Mengenal “Bintang dari Timur” dari Negeri Piramid Ummu Kultsum

Mengenal “Bintang dari Timur” dari Negeri Piramid Ummu Kultsum
Ummu Kultsum

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

Thala’al badru ‘alainâ

Min Tsaniyyatil Wadâ’

Wajabasy-syukru ‘alainâ

Mâ da’â lillahi dâ’

“Mas. Itu suara Ummu Kultsum, ya?” tanya istri saya suatu pagi, selepas melaksanakan shalat Subuh. Saat itu, ia mendengar lagu indah dari album “Al-Tsulatsiyyah Al-Muqaddasah”. Dari laptop yang saya sambungkan ke sebuah tape compo.

“Ya. Kenapa?” jawab saya. Penasaran.

“Lagu itu kok menggetarkan hati saya,” jawab istri saya. “Lagu itu indah sekali. Apalagi diiringi orkestra. Bolehkah lagu itu saya pakai untuk mengiringi sebuah acara yang akan digelar 1 Muharram nanti?”

“Alhamdulillah,”, gumam pelan bibir saya, mendengar ucapan ia yang demikian. Tidak biasanya ia menyenangi lagu-lagu yang disenandungkan Ummu Kultsum. Karena itu, tentu saja, saya segera mengizinkan ia untuk menjadikan lagu-lagu Ummu Kultsum untuk acara tersebut.

Di sisi lain, sejatinya istri saya tahu, merupakan kebiasaan saya, ketika sedang menulis atau membaca buku, senantiasa diiringi bacaan Alquran atau lagu-lagu. Kebiasaan itu telah tumbuh semenjak saya menimba ilmu di Yogyakarta antara 1972-1977.

Kemudian, ketika saya menimba ilmu di Mesir antara 1978-1984, kegemaran mendengarkan bacaan Alquran kian membara. Kala itu, pemerintah Mesir (lewat Radio Mesir, Shaut Al-Qahirah) menyediakan satu channel khusus selama 24 jam untuk program Alquran. Selain mendengarkan bacaan Alquran, kesenangan saya mendengarkan lagu-lagu kian membara karena hampir setiap hari senantiasa mendengarkan lagu-lagu yang disiarkan oleh Shaut Al-Qahirah sepanjang 24 jam. Sejak itulah, saya mulai menggandrungi lagu-lagu yang disenandungkan Ummu Kultsum. Kegandrungan itu, ternyata, tidak pernah sirna. Hingga saat ini.  

Siapakah Ummu Kultsum? Bagaimanakah perjalanan hidupnya?

‘Penyanyi Badui”

Penyanyi, penulis lagu, dan aktris tenar asal Mesir ini lahir pada Rabu, 18 Shafar 1322 H/4 Mei 1904 M di Soumale, dekat Tammay Al-Zahayra, Simbillawain, Daqahliyah, Mesir. Tanggal kelahiran putri pasangan suami-istri Syeikh Ibrahim Al-Sayyid Al-Baltaji (meninggal 1932 M), seorang Imam sebuah masjid desa, dan Fathmah Al-Maliji (meninggal  1947 M) ini memiliki beberapa versi. Pemerintah Mesir pun memberikan dua tanggal lahir: Sabtu, 17 Rajab 1316 H/31 Desember 1898 M dan Sabtu, 23 Syawwal 1322 H/31 Desember 1904 M. Ia adalah anak bungsu dengan dua saudara: Sayyidah dan Khalid.

Seperti halnya yang biasa dilakukan para petani  Mesir lainnya kala itu, kehadiran bayi itu disambut kedua orang tuanya dengan iringan doa. Bayi mungil itu mereka beri nama Fathimah, nama salah seorang putri tercinta Rasulullah Saw. Namun, kemudian mereka ganti menjadi Ummu Kultsum, juga nama salah seorang istri Rasulullah Saw. Selepas si anak menginjak umur sekitar dua tahun, sebagai  keluarga Muslim yang taat, sang ayah mengajarinya menghapal Alquran dan hadis-hadis Nabi Saw. Di samping itu,  sang ayah juga kerap menuturkan kisah-kisah dan puisi-puisi keislaman yang terkenal. Kemudian, ketika berusia sekitar lima tahun, ia memasuki kuttâb, surau ala Timur Tengah. Untuk mengaji Alquran. Selain itu, ia juga mulai menimba ilmu di sekolah desa. Selama sekitar tiga tahun.

Di sisi lain, sejak kecil, penyanyi yang mendapatkan sebutan “Kawkab Al-Syarq” (Bintang Timur) ini telah menunjukkan bakat menyanyinya yang luar biasa: suatu hari, sebuah keluarga di kampung tetangga mengkhitankan anak  lelaki mereka. Untuk meramaikan pesta itu, mereka mengundang sekelompok penyanyi. Seperti halnya keluarga-keluarga lain di kampung Tammay Al-Zahayra, keluarga Ummu Kultsum ikut menonton. Ketika para penyanyi sedang beristirahat, para penontong diberikan kesempatan untuk menyumbangkan suaranya. Ummu Kultsum (kala itu baru berumur tujuh tahun) pun memberanikan diri maju ke depan. Ternyata, tembangnya mampu memukau para penonton. Melihat bakatnya yang luar biasa, segera ia direkrut rombongan penyanyi itu. Dengan cepat namanya pun mencuat.

Segera pula, bakat Ummu Kultsum “tercium “ oleh seorang pemetik ‘ûd (kecapi Arab) tenar di Kairo kala itu, Zakariya Ahmad. Tanpa membuang waktu, Zakariyya Ahmad mengundang Ummu Kultsum ke Kairo. Namun, undangan ke Kairo itu baru diterima Ummu Kultsum pada 1341 H/1923 M. Itu pun dari seorang pemetik ‘ûd lain: Amin Beik Al-Mahdi. Pemetik ‘ûd terakhir itulah yang mengenalkan Ummu Kultsum ke lingkungan budaya di Kairo pada 1344 H/1926 M.

Selepas berada di Kairo, Ummu Kultsum segera mendapat tempat terhormat. Apalagi, selepas ia menandatangani kontrak dengan Gramaphone Records. Kini, berbeda dengan sebelumnya ketika tampil di pentas (dengan mengenakan celana dan bergelang kaki, sehingga ia disebut “penyanyi Badui”), ia tampil lebih feminin. Selain itu, ia juga tak jemu menimba ilmu tentang musik. Lewat guru-guru pribadi,  karena kala itu kaum wanita belum lagi dibolehkan bergabung dengan Klub Musik Timur (Oriental Mucic Club).

Komposisi lagu Ummu Kultsum, kala itu, utamanya tergolong dalam genre musik Arab klasik, menggunakan iringan orchestra. Genre ini populer di Mesir dan Tunisia. Berbeda dengan genre Hadrami yang rancak dan cepat dan berkembang di Yaman dan negara-negara Semenanjung Arab. Komposisi lagu-lagunya, biasanya, dimainkan dengan tempo lambat dan mendayu-dayu.

Segera, penyanyi yang suaranya dikagumi pula Maria CallasJean-Paul SartreMarie LaforêtSalvador DalíNico Bono, dan Led Zeppelin ini berkenalan dengan Ahmad Rami, seorang pensyair terkemuka Mesir. Kelak, sang  pensyair menggubah 137 lagu untuk sang penyanyi. Dari sekitar 300 lagu yang pernah ia sajikan.

Tidak hanya itu. Ahmad Rami juga “mengenalkan’ kepada Ummu Kultsum sastera Perancis (yang pernah ia kaji selama menjadi mahasiswa di Universitas Sorbonne, Paris) dan sastera Arab. Selain itu, Ummu Kultsum juga dikenalkan dengan seorang virtuoso dan komposer, Muhammad Al-Qasabji. Sang komposer itulah yang mengenalkan Ummu Kultsum dengan lingkungan Istana Teater Arab. Begitu penampilan pertamanya di istana itu berhasil, pada 1351 H/1932 M dan atas dukungan Al-Qasabji, namanya pun menjadi berkibar. Sehingga, tak lama kemudian, berbagai undangan untuk tampil di lingkungan istana di Mesir. Juga, dari berbagai kota di Dunia Arab: Damaskus, Baghdad, Beirut, dan Tripoli.

Penyanyi Para Raja dan Pangeran

Di sisi lain, sekitar tahun-tahun 1930-an, Ummu Kultsum mulai menghadapi masalah kesehatan dirinya. Ia mulai kerap sakit, karena persoalan hati dan empedunya. Sehingga, pada akhir musim panas tahun 1937, tim dokter menyarankan kepadanya untuk menjalani pengobatan di sebuah negara yang memroduksi air mineral. Karena itu, pada musim panas tahun berikutnya, ia beristirahat selama sebulan di Vichy, Perancis. Ketika kembali ke Mesir, ia menyatakan kesehatannya membaik, meski ia harus menjalani diet. Selain itu, atas saran duta besar Amerika Serikat di Kairo, Ummu Kultsum juga berobat ke negara adikuasa itu. Di sana, ia berobat di Bethesda Naval Hospital, Maryland.

Kemudian, pada 1371 H/1952 M, ketika di negerinya terjadi perubahan rezim pemerintahan dan Kolonel Gamal Abdel Nasser naik ke pentas kekuasaan, penyanyi yang banyak di antara lagu-lagunya digubah oleh Zakariya Ahmad, Bairam Al-Tunisi, Riyadh Al-Sunbathi, dan Ahmad Syawqi ini pernah sempat dilarang tampil di atas pentas. Selain itu, sejumlah anggota Kelompok Perwira Bebas melarang  peredaran lagu-lagunya dari radio. Dengan alasan, Ummu Kultsum termasuk kategori “penyanyi para raja dan pangeran”. Apalagi, ia pernah menerima penghargaan dari Raja Farouk, raja Mesir yang digulingkan Kelompok Perwira Bebas tersebut lewat Revolusi Juli 1952.

Mendengar larangan demikian, Gamal Abdel Nasser marah besar. “Apa kalian gila? Apa kalian menginginkan bangsa Mesir balik memusuhi kita?” bentak sang kolonel yang kala itu sebagai tokoh Kelompok Perwira Bebas tersebut, kepada para sejawatnya dari Kelompok Para Perwira Bebas. Ia pun langsung mencabut larangan itu. Ini karena rezim yang baru berkuasa itu menyadari pengaruh penyanyi yang memiliki ciri khas: dua atau tiga lagu ia senandungkan selama sekitar enam jam (selepas memasuki masa lanjut usia, lama lagu-lagunya diperpendek menjadi selama sekitar satu hingga tiga jam).

Memang, penyanyi yang bila sedang in action selalu memegang sapu tangan dan kemudian juga mengenakan kaca mata tebal  ini (akibat kerap diterpa cahaya lampu yang sangat menyilaukan di panggung) begitu memukau sederet penguasa di Timur Tengah. Presiden Aljazair, Chadli  Benjedid, misalnya, menjadikan Ummu Kultsum sebagai penyanyi paling favorit baginya. Malah, untuk menyemarakkan kebijaksanaan “Pintu Terbuka” yang ia gelar, Benjedid tak segan-segan memilih salah satu lagu Ummu Kultsum, A‘thinî Hurriyati (Berilah Aku  Kebebasan), sebagai lagu wajib.

Dua tahun selepas terjadinya Revolusi Juli 1952, penyanyi yang pernah gagal dalam masalah perkawinan ini menikah dengan seorang dokter bernama Hassan Al-Sayyid Al-Hefnawi. Namun, aktivitasnya dalam dunia tarik suara tetap berlangsung tanpa rintangan. Maka, pada tahun 1955, atas jasa-jasanya dalam memromosikan kebudayaan Mesir dan Arab, Ummu Kultsum memeroleh “Medali Cedar” dari pemerintah Lebanon, “Medali Kebangkitan” dari Jordania”, dan penghargaan lain dari pemerintah Suriah.

Di sisi lain, selain lagu-lagunya pernah dilarang, Ummu Kultsum dan timnya pernah mengalami kejadian menarik ketika ia tampil di L’Olympia, sebuah venue konser di Paris, Perancis untuk tampil dua kali di tempat tersebut. Konser itu dirancang sebelum meletusnya Perang 6 Juni 1967 M. Nah, ketika perang itu meletus, pihak Mesir mengira konser itu akan dibatalkan. Ternyata, Ummu Kultsum meminta, konser itu tetap dilangsungkan. Berkenaan dengan kejadian tersebit, Said Hekal, seorang musisi yang mendamping sang maestro sejak 1959 M hingga berpulang, dalam Majalah Courrier de l’Atlas, menuturkan:

“Acara yang paling tidak pernah saya lupakan adalah dua konser yang diadakan di L’Olympia, Paris. Keputusan untuk tampil dalam konser di Prancis dirancang jauh sebelum Perang Enam Hari Juni 1967. Ketika perang itu terjadi, kami semua berpikir, konser  itu tentu akan dibatalkan. Namun, Ummu Kultsum berpikir  lain: konser itu justru merupakan kesempatan yang baik untuk disajikan di seluruh dunia, dalam rangka mengumpulkan dana yang akan diserahkan pada Angkatan Bersenjata Mesir. Untuk tujuan ini, kami pergi ke Tripoli, Beirut, Damaskus, Baghdad, dan semua kota besar Arab. Dalam perjalanan ke Paris, Direktur L’Olympia memperingatkan kita bahwa mungkin saja akan ada masalah yang diciptakan kaum Zionis. Ia telah menerima banyak ancaman. Ummu Kultsum tidak peduli. Kami sendiri sangat tegang.

Ketika tirai dibuka, kami semua terkejut. Ternyata, teater penuh sesak. Di antara hadirin ada banyak orang Yahudi Arab dan Perancis. Musik ternyata mengalahkan konflik politik. Semua mengagumi Umm Kultsum. Hingga pun jika mereka tidak mengerti arti liriknya! Menurut saya, hal ini sangat menyentuh hati. Saya ingat, saya melihat Charles Aznavour dan Enrico Massias termasuk di antara para hadirin. Malah, Presiden Charles de Gaulle pun mengirim telegram untuk memberikan ucapan selamat kepadanya.

Ummu Kultsum meraih kesuksesan ketika tampil di sana. Sehingga, ada seorang penonton Franco-Aljazair yang, karena terlalu mengaguminya, melompat ke atas panggung, memegangi dan mencium kakinya. Ummu Kultsum pun jatuh. Namun, hal itu justru membuat ia tertawa dan mengejek orang selama lagu berikutnya.

Meninggalkan Olympia, ternyata di luar gedung ada sepuluh kali lebih banyak orang di luar daripada di dalam aula. Mereka kehabisan tiket. Namun, mereka masih berharap untuk melihat sang penyanyi. Kerumunan serupa juga “mewarnai” konser kedua. Sehingga, polisi pun dikerahkan dan ada di mana-mana. Saya menjadi sadar, musik dapat menyelesaikan banyak perselisihan antarbangsa. Ummu Kultsum berhasil menyatukan orang-orang Arab. Satu hal yang baik agama, bahasa, ataupun politisi tidak pernah berhasil melakukannya.”

Prosesi Pemakaman yang Luar Biasa

Sejak 1387 H/1967 M, istri dr. Hassan Al-Hefnawi, seorang dokter spesialis penyakit kulit, ini menderita radang ginjal (nephritis).

Lima tahun kemudian, pada Mei 1972, dr. Hassan Al-Hefnawi membawa istrinya ke London, Inggris. Tepatnya ke The Imperial Hospital. Tujuan mereka ke rumah sakit itu adalah untuk memeriksakan gejala sakit yang diderita Ummu Kultsum. Selepas menjalani serangkaian pemeriksaan, mereka pun pulang. Selama dalam perjalanan, wajah mereka berbinar-binar. Sebab, berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, penyakit yang diderita Umm Kultsum tidak terlalu membahayakan. Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Ketika pasangan suami-istri itu tengah berada di lift hotel tempat mereka menginap, tiba-tiba Umm Kultsum jatuh terkulai.

Sebagai seorang dokter, dr. Hassan Al-Hefnawi segera memberikan pertolongan pertama. Tak lama kemudian, penyanyi kondang itu pun “terjaga” dari pingsan yang ia alami. Sejak itu, ia selalu dalam keadaan antara sehat dan sakit.

Penyanyi yang, meminjam ungkapan Virginia Louise  Danielson dalam Harvard Magazine, “memiliki keindahan suara seperti suara Joan Sutherland atau Ella Fitzgerald, daya pikat terhadap publik seperti daya pikat yang dimiliki Eleanor Rosevelt, dan para penggemar seperti para penggemar Elvis Presley” ini berpulang di Kairo pada Senin, 21 Muharram 1395 H/3 Februari 1975 M. Lagu-lagunya, antara lain, adalah Aghadan Alqâk, Alf Lailah wa Lailah, Arûh li Min, Al-Athlâl, Amal Hayâti, Ba‘îd ‘Annak, Al-Hub Kulluh, Inta Al-Hub, Inta ‘Umrî, Hâdzihi Lailatî, Hadîts Al-Rûh, dan Wulid Al-Hudâ.

Berkenaan dengan prosesi pemakaman penyanyi kondang ini, diantar sekitar dua juta orang, Virginia Louise  Danielson, dalam sebuah tulisannya berjudul “Umm Kulthum: An Outline of Her Life”, menuturkan:

“Prosesi pemakamannya semula akan diadakan di Masjid ‘Umar Makram di Kairo pusat, tempat awal prosesi pemakaman para Muslim kondang di kota itu. Dari sana, jenazah itu akan dibawa oleh para pembawa jenazah, untuk jarak pendek, ke kendaraan yang akan membawanya ke tempat peristirahatan terakhir. Ketika pihak-pihak yang bertanggung jawab menyadari, ternyata jumlah pelayat yang berencana datang dari luar Mesir demikian banyak, merekapun menunda prosesi pemakaman selama dua hari. Ini bertentangan dengan aturan utama pemakaman jenazah yang berlaku bagi kaum Muslim. Namun, hal itu  bukan hal yang tidak biasa bagi orang-orang terkenal.

Ternyata, kehadiran khalayak ramai Mesir jauh melebihi jumlah yang diantisipasi. Mereka benar-benar memenuhi jalan-jalan di Kairo. Prosesi pemakaman pun tidak berjalan sesuai rencana. Jutaan pelayat Mesir mengambil alih jenazah itu dari pundak para pembawa resmi jenazah dan memikulnya.  Secara bergantian. Selepas dipikul selama tiga jam, melalui jalan-jalan di Kairo, akhirnya jenazah itu sampai ke Masjid Sayyid Husain, yang diyakini sebagai salah satu tempat favorit Ummu Kultsum. Di sana, Imam masjid mengulangi doa penguburan jenazah. Juga, meminta para pengangkutnya untuk membawanya langsung ke tempat pemakamannya.  Sang Imam mengatakan, Ummu Kultsum adalah seorang perempuan salehah yang ingin dimakamkan segera, sesuai dengan praktik Muslim. Akhirnya, prosesi pemakaman pun rampung.”

Ya, selepas sekitar 36 tahun menghibur masyarakat Mesir pada khususnya, dan masyarakat Timur Tengah pada umumnya, akhirnya tokoh yang mendapat sebutan “Sitt” (Ibu) ini kembali kepada Sang Khalik. Jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Bassatin, di Madinah Qarafah, Kairo, tidak jauh dari Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi. Dengan dihadiri sekitar dua juta pengagumnya. Ya, dua juta pengagumnya! Padahal, ia bukan seorang presiden. Juga, bukan seorang raja dan seorang petinggi negara.

Luar biasa!