Mengenang Kang Jalal

Mengenang Kang Jalal
Jalaluddin Rakhmat

Oleh: Fauzi Rahman

KITA beberapa hari yang lalu kehilangan tokoh besar lagi,  Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat. Lahul fatihah.

Pada tahun 90an saya pernah menjemput  Jalaluddin Rakhmat ke bandara Adi Sucipto bersama adik-adik mahasiswa IAIN SUKA Jogjakarta yang sedang mengadakan seminar, dan Kang Jalal — kami biasa memanggil— merupakan salah satu narasumber dalam seminar tersebut. 

Karena waktu seminar masih lama maka Kang Jalal kami ajak  sarapan dulu di warung Arek Suroboyo di Jalan Gejayan, tak jauh dari IAIN (sekarang UIN).

Kang Jalal orang yg sangat ramah dan kalau ngobrol sangat komunikatif, maklum memang beliau dosen retorika dan komunikasi. 

Baca Juga

Disamping pakar komunikasi beliau juga terkenal sebagai intelektual muslim yang sangat diganderungi kawula muda khususnya mahasiswa di kampus, saya masih ingat dan masih menyimpan bukunya Islam Aktual yang fenomenal kala itu.

Dalam barisan pemikir Islam Kang Jalal bisa disejajarkan dengan Nurcholish Madjid, Imaduddin Abdurrahim, Djohan Effendi, dan mungkin satu level dibawah Gus Dur.

Dalam kesempatan makan di warung AREK SUROBOYO lebih satu jam ngobrol, dan topiknya hanya satu tokoh, yaitu KH Abdurrahman Wahid atau GUS DUR

Kang Jalal begitu terpesona pada sosok Gus Dur dan bahkan menyebutnya sebagai orang yang tiada banding di Indonesia. 

Ternyata Kang Jalal punya pengalaman diajak ikut rombongan Gus Dur dalam lawatan kerja ekonomi ke Iraq dan Iran ketika Gus Dur menjabat sebagai Ketua PBNU.

Kang Jalal bicara tentang kewalian Gus Dur, kalau yang cerita orang NU sih saya tidak kaget, tapi yang cerita adalah Kang Jalal yang kala itu sebagai pengurus Muhammadiyah Bandung 

Ini cerita benar-benar dari Kang Jalal yang kurang lebihnya begini, kalau ada ketidak akuratan mohon dimaklumi karena sudah 30 tahunan lalu.

Ketika rombongan lawatan ke Iraq dan Iran sudah semua di Cengkareng (sekarang Soekarno Hatta), yang saya masih ingat namanya hanya Hasyim Wahid adik Gus Dur, Djohan Effendi, Kang jalal, Mustafa Zuhad dan Gus Dur, yang lainnya saya lupa.

Ketika rombongan sudah di Cengkareng, Gus Dur belum nongol, bahkan rombongan sudah naik ke pesawat belum juga ada tanda-tanda kedatangan Gus Dur. Semua panik dan bahkan ada yang ngajak turun saja karena kepala sukunya sebagai ketua delegasi  malah belum datang.

Menurut Kang Jalal, ketika pesawat mau take off ternyata ada gangguan mesin, akhirnya delay sekitar 30 menitan dan Gus Dur tiba-tiba  datang dengan santainya sambil  ketawa-ketawa tanpa beban, sedang yang lain panik dan dongkol sama Gus Dur, singkat cerita ahirnya berangkat dengan lengkap ke Iraq dan Iran.

Sesampai di Iraq ada masalah besar karena waktu itu Iraq sedang perang dengan Iran dan rombongan tidak boleh masuk ke Iraq. Akhirnya ada yang terus bernegosiasi agar bisa masuk ke Iraq, yang pertama maju  Djohan Effendy, terus Gus Im, Kang jalal  dan seterusnya.

Tapi tak satu pun yang berhasil  meluluhkan petugas di sana, tetap saja tidak dibolehkan oleh petugas. Lalu terakhir yang maju adalah Gus Dur. Gus Dur dengan santainya memperkenalkan diri bahwa dia adalah ketua organisasi Islam terbesar di Indonesia (NU) yang anggotanya 40 juta lebih. Gus Dur juga mengaku kenal baik dengan Saddam Husein.

Entah kenapa, waktu itu kok petugasnya langsung luluh dan mempersilahkan masuk, padahal itu cuma gertakan Gus Dur. Jadi semua ketawa setelah bisa masuk Iraq, Gus Dur kok dilawan, celoteh anggota rombongan. Perlu diketahui bahwa Gus Dur memang pernah kuliah di Iraq jadi sedikit tahu karakter orang Iraq

Yang lebih membuat Kang Jalal takjub ketika sampai di Iran, dalam pertemuan resmi dengan presiden Iran -kalau tidak keliru Rafsanjani-  ketika presiden Iran pidato, Gus Dur yang duduk di samping Kang Jalal malah tidur nyenyak.

Sehingga, menurut Kang Jalal, sampai ditegur oleh protokol kepresidenan karena dianggap tidak sopan terhadap presiden Iran. Ketika dibangunkan dari tidur, Gus Dur sempat bangun, tapi tidur lagi, kata Kang Jalal.

Ketika sambutan Presiden Iran selesai, Gus Dur dibangunkan lagi, karena sebagai ketua delegasi harus juga memberi sambutan balasan.

Kang Jalal was-was dan tidak yakin kalau Gus Dur bisa memberi sambutan dengan baik karena pasti tidak utuh mendengar sambutan Presiden Iran.

Tapi apa yang terjadi, kata Kang Jalal, setiap poin yang menjadi isi sambutan Presiden Iran bisa dijawab dan dibahas dengan begitu detail dan rinci oleh Gus Dur.

Bahkan mendapat tepuk tangan dari semua yang ada diruangan itu, dan anehnya lagi,  Gus Dur memakai bahasa arab dengan lahjah dan dialek Iran, padahal Gus Dur tidak pernah tinggal di Iran, itulah kelebihan Gus Dur.

Inilah sekelumit kenangan saya dengan Kang Jalal kala itu, kalau tidak keliru waktu itu ada adinda Ngatawi Al Zastrouw karena dialah panitianya, sedang saya penyedia mobilnya.

Selamat Jalan Kang Jalal, apa pun kata orang tentangmu aku bersaksi Kang Jalal orang yang sangat baik. (*)