah. Nama museum yang baru itu adalah Grand Egyptian Museum.

Saya sendiri, selama menunggu rombongan yang sedang asyik menikmati berbagai koleksi Museum Mesir, asyik “menikmati” dan mencermati pemandangan di depan Museum Mesir. Lokasi yang pada tahun-tahun 1980-an merupakan terminal bus  dan merupakan episentrum Kota Kairo, saat itu sedang “kacau balau” dengan berbagai peralatan pembangunan. Di sebelah lokasi “mantan” terminal bus itu terdapat Mîdân Tahrîr. Sedangkan di samping kanan “mantan” terminal bus itu, dari arah saya yang sedang berdiri di halaman Museum Mesir, berdiri dengan megahnya The Nile Ritz-Carlton Hotel. Di samping hotel itu sendiri tegak markas besar Liga Arab. 

Kemudian, di seberang Kasr El-Nile St.,  tegak El-Tahrir Palace yang menjadi markas besar Kementerian Luar Negeri Mesir, seperti gedung Pejambon di Jakarta. Tak jauh dari El-Tahrir Palace, tegak Masjid ‘Umar Makram yang dirancang seorang arsitek Italia, Mario Rossi, dan El-Mujamma‘ Administrative Complex. Melihat gedung terakhir itu, segera kenangan ketika saya masih menjadi mahasiswa selama sekitar enam tahun di Kairo pun kembali membara. Di gedung itulah, juga di gedung Kementerian Luar Negeri Mesir yang terletak di tepi Sungai Nil, setiap tahun saya harus mengantri bersama ribuan anak manusia dari berbagai negara dengan tujuan sama: memperpanjang visa. 

Di samping kanan gedung El-Mujamma‘ Administrative Complek, gedung American University in Cairo tegak. Gedung universitas yang satu itu semula adalah Istana Khairi Pasha yang didirikan pada 1276 H/1860 M. Universitas itu sendiri mulai beroperasi pada 1337 H/1919 M. Namun, sejak 1429 H/2008 M, program undergraduate dan graduate dialihkan ke sebuah pemukiman baru, New Cairo, yang terletak tak jauh dari Cairo International Airport, berdampingan dengan Distrik Nasr City. Tak jauh dari gedung universitas itu terdapat stasiun metro: Stasiun Sadat. 

Tak jauh pula dari universitas itu, di sebelah timurnya, ada sebuah jalan: Bab El-Louq. Nah, pada tahun-tahun 1970-an dan 1980-an, di jalan di kawasan elite dan strategis itulah terdapat markas besar Persatuan Pelajar Indonesia, tempat mangkal para mahasiswa Indonesia di Kairo. 

Terkenang dengan Para Sahabat Seangkatan

Pada awal tahun-tahun 1980-an, seingat saya, di seputar Mîdân Tahrîr terdapat sebuah jembatan membentang panjang untuk para pejalan kaki (kini, jembatan itu tiada lagi). Setiap hari, ribuan penduduk Kairo naik, turun, dan melintasi jembatan melingkar itu. Kala itu, di situ masih terdapat terminal bus dan trem tua (dengan trayek antara Tahrir dan El-Manial Raudhah), seperti halnya trem yang hingga kini masih “mewarnai” Kota Alexandria. Tak aneh bila kala itu, Mîdân Tahrîr sangat riuh sekali. Ini karena kala itu Kota Kairo pun telah padat dengan penduduk. Sayang, trem tua Kota Kairo itu kini tak lagi hadir. 

Kota Seribu Menara memang merupakan salah satu kota di dunia yang mengalami peningkatan jumlah penduduk yang begitu cepat. Pada abad ke-18 M, penduduk kota itu hanya sekitar 245.000 orang. Kemudian, pada 1347 H/1929 M, jumlah penduduk kota itu mencapai 1.070.000 orang. Lantas, pada 1379 H/1960 M, jumlah penduduknya telah naik menjadi sekitar tiga setengah juta orang. Sepuluh tahun kemudian, jumlah itu telah mencapai sekitar lima juta orang. Dan kini, penduduk kota itu telah meroket menjadi sekitar delapan belas juta orang. Ya, delapan belas juta anak manusia!

Dengan jumlah penduduk yang demikian besar, tak aneh bila jalan-jalan di berbagai penjuru Kota Kairo senantiasa disergap kemacetan. Nah, kemacetan yang mewarnai kehidupan sehari-hari Kota Seribu Menara membuat diterapkannya pola “4 in 1” bagi taksi. Dengan kata lain, taksi yang belum penuh (empat orang) boleh ditambah dengan penumpang lain, asal arah dan wilayah yang dituju sama. Karena itu, bila seseorang naik taksi sendirian di kota ini, jangan heran bila taksi itu tiba-tiba berhenti untuk menaikkan penumpang lain sampai taksi itu penuh dan masing-masing penumpang diminta membayar sendiri-sendiri!

Di sisi lain, untuk mengatasi kemacaten luar biasa yang menyergap Kota Kairo setiap hari, pemerintah Mesir kemudian membangun Cairo Metro yang dioperasikan oleh Egyptian National Railways (ENR). Jalur 1 metro pertama di Benua Afrika itu rampung pembangunannya pada 1407 H/1987 M. Jalur yang membentang 42.5 kilometer itu, dari ujung utara hingga ujung selatan Kota Seribu Menara, terdiri dari 33 stasiun. Sedangkan jalur 2 dibangun dalam dua tahap: 1418 H/1997 M dan 1425 H/2004 M. Jalur itu, yang membentang 21 kilometer antara utara hingga barat daya kota yang sama, meliputi Distrik Syubra dan kawasan piramid-piramid di Giza, terdiri dari 20 stasiun.

Sementara pembangunan jalur 3 Cairo Metro dimulai pada 1428 H/2007 M. Pembangunan jalur yang diharapkan rampung pada 1434 H/2013 M itu akan terdiri dari empat fase. Dengan rampungnya pembangunan jalur 3, yang membentang 21 kilometer dan terdiri dari 20 stasiun, Cairo International Airport terhubung dengan jalur-jalur Cairo Metro yang telah ada. Jalur 3 tersebut akan membentang dari Cairo International Airport di sebelah timur hingga Embaba dan Mohandisseen di sebelah barat, dengan melintasi kawasan Heliopolis dan Downtown. Jalur ini sendiri mampu mengangkut sekitar 1.8 juta orang setiap hari.

Nah, untuk mengantisipasi perkembangan jumlah penduduk yang kian melejit tinggi, kini telah disiapkan pula jalur 4, jalur 5, dan jalur 6. Jalur 4, sepanjang 24 kilometer dan melingkar, melayani trayek Distrik Nasr City hingga Port Said St. Jalur 5, sepanjang 20 kilometer, melayani trayek antara kawasan piramid-piramid hingga Nasr City. Sedangkan jalur 6, sepanjang 19 kilometer, membentang antara Syubra hingga Maadi. Dengan terselesaikannya semua jalur itu, diharapkan setiap hari Cairo Metro akan mampu mengangkut sekitar lima juta orang.

Entah kenapa, selepas mencermati “suasana” di seputar Mîdân Tahrîr, kenangan saya selama enam tahun menimba ilmu di Kairo kemudian muncul. Bagaikan film. Tiba-tiba pula, satu demi satu wajah para sahabat seangkatan pun hadir dalam benak saya, antara lain Dr. Tengku Muslim Ibrahim (alm.), Prof. Dr. Sohirin M. Solihin, Prof. Dr. Rifyal Ka‘bah (alm.), Prof. Dr. Syihabuddin Qalyubi, Prof. Dr. Zainun Kamal, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, K.H. Athian Ali Da‘i MA, Dr. Sayuti Nasution (alm.), Prof. Dr. Huzaimah T. Yanggo, Dr. Faizah Ali Syibromalisi, Dr. Tulus Musthofa, K.H. Hasib Wahab, K.H. Husein Muhammad, K.H. Hamim Ahmad, Ali Tsauri MA, K.H. Abdullah Hasyim, K.H. Djazuli Noer, K.H. Abdurrahman Aseni, Dr. Surachman Hidayat, Imam Joban Awadh, Dr. Kurdi Amin, Dr. M. Syakirin Al-Ghozali MA., Prof. Dr. Badruzzaman M. Yunus, K.H. Farid Wajdi MA, Dr. Masri Elmahsyar, Dr. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, Masruh Ahmad MA, MBA, K.H. Maktum Jauhari MA (alm.), K.H. Abdul Kholik Murod, K.H. Kacung Maryanto, dan lain-lainnya.

Selepas itu, muncul sederet tokoh yang jauh lebih senior dari saya dan juga pernah menimba ilmu di Bumi Kinanah itu, seperti Prof. Mochtar Jahja (alm.), Prof. Dr. M. Rasjidi (alm.), Prof. Mochtar Lintang (alm.), Prof. Dr. Zakiah Darajat, Prof. Dr. Tudjimah (alm.), Prof. Baroroh Baried (alm.), Hanafi MA (alm.), Prof. Zaini Dahlan MA (alm.), Prof. Dr. Ahmad Basyir (alm.), Wasit Aulawi MA, K.H. Abdurrahman Wahid (alm.), K.H.A. Mustofa Bisri, Prof. Dr. Quraish Shihab, Prof. Dr. Hassan Langgulung (alm.) Prof. Dr. Alwi Shihab, Dr. Harun Zaini (alm.), Dr. M. Fudoli Zaini, (alm.), Prof. Dr. Roem Rowi,  K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi MA (alm), K.H. Latif Muchtar (alm.), Dr. Anwar Ibrahim, dan lain-lainnya.

Teringat mereka semua, tak terasa bibir pun bergerak, “Ya Allah. Kiranya ilmu mereka semua bermanfaat bagi masyarakat dan Engkau terima amal mereka, amin.”