Selintas tentang Salah Seorang Pimpinan Baru Pondok Modern Darussalam Gontor

Mengenal Prof.Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi

Mengenal Prof.Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi
Ahmad Rofi'Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

MASYAALLAH. Cak Amal Fathullah Zarkasyi kini menjadi salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.”

Tak terasa ucapan demikian pelan meluncur dari bibir saya. Kemarin siang,  selepas shalat Jumat, ketika saya menerima kabar tersebut. Dari istri saya. Segera, saya pun mengirim pesan sangat singkat, kepada Prof. Dr. K.H. Amal Zarkasyi, “Abot sanggane, yo Cak. Tak doakke terus, insyaAllah. Berat sekali amanah itu, ya Cak. Saya doakan selalu, insyaAllah.”

Sahabat saya yang satu ini, Cak Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, adalah seorang kiai yang kini menjadi Rektor Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo. Dan, sejak Jumat kemarin, beliau juga menjadi salah seorang pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Bersama K.H. Hasan Abdullah Sahal dan Drs. K.H. Akrim Mariyat, Dipl. A.Ed. Saya memanggil pengganti Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi (Allâhu yarham), sejak pertama saya bertemu beliau, dengan panggilan Cak Amal. Panggilan yang singkat. Tapi, sangat akrab.

Saya berkenalan pertama kali dengan kiai yang ramah, periang, dan kadang suka canda ini  ketika kami sedang menimba ilmu di program  pascasarjana Fakultas Dar Al-‘Ulum, Universitas Kairo. Pada awal 1980-an. Beliau mendalami filsafat Islam. Sedangkan saya mendalami sejarah dan peradaban Islam.

Selain itu, saya dan doktor lulusan Universitas Malaya, Kuala Lumpur itu, dengan disertasi tentang Ibn Taimiyyah, juga menimba ilmu di Universitas Al-Azhar. Kala itu, dapat dikatakan tidak lebih 10 mahasiswa Indonesia yang merangkap kuliah di Universitas Al-Azhar dan Universitas Kairo. Antara lain Cak Prof.Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, Prof.Dr. Syihabuddin Qalyubi, Prof.Dr. Zainun Kamal, Prof.Dr. Masri El-Mahsyar, dan saya sendiri.

Di luar kegiatan menimba ilmu, saya kerap diajak kluyuran sama salah seorang putra pendiri pondok modern itu, K.H. Imam Zarkasyi, ke rumah sejumlah alumni Pondok Modern Gontor. Untuk apa? Tidak lain untuk menghilangkan “home sick” kami dengan menikmati masakan Indonesia. Sebagai putra seorang kiai yang pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, ke mana pun beliau bersilaturahmi ke rumah para alumi pondok modern tersebut, beliau senantiasa disambut dengan hangat: disiapkan makanan nan lezat.

Saya pun kecipratan ikut menikmati masakan lezat tersebut. Bagi saya, hal itu merupakan suatu kemewahan luar biasa: mahasiswa “tongpes” mendapat hidangan masakan lezat. Gumam bibir saya kala itu, “Andai tidak bersahabat dengan Cak Amal, mana mungkin saya dapat menikmati ‘kramat gandul’ seperti ini. Alhamdulillâh wasy syukru lillâh.”

Perlu dikemukakan, Pondok Modern Darussalam Gontor adalah sebuah pesantren yang  terletak di Desa Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Gagasan pendirian pondok yang memiliki motto “Berdiri di Atas dan untuk Semua Golongan” ini sendiri bermula dari Kongres Ummat Islam di Surabaya pada 1345 H/1926 M. Kala itu, kongres memutuskan untuk mengirim wakilnya pada pertemuan umat Islam di Makkah, Arab  Saudi. Ternyata, tidak mudah untuk mendapatkan wakil yang menguasai bahasa Arab dan Inggris. Akhirnya, dikirim dua orang utusan. Yaitu HOS Tjokroaminoto yang menguasai  bahasa Inggris dan K.H. Mas Mansur yang menguasai bahasa Arab.

Peristiwa itu memicu tiga bersaudara, K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani dan  K.H. Imam Zarkasyi, yang  kemudian dikenal  dengan istilah “Trimurti”, bersepakat  untuk  membangun kembali pondok pesantren peninggalan ayah mereka, Kiai Raden Santoso Anom Besari, seorang keturunan penyebar Islam di daerah Ponorogo dan  Madiun: Kiai Ageng Hasan Bashari atau Besari, seorang kiai yang menantu Susuhunan Pakubuwono II.

Pesantren baru yang mulai dibuka pada Senin Kliwon,12 Rabi‘ Al-Awwal 1345 H/20 September 1926 M ini memiliki format baru yang berbeda dengan pesantren   tradisional. Format baru itu sebagai berikut: mempertahankan sebagian tradisi salaf dan mengadopsi lembaga pendidikan modern di luar negeri seperti Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, yang terkenal dengan kedalaman ilmu-ilmu keislaman dan wakafnya yang luas, Pondok Sanqith di Afrika, yang terkenal dengan kedermawanan dan keikhlasan para pemimpinnya, Universitas Aligarh di India yang terkenal dengan filsafat  dan sistem pendidikan modernnya dan Taman Pendidikan Santiniketan ala  Rabindranath Tagore di India yang terkenal dengan kedamaian dan kesederhanaannya.

Kini, kita kembali pada kisah Cak Amal.

Selepas kami kembali ke Tanah Air, saya langsung bermukim di Jawa Barat. Hingga kini. Sedangkan Cak Amal, tentu saja, kembali ke Gontor. Untuk mengabdi pada Pondok Modern Darussalam Gontor.

Kemudian, selama sekitar 25 tahun, kami tidak bersua. Sama sekali. Kami  bertemu kembali selepas saya mulai merintis di Bandung Pesantren Nun, pada 2008, sebuah pesantren mini yang tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Pondok Modern Gontor dengan “anak-anak” dan “cucu-cucunya”. Sejak itu, saya dan istri kerap sowan ke Gontor: untuk menimba ilmu dan pengalaman dalam pengelolaan pesantren. Seperti halnya ketika masih muda usia, Cak Amal tetap tidak berubah, meski kini telah menjadi  seorang kiai, rektor dan pimpinan pondok modern: ramah, periang, suka bercanda dan hidup sederhana.

Cak Amal, menurut saya, dapat dikatakan sebagai profil seorang kiai Pondok Modern Darussalam Gontor: tawadhu, berwawasan luas, suka bersilaturahmi, hidup sederhana, dan ikhlas dalam mengabdi kepada masyarakat. Dan, pada kesempatan ini, secara khusus, kepada Cak Amal, saya hanya dapat mendoakan, “Matur nuwun, Cak Amal, atas segala kebaikan njenengan selama ini. Kami senantiasa mendoakan njenengan dan keluarga, semoga njenengan dimudahkan dan dilancarkan dalam menerima amanah baru: sebagai salah seorang pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Dan, kiranya Allah SWT. senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya kepada njenengan serta menerima amal dan kebaikan njenengan.”

Amin ya Rabb al-‘alamin.”